
"Maafkan aku, seharusnya aku memang tak pernah muncul lagi. Seharusnya aku memang menghilang jauh dari keluarga Tante."
"Tante?"
"Iya Tante. Aku akan pergi sejauh mungkin dari kalian. Aku berjanji tidak akan menampakkan diriku lagi. Jadi, Tante tidak usah khawatir lagi," ucap Raisa dengan nada yang masih sesegukan.
"Enak saja kamu pergi setelah membuat kekacauan ini, Raisa! Tidak, aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi lagi!"
Kali ini Mama Ola tak mengizinkannya, padahal niat awalnya memang seperti itu, tapi dalam hati kecilnya ia tak mau kehilangan anak perempuannya lagi.
"Tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini. Semuanya hancur Tante. Nama baikku, mentalku, tak ada yang bisa aku perjuangkan lagi. Semua orang sudah menganggap aku sebagai wanita penggoda. Kalau terus disini, bukannya bertambah baik kondisiku, aku jadi semakin tak layak untuk si kembar, huhu," jelas Raisa dengan tangannya yang gemetaran.
"Raisa! Aku membiarkan kamu pergi dari keluargaku, berharap kamu bahagia. Bukan jadi semakin lemah seperti ini. Jangan dengarkan apa yang orang katakan padamu! Kamu kuat! Kamu sudah berjuang sampai sekarang, jangan menyerah hanya karena perkataan orang-orang! Raisa yang aku kenal adalah orang yang keras kepala dan kuat meskipun hatinya memang rapuh."
Raisa menangis lagi setelah mendengarkan ucapan Mama Ola. Ia merasa mendapatkan dukungan. Ia dia harus kuat, ia dia tak boleh menyerah. Dia sudah berjuang hampir seumur hidupnya. Kalau sekarang dia menyerah, itu artinya dia kalah dengan perkataan orang-orang padanya.
"Terima kasih Tante, karena perkataan Tante barusan, aku sadar, kalau aku memang harus jadi lebih kuat. Bukan hanya untuk si kembar melainkan untuk diriku sendiri. Maaf, maafkan aku yang dulu pernah menyakiti hati Tante. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya, hanya ... "
Belum juga menyelesaikan ucapannya, Mama Ola sudah memotong pembicaraannya. Bagi Mama Ola panggilan 'Tante' dari Raisa terasa aneh di telinganya.
"Tante lagi, tante lagi, aku tidak suka panggilan itu, Ca."
Raisa merasa bahagia dalam tangisnya. Panggilan Ca, yang dulu selalu disebut oleh Mama Ola kini terdengar lagi. Ia jadi berharap hubungannya dengan Mama Ola akan kembali seperti dulu, walaupun itu hanya keinginannya saja.
"Mama?"
Mama Ola terdiam dan tak berkomentar lagi. Seolah-olah wanita paruh baya itu menyetujui panggilan dari Raisa.
"Boleh aku memeluk mama lagi?" pinta Raisa.
Tanpa menjawab, Mama Ola langsung merentangkan tangannya seolah menunggu pelukan dari Raisa. Keduanya pun saling berpelukan lagi dengan hangat dan sesekali Mama Ola mengusap puncak kepala Raisa. Rasanya, sesuatu yang hilang dalam dirinya kini telah kembali lagi. Hatinya yang terasa hampa, kini tak sehampa ketika kehilangan Raisa.
Untuk beberapa saat pelukan pun terlepas.
"Sekali lagi, maafkan aku Ma sudah menyakiti hati Mama."
"Nggak, nggak, bukan salah kamu, kita hanya salah paham karena tak saling bicara. Kamu tidak mengatakan prinsip kamu yang dulu tak mau memiliki anak ke mama dan mama sendiri yang terlalu memaksa kamu untuk segera memberikan cucu untuk kami. Seandainya semua itu dibicarakan di awal, mungkin semua ini tak akan terjadi. Mama pun tidak akan tega membiarkan kamu berjuang melawan rasa sakitmu di kala kamu akan menghadirkan manusia kecil dari perutmu. Kita semua salah disini. Tapi yang lebih salah adalah si bodoh Edgar! Dia dengan bodohnya malah membiarkan kamu pergi semudah itu, padahal dirinya pun tak mampu kehilangan kamu."
Ya beginilah Mama Ola, wanita tua itu menyalahkan Edgar atas semua masalah yang terjadi selama bertahun-tahun ini.
"Haha, iya benar. Inilah kenapa kamu lebih pantas jadi anak kandung mama daripada Edgar maupun Elsa. Kamu seperti cerminan diri mama waktu muda. Terima kasih sudah berjuang sampai saat ini. Terima kasih sudah menghadirkan si kembar ke dunia ini. Mama tahu pasti sangat sulit bagi kamu. Kamu wanita hebat dan kuat. Terus seperti ini Ca. Maafkan mama yang sempat membenci kamu."
"Iya Ma, semuanya memang sulit buatku di awal, tapi seiring berjalannya waktu, rupanya si kembar lah hidupku, penyemangatku bahkan mereka selalu menjaga hatiku. Terkadang aku merasa tak pantas memiliki anak sepintar dan sepengertian mereka."
"Kamu salah, kamu adalah orang yang pantas mendapatkan mereka. Kamu adalah ibu yang baik. Kamu membesarkan dan mendidik mereka dengan sangat baik. Mungkin, mama memang terlihat tak peduli dan tak ingin dekat dengan si kembar. Tapi asal kamu tahu, ketika mama sedang sendirian, mama selalu menangis dan merenungkan apa yang telah mama lakukan pada si kembar. Mama sangat ingin mendekat ke mereka, tapi mereka selalu mengingatkan mama ke kamu yang dimana di saat itu, rasa benci masih menguasai hati mama. Apalagi keras kepalanya mama tak bisa diapa-apakan lagi. Mama ingin memeluk mereka."
"Terima kasih Ma. Terima kasih karena masih menyayangiku."
"Bodoh! Tentu saja aku masih menyayangi kamu! Mana ada seorang ibu yang tak menyayangi anaknya sendiri! Kamu itu anakku!"
Raisa menangis lagi, tapi bukan tangis karena sedih melainkan bahagia. Rasa rindunya akan pelukan dan kasih sayang Mama Ola sudah terobati sampai lunas bahkan lebih. Rasanya tak ada yang lebih ia inginkan lagi selain ini. Baginya, Mama Ola adalah orang yang berarti di hidupnya sebelum Edgar. Kalau ditanya siapa yang paling disayang oleh Raisa di antara Mama Ola dan Edgar. Tentu saja jawabannya adalah Mama Ola. Karena dari Mama Ola dirinya tahu seperti apa kasih sayang seorang ibu yang tak pernah ia dapat dalam kehidupannya sebelum bertemu Edgar.
"Setelah ini, pokonya kamu tak boleh menghilang lagi! Kalau perlu, kamu tinggal lagi saja di rumah kita, Ca!"
Raisa menggeleng.
"Aku tidak akan menghilang Ma, aku ada disini, kalau Mama ingin bertemu denganku dan si kembar, mama bisa berkunjung kesini."
Mama Ola mendengus sebal. Dia seolah tak suka dengan jawaban Raisa. Padahal sebelumnya, Mama Ola begitu benci, tapi kini ia malah takut kehilangan lagi. Begitulah perasaan manusia, cepat berubah, dan suka tak mengerti perasaan sendiri. Di mulut berkata iya, tapi di hati berkata tidak.
"Kamu akan kembali bersama Edgar, kan? Mama tahu dia laki-laki bodoh, tapi bodohnya karena begitu mencintai kamu, Ca. Kalian akan kembali kan? Iya kan? Makanya Edgar memutuskan untuk membatalkan pernikahan dengan Tamara?"
Mendengar nama Tamara, Raisa jadi merasa bersalah kembali dan Mama Ola melihat itu.
"Jangan merasa bersalah, ini bukan salah kamu, tapi anak bodoh mama. Mengenai Tamara, dia anak yang baik, Tamara bahkan tak membenci Edgar atau memutus hubungan dengan Mama. Tapi yang namanya bukan jodoh, kita bisa apa. Mungkin jodoh Tamara masih ada di belahan dunia yang lain. Jangan pikirkan. Yang seharusnya kamu pikirkan sekarang hanyalah kebahagiaan kamu dan si kembar."
Di saat Raisa akan menanggapi ucapan Mama Ola, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari Kia dengan nada yang terlihat sedang marah.
"JANGAN SAKITI MAMI KAMI, OMA!"
*
*
TBC