
Di sore itu yang terlihat sedikit mendung, Edgar, Tamara dan si kembar bertemu di sebuah restoran jepang. Si kembar terus memperhatikan wajah Tamara yang begitu cantik mempesona.
"Kia pacar Papi cantik banget. Gimana bisa kita buat Mami dan Papi bersatu?" bisik Mia.
"Hey kamu! Mami kita juga cantik," balas Kia berbisik.
"Iya tahu, tapi ini lebih-lebih dari Mami," ujar Mia lagi.
"Twins, kalian sedang membicarakan apa?" tanya Edgar yang membuat keduanya langsung saling menjauh.
"Nggak kok Pi," jawab Kia.
"Hai," sapa Tamara berusaha untuk akrab.
Si kembar pun menyapa balik Tamara dengan senyuman juga. Tamara memperkenalkan dirinya sebagai calon istri papi mereka dan menyatakan akan jadi mama tiri keduanya.
"Kia aku takut," bisik Mia lagi.
"Kenapa lagi?" tanya Kia.
"Kebanyakan mama tiri itu jahat."
"Kita kan nggak tinggal sama papi jadi tenang aja. Kalaupun nantinya Tante ini jahat, kita bisa mengadu ke mami."
"Oh, benar juga."
Keduanya langsung menikmati makanan yang tersaji di atas meja. Tak banyak interaksi antara si kembar dan Tamara, karena si kembar sendiri yang selalu menjawab dengan singkat.
Makan pun selesai, Edgar mengantarkan si kembar untuk pulang selagi Tamara masih menunggu di restoran. Setelahnya dia kembali lagi ke restoran.
"Gar, sepertinya anak-anak kamu tidak begitu menyukai aku."
"Perasaan kamu aja itu," jawab Edgar.
"Tapi terkadang perasaan ini selalu benar, Gar. Pernikahan kita tinggal satu bulan lagi."
Edgar jadi terdiam mengingat waktu yang tersisa hanya sebentar. Dia ingin mengatakan perihal keinginannya di hadapan Tamara sekarang, tapi ternyata Tamara seperti tak mau mendengarkan apapun.
"Aku mau bicara hal penting Tam. Aku harap kamu siap mendengarnya."
"Jangan sekarang, aku sibuk. Aku harus pergi ke klinik untuk perawatan."
Tamara langsung beranjak pergi dari hadapan Edgar membuat Edgar hanya bisa menghela napasnya.
"Padahal aku ingin bilang untuk membatalkan pernikahan ini."
*
*
Di sepanjang jalan, Tamara meneteskan air matanya. Ia tak tahu kenapa dirinya seolah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Edgar. Ia belum siap dan tak akan pernah siap.
Tamara mempercepat laju mobilnya, sampai ia melihat wanita yang mirip sekali dengan mantan istri Edgar yang dilihatnya di rumah sakit waktu itu. Ia pun memberhentikan mobilnya dan turun dari sana menghampiri Raisa yang baru saja akan memakai helm nya.
"Mba Raisa?" panggil Tamara.
Awalnya Raisa belum yakin kalau yang dihadapannya adalah Tamara. Apalah dirinya yang hanya orang biasa, yang tiba-tiba saja dikenali oleh Tamara.
"Aku Tamara calon istrinya Edgar, mantan suami dari Mba Raisa."
Setelahnya Raisa baru yakin.
"Ya? Ada urusan apa?" tanya Raisa sambil meletakkan helmnya kembali di atas motornya.
"Bisa kita bicara di dalam supaya lebih nyaman?" pinta Tamara.
Raisa tak mengiyakan ajakan Tamara itu karena kalau ketahuan oleh Rani dan Kendra, pastinya dirinya akan dicecar banyak pertanyaan.
"Kita bicara di tempat lain," jawab Raisa.
"Baiklah, pilih saja tempatnya, aku akan mengikuti Mba dari belakang."
*
*
"Langsung saja, apa yang ingin kamu bicarakan? Jujur aku tak mengerti kenapa kamu sampai mendatangiku. Padahal kita tak saling mengenal satu sama lainnya."
"Memang benar, kita tak saling mengenal. Tapi Edgar mengenal Mba. Aku baru saja bertemu dengan anak-anak Mba."
"Ya, aku tahu, karena Edgar meminta izin dariku."
Tamara tersenyum kecut mendengarnya. Rasanya hatinya begitu sakit mengetahui Edgar bisa sering berkomunikasi dengan mantan istrinya walaupun itu hanya urusan anak-anak mereka.
"Jujur saja deh Mba, apa yang sedang Mba rencanakan? Kenapa Mba tiba-tiba muncul di saat aku dan Edgar sedang merencanakan sebuah pernikahan. Kenapa Mba nggak muncul dari dulu aja, sebelum aku bertemu Edgar atau setelah aku menikah dengan Edgar."
Raisa kini sadar ke arah mana pembicaraan Tamara. Inilah yang sebenarnya malas ia hadapi.
"Sejujurnya, aku memang belum ingin mempertemukan mereka. Tapi aku bisa apa kalau semesta menginginkannya? Mau aku berusaha sekuat apapun, kalau mereka memang sudah ditakdirkan untuk bertemu kita tak akan bisa mencegahnya. Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan sekarang. Tapi kamu salah, kalau berpikir aku berencana untuk menggagalkan pernikahan kamu dan Edgar. Kamu tidak usah cemas dan takut akan kehadiranku. Aku bukan siapa-siapa, aku hanya masa lalu Edgar. Kamulah yang akan jadi masa depannya."
Entah kenapa meski sudah mendengar langsung jawaban dari Raisa, hati Tamara masih ragu. Ia ragu dengan perasaan Edgar sendiri.
"Apa yang sebetulnya kamu takutkan? Kamu dan aku sangat jauh berbeda. Kamu kaya sementara aku tidak. Kamu cantik dan masih muda sementara aku kebalikannya. Kamu terkenal dan aku hanya orang biasa. Sangat tidak cocok untuk dijadikan perbandingan."
"Tapi kamu adalah mantan istri Edgar, Mba. Kalian memiliki banyak kenangan bersama."
"Oh, jadi yang kamu takutkan bukan karena kehadiranku yang kamu kira akan menghancurkan rencana kalian tapi kamu takut kalau kehadiranku akan membuat Edgar bimbang akan perasaannya. Kamu takut kalau Edgar tak mencintai kamu dan masih mencintai aku, begitu?"
Tamara langsung terdiam seolah apa yang dikatakan Raisa memang benar.
"Kamu diam, berarti ucapanku benar."
Keduanya tampak terdiam begitu lama sampai Raisa memulai pembicaraan lagi.
"Kisahku dan Edgar sudah selesai bertahun-tahun lamanya. Kalaupun banyak kenangan bagi Edgar, itu tetaplah masa lalu. Tak ada yang perlu kamu takutkan. Edgar bodoh kalau sampai menyia-nyiakan kamu yang lebih segalanya dariku. Aku pamit pergi, karena anak-anak pasti menungguku di rumah."
Raisa benar-benar pergi dari sana. Tamara masih terus diam. Rasanya meski Raisa telah menyakinkan dirinya untuk tidak takut, hatinya masih saja gelisah.
"Ayolah Tamara, kamu harus percaya, kalau Edgar sangat mencintai kamu. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia mengajak kamu untuk menikah. Ya, begitu Tamara."
*
*
Edgar duduk di kursi yang ada di dekat kolam renang. Laki-laki itu terus merenungkan pilihannya. Ia sudah mantap untuk memilih Raisa. Tapi ia masih bingung bagaimana menjelaskan ke Tamara. Ia tak mau Tamara menyalahkan Raisa atas keputusan yang dia pilih sendiri. Edgar tak mau, Raisa disalahkan atas apa yang tidak dilakukannya.
"Kamu kenapa Gar? Sepertinya banyak yang sedang kamu pikirkan. Coba ceritakan ke Oma."
"Oma, sepertinya aku baru sadar atas keputusanku yang salah di masa lalu."
"Kamu baru menyadari itu sekarang? Kenapa? Apa karena kamu akhirnya tahu siapa yang sebenarnya kamu cintai selama ini?"
Edgar langsung terdiam setelah mendengarkan pertanyaan dari Oma Deli yang begitu tepat.
"Oma, kenapa Oma bicara begitu?"
"Jangan mengelak lagi Gar. Oma tahu kamu masih menyukai Raisa. Bahkan sangat mencintai Raisa. Oma bukannya tidak mau menyadarkan kamu akan siapa yang kamu cintai. Tapi Oma ingin kamu sadar sendiri dan menentukan pilihan itu sendiri. Lantas bagaimana sekarang? Kamu sudah terlalu jauh melangkah Gar."
Edgar menunduk meratapi keputusannya yang selalu saja salah.
"Oma, tapi Raisa memiliki anak denganku. Bukan satu tapi kembar."
Oma Deli begitu terkejut mendengarnya. Lalu ada satu lagi yang ikutan terkejut di balik tirai jendela.
"Apa? Edgar memiliki anak dengan Raisa?!"
*
*
TBC
Ayo ditebak siapa ya kira-kira orang mendengar pembicaraan Oma Deli sama Edgar?