Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 38


Setibanya di rumah, Raisa langsung disambut dengan pelukan oleh si kembar. Mengenai kaki Mia, sudah jauh lebih baik dan Mia sudah bisa berjalan lagi tanpa tongkat karena lukanya sudah kering.


"Mi, tadi kita ketemu sama kekasih papi, dia cantik banget Mi," ucap Mia yang jujur.


Kia langsung memukul lengan Mia dengan tangannya.


"Mami lebih cantik kok," ucap Kia.


Raisa yang mendengarnya hanya tersenyum. Dia sadar kalau Tamara memang lebih segalanya darinya bukan hanya dari paras saja.


"Iya, kekasih papi emang cantik."


"Tapi Mi, kita nggak mau punya mami tiri. Mami kita kan cuma mami. Apa nggak bisa ya, kalau mami bersama dengan Papi lagi?"


Ucapan Mia itu langsung membuat Raisa bersedih. Anak sekecil ini harus dihadapkan dengan masalah orang dewasa.


"Dengarkan Mami, setiap orang itu punya jalan hidupnya masing-masing. Mungkin mami tidak ditakdirkan untuk sejalan dengan papi kalian. Tapi mami dan papi akan tetap memberikan kasih sayang yang utuh untuk kalian. Lagipula, kalau kalian punya mama tiri, itu artinya akan lebih banyak orang yang sayang sama kalian. Bukankah itu bagus?"


Si kembar mengangguk lagi lalu memeluk Raisa kembali. Setelahnya Raisa pergi ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya.


Di dalam kamar mandi dengan guyuran air shower, Raisa menumpahkan kesedihannya dengan tangisnya.


Apa yang dia katakan pada Tamara sudah benar?


Apa pilihan kata yang diucapkannya pada si kembar juga sudah benar dan tak menyakiti hati mereka?


Apa hatinya tidak akan sakit lagi?


Raisa sadar kalau dirinya masih sangat mencintai Edgar. Tapi, dia tak mau egois dengan merusak pernikahan orang lain meski Edgar sendiri yang sudah mengatakan ingin membatalkan pernikahan itu. Tapi, kalau pun dia dan Edgar kembali, semuanya tak akan sama lagi seperti dulu.


Mama Ola pasti masih sangat membencinya. Kata-katanya dulu begitu menyakiti Mama Ola yang tulus menyayangi dirinya. Sejujurnya, Raisa sangat merindukan Mama Ola. Rindu akan hangatnya pelukan itu, rindu bermanja dan menghabiskan banyak waktu bersama dengan Mama Ola. Tapi, semuanya Memnag tak akan pernah sama lagi. Waktu sudah berlalu, pasti rasa sayang Mama Ola padanya pun telah sirna.


Raisa terus mempertanyakan tentang kehidupannya yang selalu tak seperti apa yang diharapkannya. Kenapa seolah-olah hidupnya tak bisa tenang? Kenapa harus selalu ada masalah yang menimpa dirinya? Padahal setelah 8 tahun tak bersama Edgar, Raisa sudah merasa baik-baik saja, merasa sudah meluapkan segalanya di masa lalu, tapi kenapa sekalinya bertemu, hatinya langsung goyah lagi?


"Apa hidupku akan terus seperti rollercoaster?"


*


*


Di kediaman Gautama, semua keluarga tengah berkumpul di meja makan untuk makan malam. Bahkan Elsa dan Fero, suaminya Elsa beserta Jesper pun ada disana juga.


Suasana makan malam terasa begitu tenang sampai Edgar mengeluarkan suaranya membaut suasana disana jadi mencekam.


"Aku ingin membatalkan pernikahanku dengan Tamara."


Semua orang tampak begitu terkejut dengan ucapan Edgar, kecuali Oma Deli yang sudah menduganya.


"Aku tahu, keputusanku ini membuat kalian semua terkejut. Tapi, aku telah sadar kalau aku hanya menyayangi Tamara bukan mencintainya."


"Apa ini semua karena Raisa? Karena Raisa yang memiliki anak dari kamu? Kenapa dia tega sekali membiarkan hidup kamu seperti ini, Gar? Kenapa dia tidak bisa sedikit saja membiarkan kamu bahagia dengan wanita yang lain? Pokoknya mama tidak setuju kalau sampai kamu membatalkan pernikahan dengan Tamara. Apa kurangnya Tamara? Dia begitu mencintai kamu, dia rela menemani kamu dari kamu yang sangat terpuruk di waktu itu, lantas kenapa pada akhirnya kamu malah menyakiti hati Tamara?"


Edgar begitu terkejut ketika Mama Ola tahu perihal anaknya. Padahal ia tak pernah memberitahukan itu ke mamanya. Ia langsung melirik ke Elsa yang mungkin mengatakan itu. Tapi Elsa menggeleng, seolah menjawab bukan dirinya. Dia melirik ke Oma Deli yang mengangkat bahunya seolah mengatakan tak tahu apapun.


"Ma, keputusan aku ini bukan karena Raisa. Tapi karena diriku sendiri. Aku tak mau menyakiti hati Tamara lebih dalam lagi. Lebih baik pernikahan ini tak terjadi, daripada nantinya makan hati. Mengenai anak, aku memang memiliki anak dengan Raisa yang baru aku ketahui. Aku ingin memberikan kasih sayangku sepenuhnya ke mereka. Jadi, aku mohon dukung aku Ma. Dukung keputusanku, dan restui aku lagi untuk bersama Raisa."


"Nggak! Pokoknya mama nggak setuju! Apa kamu tahu keputusan yang kamu ambil ini akan menyakiti banyak hati dan banyak yang harus kamu korbankan?"


"Aku tahu Ma, sangat tahu hal itu. Makanya aku butuh dukungan dari mama dan semua keluarga kita. Aku tak bisa menghadapinya sendiri."


Mama Ola tak mau menanggapi lagi ucapan Edgar. Dia memilih untuk meninggalkan meja makan dan pergi ke kamarnya.


Papa Daniel pun menyusul Mama Ola yang mungkin masih sangat terkejut dengan keputusan Edgar, tapi dirinya akan tetap mendukung apapun yang dipilih putranya. Karena yang menjalani semua itu adalah putranya sendiri.


"Papa akan urus mama, kamu lakukan saja apapun keinginan kamu. Mengenai masalah yang akan ditimbulkan karena keputusan kamu ini, papa akan selalu membantu. Karena papa yakin, papanya Tamara tak mungkin diam saja putri kesayangannya tersakiti. Kamu harus siap menghadapi masalah ke yang akan kamu hadapi ke depannya."


"Terima kasih Pa."


Setelah kepergian Mama Ola dan Papa Daniel, Edgar jadi lemas sendiri. Apalagi melihat Jesper yang menangis karena takut dengan kemarahan Mama Ola.


"Jesper, maafkan Om ya. Tadi Oma bukan marah sama kamu kok. Oma marah sama Om."


"Hu hu hu."


Hanya Isak tangis yang terdengar dari mulut Jesper. Elsa membawa Jesper pergi dari sana. Oma Deli pun ikut pergi bersama dengan Elsa dan Jesper. Kini hanya tersisa Edgar dan Fero disana.


Fero mendekat ke Edgar dan menepuk pundak kakak iparnya.


"Apapun yang akan terjadi ke depannya, Mas Edgar memang harus tetap siap. Memang tak mudah memilih keputusan seberat ini. Tapi menurutku, keputusan Mas Edgar memang yang terbaik kalau hati Mas Edgar memang lebih condong ke Mba Raisa. Apalagi anak-anak Mas Edgar juga masih membutuhkan sosok ayah. Kalau butuh bantuan apapun, bilang aja Mas. Aku akan siap membantu."


"Terima kasih Fer. Aku kira kamu akan menghakimiku karena keputusan yang aku pilih."


Fero menggeleng. "Mas Edgar pasti sudah mempertimbangkan segalanya. Kalau begitu aku pergi menyusul Elsa dulu Mas."


Kini hanya Edgar seorang yang ada di meja makan. Dia mengacak-acak rambutnya. Dia sedih karena Mama Ola tak mendukung keputusannya. Padahal dulunya Mama Ola begitu menyayangi Raisa, bahkan lebih menyayangi Raisa ketimbang dirinya. Tapi kenapa sekarang tidak?"


*


*


TBC