Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 64


Lagi dan lagi bukan jawaban iya yang muncul dari mulut Raisa, bahkan tak ada jawaban apapun. Karena Raisa langsung pergi begitu saja.


Kekecewaan harus kembali Edgar dapatkan, tapi ia masih belum menyerah. Mungkin saat ini Raisa masih belum percaya padanya. Tapi ia yakin sebentar lagi Raisa akan percaya dan menjawab iya untuk kembali.


Raisa berlari kecil ketika melihat si kembar. Karena hampir tersesat tadi, membuatnya jadi rindu dengan si kembar. Rasa takutnya terlalu besar untuk kehilangan si kembar.


"Mami sudah nggak marah ke Papi lagi?" tanya Mia yang membuat wajah Raisa tersenyum kecut.


Padahal Raisa ingin pertanyaan pertama yang muncul adalah, 'Kok Mami lama banget nggak kesini? Kan kita ingin bermain bersama.' Rupanya itu cuma khayalannya saja.


"Nggak, emang siapa yang marah sih? Tadi Mami liat sesuatu yang menarik. Makannya Mami berjalan menjauh," jawab Raisa agar si kembar percaya.


Sayangnya, si kembar tak semudah itu percaya dengan ucapan Raisa. Bahkan si kembar saling berbisik.


"Mami yang ngajarin kita untuk nggak berbohong, tapi Mami sendiri yang suka bohong. Orang dewasa memang aneh," ujar Mia ke Kia.


"Iya, aku jadi nggak ingin dewasa," sahut Kia.


"Benar, aku juga ingin kecil terus, biar dapat hadiah dan bisa main sepuasnya."


"Apa yang kalian bicarakan sampai harus bisik-bisik gitu di depan Mami?" tanya Raisa yang membaut si kembar saling menjauh.


"Nggak ada kok Mi, cuma obrolan anak kecil aja."


"Em begitu."


Di tempat yang tak jauh dari sana, Mama Ola menduga Edgar gagal lagi untuk merebut hati Raisa kembali. Apalagi, wajah Edgar yang terlihat sangat sedih. Dia pun memukul punggung Edgar sedikit keras.


"Maju! Jangan mundur-mundur! Kamu ini lemah banget jadi laki. Kalau masih ditolak ya berusaha lebih keras lagi supaya diterima. Cinta itu masih Mama lihat dari mata Raisa untuk kamu. Yang perlu kamu berikan hanya kepercayaan pada Raisa kalau kamu memang tak akan melakukan kesalahan yang sama lagi."


"Iya Ma, iya. Aku tahu, cuma kan aku juga berhak untuk menunjukkan rasa sedih dan kecewaku. Aku sadar betul akan kesalahanku."


"Bagus. Pokoknya tenang aja, nanti malam kamu harus bicara dari hati ke hati dengan Raisa. Mama akan membawa si kembar untuk tidur dengan Mama. Awas saja kalau gagal lagi. Mama sudah nggak mau bantu. Kamu harus berjuang sendiri."


Edgar pun manyun karena ia sangat takut dirinya akan gagal lagi. Memakai bantuan keluarganya saja hasilnya belum terlihat, apalagi dia sendirian? Tambah-tambah nggak kelihatan hilalnya.


*


*


Setelah makan malam usai, si kembar dan yang lainnya bermain di depan resort yang penuh dengan salju. Mereka berlomba-lomba untuk membuat boneka salju disana. Si kembar melawan Jesper dan Elsa.


Sementara Papa Daniel dan Mama Ola melihat kebersamaan itu dengan senyuman di bibir keduanya. Lalu Oma Deli yang duduk di kursi jadi tertawa kecil sambil melihat ke si kembar.


"Kamu memang orang yang sudah ditakdirkan untuk jadi pelengkap keluarga ini Ca. Bahkan kehadiran si kembar, membuat semua orang terlihat bahagia."


Berbeda dengan Edgar dan Raisa, keduanya berdiri saling berjauhan. Saling melirik satu sama lain, tapi terlalu malu untuk sampai ketahuan. Sampai tiba-tiba Fero mendekat ke Raisa.


"Si kembar terlihat bahagia ya, Mba? Apa Mba tidak punya keinginan untuk terus membahagiakan mereka? Apa sebelumnya mereka pernah tertawa selepas itu?"


Tiba-tiba Raisa jadi terdiam. Dia tampak memikirkan apa yang ditanyakan oleh Fero. Sepertinya belum, Raisa belum pernah melihat si kembar tertawa selepas itu. Meskipun sehari-hari mereka selalu ceria.


"Kalau belum, itu berarti si kembar sudah tak ada lagi yang mereka khawatirkan. Mereka sudah nyaman bersama keluarga ini. Mungkin Mba nggak pernah sadar, meski tanpa Mba bercerita, seorang anak akan tahu apa yang dirasakan ibunya. Baik itu ibunya sedang sakit, sedih, ataupun bahagia. Mungkin mereka sengaja tak pernah menceritakan itu ke Mba, karena ingin melihat Mba yang bahagia. Mereka nggak ingin melihat Mba bersedih."


Kata demi kata yang diucapkan Fero langsung menusuk ke uluh hatinya. Raisa langsung sadar bahwa dirinya telah salah selama ini. Bukan dirinya yang melindungi si kembar, melainkan si kembar yang melindunginya. Ia merasa sangat bersalah, karena terlalu egois selama ini. Ia berpikir apa yang dia lakukan baik untuk si kembar, ternyata tidak begitu. Si kembar hanya berpura-pura ceria di depannya agar tak menyakiti hatinya dan tak membuatnya bersedih.


Seketika tubuh Raisa merasa lemas dan dia pun jadi terduduk disana.


"Masih ada cara untuk membuat kebahagiaan itu terasa utuh Mba. Kembalilah dengan Mas Edgar. Mungkin Mba belum mempercayai Mas Edgar seutuhnya, tapi setidaknya, biarkan si kembar merasakan keluarga utuh dengan melihat orang tuanya tinggal bersama."


Setelah mengatakan itu, Fero pergi dari sisi Raisa dan berjalan menuju ke Elsa dan Jesper.


"Aku ibu yang buruk! Aku-aku sama sekali tak bisa mengerti perasaan anak-anakku sendiri. Hiks .. maafkan Mami. Maafkan Mami yang terlalu terlambat menyadari ini."


Edgar yang sejujurnya mendengarkan semua apa yang diucapkan oleh Fero sebenarnya setuju dengan ucapan Fero, tapi melihat Raisa menangis, dia jadi kesal sendiri ke adik iparnya itu.


Tanpa persetujuan, Edgar langsung berjongkok di depan Raisa dan menghapus air mata yang berada di pipi Raisa.


Tanpa perkataan apapun, Edgar membawa Raisa ke dalam pelukannya. Dia tak mau membuat Raisa jadi terus merasa bersalah. Dia ingin menangkan Raisa dulu sebelum nanti jadi gilirannya untuk semakin menyadarkan Raisa kembali.


*


*


Malam telah larut, tapi si kembar belum masuk juga ke dalam kamar. Raisa tak ingin membuat si kembar kelelahan meskipun si kembar sangat bahagia menghabiskan waktu bersama dengan keluarga Edgar. Ia hanya bisa menunggu saja di dalam kamar, karena dia tak mau egois lagi dengan membatasi apa yang membuat si kembar bahagia.


Tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka dari luar. Raisa berpikir itu adalah si kembar yang masuk ke dalam kamar. Rupanya, bukan. Yang masuk adalah Edgar.


"Kenapa kamu yang masuk? Mana si kembar?"


"Mama bilang si kembar udah tidur di kamarnya. Dia nggak tega kalau harus memindahkan si kembar. Takutnya si kembar malah terbangun dan menangis ketika bangun."


"Em gitu, ya udah nggak papa," jawab Raisa.


Tapi anehnya, Edgar masih belum keluar juga dari kamarnya.


"Kenapa masih disini? Kamu tidak mau keluar?"


Bukannya keluar, Edgar malah mengunci pintu kamar Raisa yang membuat Raisa membelalakkan matanya.


"Sebenarnya apa mau mu sih Edgar? Jangan kunci pintunya! Gimana kalau malam-malam di kembar ingin masuk?"


"Kamu tanya apa mauku? Aku mau kamu Raisa!"


Glek!


*


*


TBC


Yuk komentar sebanyak-banyaknya guys