Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 43


Oma Deli menghampiri Edgar dan mengelus punggung cucunya. Sedari tadi ia mendengarkan percakapan Edgar dan Mama Ola.


"Oma ... " Edgar langsung memeluk Oma Deli. Ia mengadu tentang Mama Ola.


"Kenapa mama terlihat sangat membenci Raisa Oma? Padahal dulu mereka sangat dekat sekali. Bahkan aku merasa seperti menantu bukan anak kandungnya. Tapi kenapa setelah kami berpisah mama jadi seperti mama tiri?"


Oma Deli melepaskan pelukan Edgar dan menasehatinya.


"Jangan melihat sesuatu dari yang terlihat saja. Terkadang seseorang mampu menyembunyikan perasaan mereka dengan sangat baik di belakang. Kamu hanya perlu memahami posisi mama kamu. Kamu tahu sendiri, mamamu dan Raisa itu sama persis orangnya. Sama-sama keras kepala dan gengsinya tinggi. Itulah kenapa keluarga kita lebih percaya kalau Raisa itu anak mama kamu daripada Elsa dan kamu sendiri."


Oma Deli mencoba untuk membuat Edgar tak berpikiran buruk ke Mama Ola, karena dirinya tahu betul bukan hanya Edgar saja yang sakit hati setelah Raisa pergi tetapi Mama Ola jauh lebih sakit karena seperti ditinggal anak kandungnya sendiri. Hanya saja Oma Deli tak mau mengatakan itu ke Edgar karena dirinya pun tahunya tanpa sengaja. Ketika beberapa tahun silam melihat Mama Ola yang duduk termenung sendirian, sedih, dan menangis di tengah malam di saat orang-orang rumah tidur semua. Pastinya, Mama Ola tak ingin ada orang yang tahu seberapa rapuhnya dia ditinggal oleh Raisa.


Mungkin Mama Ola memang membenci Raisa, tapi jika dibandingkan dengan rasa sayangnya, rasa sayangnya jauh lebih besar.


"Oma, menurut Oma, apa aku bisa kembali dengan Raisa?"


"Bisa, tapi kamu harus berjuang keras untuk mendamaikan dua wanita yang sama-sama keras kepala itu."


"Pasti akan butuh waktu lama Oma. Belum lagi, aku harus menyelesaikan semuanya dengan Tamara. Kita harus bersiap kalau tiba-tiba investasi dari papanya Tamara dicabut."


Oma Deli mengelus punggung Edgar lagi.


"Iya nggak papa, masih banyak investor lainnya. Lagipula, perusahaan kita tidak akan bangkrut hanya karena satu investor pergi. Yang lebih penting bagi Oma itu, melihat semua anak dan cucu Oma bahagia. Kamu sudah bagus dengan memilih untuk kembali dengan Raisa."


"Makasih Oma, karena Oma selalu mendukung apapun keputusanku. Maafkan aku yang sempat berbuat bodoh di masa lalu dengan melepaskan Raisa karena ingin Raisa bahagia. Tapi ternyata aku sendiri yang tidak bisa bahagia tanpa adanya Raisa."


"Iya, kamu emang cucu Oma yang paling bodoh. Sudah sana pergi ke kamar,mandi dan istirahat. Kamu dan mama kamu bisa bicara dari hati ke hati lagi di lain waktu di saat kamu dan mama kamu sudah siap untuk bicara yang lebih dalam lagi berdua."


Edgar mengangguk kemudian pergi ke kamarnya.


Oma Deli hanya bisa geleng-geleng kepalanya saja. Sebenarnya masalah terbesar dari keluarganya itu cuma satu, suka sekali menyembunyikan perasaannya sendiri sampai tidak sadar melukai dirinya sendiri.


*


*


Hari berganti, si kembar dijemput sekolah oleh Papa Daniel. Baru beberapa kali bertemu dengan si kembar, dirinya bisa langsung akrab dengan mereka, bahkan rindu akan celotehan kedua cucunya itu.


Papa Daniel juga sengaja membawa si kembar pulang ke kediaman Gautama supaya bisa dekat dengan Mama Ola.


"Opa kali terakhir kita kesini, Oma terlihat tidak suka. Apa sekarang pun begitu?" tanya Mia ke Papa Daniel.


"Nggak kok, waktu itu Oma sedang tidak enak badan, makanya nggak menyapa kalian dengan baik."


"Begitu ya," jawab Mia yang membuat Papa Daniel mengangguk.


Mereka sudah masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga sudah ada Oma Deli dan Mama Ola. Tapi ketika Papa Daniel dan si kembar masuk, Mama Ola langsung pergi. Hal itu membuat Papa Daniel dan Oma Deli hanya bisa menghela napas saja.


Papa Daniel jadi terdiam sendiri. Dirinya benar-benar tidak mengerti kenapa hati istrinya sekeras itu.


"Iya sayang, kalian main-main dulu sama Oma uyut ya."


"Iya opa."


Papa Daniel pergi meninggalkan si kembar dengan Oma Deli. Kia yang memang lebih peka daripada Mia, langsung mengutarakan isi hatinya.


"Kalau memang kehadiran kami tidak diterima, itu tak mengapa Oma uyut. Yang penting kami tahu siapa keluarga kami itu sudah cukup. Karena kami yakin banyak orang yang bisa menerima kami dan menyayangi kami."


Mendengar ucapan itu dari mulut anak sekecil Kia, Oma Deli jadi bersedih. Ia tak saat membayangkan seperti apa hidup mereka sampai bisa berpikir sedewasa ini. Oma Deli langsung memeluk Kia dan Mia.


"Siapa bilang kehadiran kalian tidak diterima, justru Oma uyut sangat menantikan kalian. Jangan pikirkan apapun mengenai orang dewasa. Kamu masih kecil sayang. Biar orang dewasa yang menyelesaikan semuanya."


"Tapi, aku tidak bisa begitu Oma Uyut, kalau mami bersedih, aku tidak bisa diam saja. Mami saja ketika kami dalam masalah selalu membela bahkan tak pernah memarahi kami. Mami selalu mendengarkan kami lalu menasehati kami kalau kami salah. Kenapa orang dewasa selalu merasa mereka itu bisa segalanya? Padahal pada kenyataannya mereka pun butuh orang lain di sisinya. Mami pun begitu, suka sekali menyembunyikan kesedihannya dari kami berdua. Padahal kami tahu dan bisa merasakan kesedihan yang mami rasakan."


Lagi-lagi Oma Deli memeluk si kembar, dirinya merasa malu sendiri sebagai orang dewasa yang bersifat kekanak-kanakan. Padahal jujur itu adalah kuncinya.


Daripada menanggapi ucapan Kia, Oma Deli mengalihkannya dengan mengajak si kembar untuk menonton film kartun disana. Namanya juga anak kecil, mereka akan segera lupa dengan apa yang telah dikatakannya.


*


*


Di dalam kamar, Mama Ola duduk termenung sambil menatap dinding kamarnya. Ia tak bisa mengendalikan emosi dalam dirinya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Raisa membuatnya terus merasa benci dan benci.


"Mau sampai kapan kamu membohongi diri sendiri, Ma? Sampai Raisa benar-benar pergi lagi dari kehidupan Edgar? Sampai kamu menyesal telah kehilangan Raisa sekaligus si kembar? Sampai kapan Ma? Sudah cukup selama ini hidup kamu diselimuti rasa benci yang sebenarnya benci itu tidak lebih besar dari rasa sayangmu ke Raisa.


Aku tahu, kamu merasa sakit hati karena ucapan Raisa yang menganggap kamu tidak tahu apapun tentang Raisa, padahal kamu begitu menyayangi Raisa lebih banyak dibandingkan Edgar sendiri. Tapi, tidak bisakah kamu tidak usah sekeras kepala ini? Kamu boleh membenci Raisa sebanyak apapun yang kamu mau. Tapi bisakah, jangan libatkan si kembar dalam hal ini? Mereka cucu kita, anak-anak dari Edgar. Hanya kita keluarga yang mereka miliki. Bisa kan, kamu bersikap baik pada mereka?"


"Jangan sok tahu, siapa bilang rasa sayangku melebihi rasa benciku? Aku benar-benar membenci Raisa. Dia dengan mudahnya menandatangani surat cerai dan pergi begitu saja dari keluarga kita."


Mama Ola mulai mengeluarkan unek-uneknya.


"Jangan lupa, kalau anak kita sendirilah yang memulai. Dia yang membuat surat cerai itu. Aku kalau jadi Raisa pun, pasti akan langsung menandatangi surat itu karena merasa sudah tak diinginkan lagi. Seharusnya kamu bisa paham itu."


Tapi Mama Ola seperti tidak mau mengerti dan masih kekeh menyalahkan Raisa.


*


*


TBC


Jangan lupa tinggalkan komentar yang banyak teman-teman