
Pagi itu setelah sarapan, Mama Ola langsung meninggalkan tempat makan. Yang lainnya hanya bisa menghela napas. Karena Mama Ola orangnya sangat keras kepala.
"Sepertinya tak akan mudah buat mama terima keputusanku."
"Sudah jangan dipikirkan, meski begitu pada akhirnya pasti mama juga akan terima. Ini hanya soal waktu saja," ucap Papa Daniel menanggapi ucapan Edgar.
"Ngomong-ngomong soal anak, papa ingin lihat bagaimana wajah mereka."
Edgar meraih ponselnya dan menunjukan ke Papa Daniel dan Oma Deli.
"Dari wajahnya saja sudah kelihatan kalau anak-anak ini berasal dari keluarga kita. Papa jadi ingin bertemu. Bolehkah?"
Edgar mengangguk.
"Nanti aku akan minta izin dan mempertemukan si kembar dengan papa, mama dan Oma. Kalau begitu aku pamit berangkat kerja dulu."
Setelah Edgar pergi, Elsa pun akan pergi untuk mengantar Jesper sekolah.
"Kalau Papa ingin melihat mereka sekarang, ayo ikut bersamaku mengantar Jesper ke sekolah."
Alis Papa Daniel langsung terangkat karena masih belum paham akan ucapan Elsa.
"Si kembar bersekolah di sekolah yang sama dengan Jesper."
"Jadi? Kamu sudah tahu sebelum semalam Mas mu cerita?"
Elsa mengangguk.
"Maaf Pa, aku tidak berniat menyembunyikannya. Tapi Mas Edgar sendiri yang ingin mengatakannya langsung kepada kalian. Bahkan aku lebih dulu bertemu si kembar daripada Mas Edgar."
"Baiklah ayo, Papa ingin melihat mereka."
*
*
Elsa dan Papa Daniel sedang berdiri di depan gerbang sambil menunggu Raisa datang bersama si kembar, sementara Jesper sudah masuk ke dalam kelasnya.
"Sepertinya mereka juga sudah masuk ke dalam kelas," ucap Papa Daniel.
"Nggak mungkin Pa, biasanya Raisa suka nganterin mereka mepet dengan waktu masuk sekolah."
"Nah, tuh mereka," tambah Elsa lagi sambil menunjuk motor yang dikendarai Raisa.
Raisa mencopot mencopot helmnya dan turun dari motornya. Kemudian dia menggandeng kedua anaknya di sisi kanan dan kirinya. Tepat di depan gerbang sekolah, dirinya terpaku karena melihat papa Daniel yang berdiri di sebelah Elsa.
"Mi, kok berhenti jalannya? Ada apa?" tanya Mia yang keheranan.
"Oh, maaf sayang, ayok jalan lagi."
Raisa pun berjalan dengan menetralkan perasaannya. Ia takut untuk bertemu Papa Daniel, ia yakin laki-laki paruh baya itu masih membenci dirinya.
"Mba Raisa," panggil Elsa yang membuat Raisa pun mau tak mau harus menyapa balik dan berhenti sejenak.
"Hai Tante," sapa Mia dengan riangnya.
"Hai sayang, kamu cantik sekali hari ini."
"Pasti dong Tante. Aku kan sudah minta Mami untuk kepang rambutku kaya Elsa di Frozen. Ah, iya, aku baru sadar nama Tante juga Elsa, hehe."
Elsa tersenyum mendengar celotehan Mia.
"Ngomong-ngomong Tante, siapa kakek tua di sebelah Tante?" tanya Mia sambil memicingkan matanya.
Papa Daniel masih belum bisa berkedip sama sekali. Dirinya masih takjub dengan keturunan dari Edgar. Ia pikir ia akan menunggu lama untuk mendapatkan anak dari Edgar. Rupanya, cucunya sudah ada dan sudah bertumbuh besar. Ada rasa sesal dan perih di hatinya karena tak bisa melihat perkembangan cucunya.
"Coba tanya sendiri sama kakeknya," ucap Elsa.
Sedari tadi Raisa masih diam, dirinya membiarkan saja Mia yang berbicara. Begitu juga Kia yang terlalu malas untuk berinteraksi dengan orang.
"Biar aku tebak, pasti kakek ini adalah papanya Tante dan kakeknya Jesper. Bener kan Tante?" tebak Mia yang membuat dirinya sendiri terkejut.
Mia memandang ke arah Kia dan berbisik di telinga Kia.
"Kia berarti kakek ini adalah kakek kita juga. Amazing, kita jadi punya banyak keluarga dan punya orang yang sayang sama kita."
Elsa yang mendengar tebakan Mia itu langsung mengangguk.
"Can i hug you, twins?"
Mia dan Kia masih terus saling memandang kemudian mengangguk bersamaan dan berhambur ke pelukan Papa Daniel.
Papa Daniel merasa sangat bahagia karena cucunya bukan cuma satu melainkan tiga sekarang. Pelukan mereka terlepas karena suara bel sekolah telah berbunyi.
"Senang bertemu dengan opa, kami berdua masuk kelas dulu ya. Dah semuanya, dah Mami, semangat kerjanya."
"Iya sayang, semangat belajarnya."
Di kembar berlari masuk ke dalam kelasnya. Kini hanya tinggal tiga orang dewasa disana. Raisa langsung pamit karena harus bekerja.
"Aku duluan Sa, Om," pamit Raisa.
Setelah Raisa pergi dari sana, Papa Daniel menanyakan tentang panggilan dirinya yang disebut Raisa tadi.
"Apa papa tidak salah dengar tadi ya? Raisa memanggil papa dengan sebutan Om. Rasanya aneh."
"Emangnya papa ingin dipanggil apa?"
"Ya 'papa' aja lah. Lah, kan Edgar memang ingin kembali bersama Raisa."
"Kalau aku lihat dari bagaimana Mba Raisa melihat papa tadi, sepertinya dia tak berharap apapun. Jangan-jangan keputusan untuk kembali hanya dari Mas Edgar sendiri."
"Sudahlah, papa nggak mau pusing mikirin itu. Ayo kita pergi, papa juga harus ke kantor."
*
*
Sore harinya, Edgar membawa si kembar ke rumah keluarga Gautama. Dari sebelum masuk ke dalam rumah sampai sekarang sudah ada di dalam, keduanya masih takjub dengan bangunan yang mereka lihat. Begitu megah dan besar sangat jauh berbeda dengan rumah yang mereka tinggali.
"Amazing Pi. Ini seperti istana. Apa aku bisa jadi princess disini?"
"Tentu saja, asalkan kalian mendukung papi dan mami untuk kembali bersama."
"Apa kalau begitu, itu artinya kita bisa tinggal sama-sama?" tanya Kia.
"Ya, kita akan selalu bersama. Kalian, papi dan mami."
"Apa Papi tidak akan bersedih?" tanya Kia lagi yang membuat Edgar menaikkan alisnya.
"Kenapa?"
"Papi kan sudah punya calon mama tiri untuk kita. Itu artinya kita tidak bisa tinggal sama-sama."
Edgar terdiam. Dia lupa kalau dirinya belum mengakhiri hubungannya dengan Tamara secara resmi.
"Dengarkan Papi. Kalian tidak akan punya mama tiri. Mami kalian cuma Mami Raisa. Maka dari itu, kalian harus bisa bantu papi supaya mami bisa menerima papi kembali, dengan begitu kita bisa tinggal bersama dan kalian bisa jadi princess disini. Gimana? Mau bantu Papi?"
"Mau Pi, mau," jawab keduanya dengan antusias.
"Good, kalian emang anak-anak Papi. Ayo kita temui opa, oma dan oma uyut di teras."
"Let's go Pi!"
Mereka bertiga berjalan ke teras samping rumah, disana sudah ada Oma Deli dan Papa Daniel yang sedang minum-minum teh bersama. Edgar hanya bisa menghela napasnya karena tak mendapati Mama Ola disana. Sepertinya Mama Ola masih belum bisa terima keputusannya.
"Ayok sayang."
Si kembar pun langsung ikut nimbrung disana. Mereka bisa langsung akrab dengan Papa Daniel dan Oma Deli karena emang pembawaan mereka yang ceria dan mudah bergaul. Ketika langit sudah mulai memerah, Edga mengajak si kembar untuk masuk ke dalam rumah. Tepat ketika Edgar masuk dari teras, Mama Ola akan pergi ke dapur.
"Ma," panggil Edgar saat ingin mengenalkan si kembar tapi Mama Ola malah melengos dan langsung pergi begitu saja.
"Pi, apa itu Oma? Apa Oma tidak menyukai kita?"
*
*
TBC
Jangan lupa tinggalkan komentar yang banyak, siapa tahu aku khilaf double up hari ini, hehe.