Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 65


Edgar berjalan semakin mendekat ke ranjang sampai membuat Raisa jadi panik sendiri. Bahkan dengan sengaja Raisa menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut saking takutnya Edgar berbuat yang tidak-tidak padanya.


Selimut yang Raisa gunakan dibuka oleh Edgar. Raisa semakin ketakutan dan hanya bisa memeluk lututnya saja untuk melindungi dirinya.


Edgar tersenyum tipis melihatnya lalu tertawa kecil.


"Emang kamu pikir, aku mau ngapain kamu, Ca? Walaupun ingin, aku sadar, kita belum ada ikatan. Jadi, tolong kerjasamanya. Jangan buat aku jadi hilang kendali."


Raisa mendongak dan menatap ke arah Edgar yang tersenyum. Bantal yang ada di sebelah Raisa, ia gunakan untuk memukul-mukul tubuh Edgar.


"Sudah, cukup, Ca, cukup!" Edgar memegang bantal itu dan mengehentikan dengan tangannya kuat-kuat.


"Kenapa kamu sampai berbuat seperti ini Edgar? Ini bukan kamar kamu! Cepat kembali!"


"Sebelum masalah kita selesai, aku tak akan kembali ke kamarku."


"Apalagi yang kamu permasalahkan? Bukankah aku sudah menjawab tidak? Kenapa kamu harus terus memaksaku?"


"Kamu yakin itu benar jawabannya? Hati kecilku berkata tidak, soalnya."


"Aku sudah yakin, seyakin-yakinnya. Sudah tak akan berubah lagi," jawab Raisa dengan lantangnya.


"Benarkah?" tanya Edgar dengan posisi tubuhnya yang semakin mendekat ke Raisa.


"Menjauhlah Edgar!"


"Tidak akan! Sudah aku bilang, tolong kerjasamanya Raisa. Supaya pembicaraan ini cepat selesai dan aku tidak hilang kendali. Karena tanpa kamu sadari, aku benar-benar menginginkan kamu lagi."


Glek!


Raisa jadi ketakutan sendiri.


"Kamu mau tetap egois? Kamu tidak lihat bagaimana perjuangan si kembar selama ini untuk tidak membuat kamu bersedih? Apa kamu ingin lihat mereka bahagia dalam kesemuan? Kamu bisa rasakan itu sendiri, Ca. Selama si kembar berada di tengah-tengah keluarga ini, keceriaannya, senyumnya, tingkahnya, semuanya begitu terlihat bersinar. Apa kamu ingin sinar itu redup? Haruskah kamu seegois ini? Emang nggak bisa turunkan keegoisan kamu itu dan sadar kalau si kembar itu butuh kita berdua, bukan aku, bukan kamu, tapi kita. KITA, Ca, KITA!"


Edgar sudah hampir setengah marah ke Raisa. Dia benar-benar ingin kembali, tapi Raisa masih keras kepala dan egois dengan keputusannya sendiri.


"Berhenti untuk membohongi diri sendiri! Berhenti untuk menjadi kuat padahal nyatanya kamu begitu lemah! Berhenti untuk tidak butuh aku, padahal nyatanya kamu sangat membutuhkan aku! Lepaskan semuanya Ca, lepaskan semua kesedihan dan rasa sakitmu! Aku tahu, itu sangat sulit. Tapi kalau tidak dilepaskan kamu akan terus terbelenggu disana. Ada aku, ada aku yang akan terus di samping kamu. Aku mohon Ca, kali ini aja, kasih aku kesempatan kedua. Bukan demi aku, tapi demi si kembar dan demi kamu sendiri."


Cairan bening tiba-tiba menetes dari pelupuk mata Raisa.


"Sakiiiiit, sakiiiiit banget, rasanya, disini, Gar!" ucap Raisa sambil sedikit memukul dadanya sendiri.


"Aku terlahir tanpa tahu siapa ayah kandungku! Ibu kandung yang seharusnya melindungiku justru malah menyiksa batin dan fisikku. Orang-orang selalu menganggap aku sampah. Sampai kamu hadir bagai cahaya di kehidupanku. Tapi pada akhirnya, kamu pun jadi salah satu orang yang menyakiti aku, Gar. Padahal kamu adalah orang yang paling aku cintai dan percayai. Kenapa? Kenapa kamu membuang aku seperti mereka? Kenapa? Hatiku sakit, sakit sekali Gar. Aku merasa tak diinginkan oleh seseorang di dunia ini. Mungkin kalau aku tidak dalam keadaan hamil saat itu, aku bisa saja mengakhiri hidupku sendiri."


Raisa tertunduk dengan air mata yang terus terurai. Edgar yang mendengarkan isi hati Raisa jadi merasa bersalah dan matanya pun sudah berkaca-kaca.


Raisa memukul-mukul Edgar lagi dengan bantal. Dia benar-benar kesal, sedih, marah. Semua rasa itu bercampur menjadi satu.


Kali ini Edgar tak menahan pukulan dari Raisa. Laki-laki itu menerima dengan lapang dada sambil menahan tangisnya. Keputusan yang dulu ia anggap benar, ternyata malah sebaliknya. Bukannya membuat Raisa bahagia, tapi malah membuat Raisa semakin terluka. Dia merasa bodoh, merasa tak bertanggungjawab dan merasa tak pantas untuk membahagiakan Raisa lagi. Tapi kalau bukan dia, dia pun tak rela orang lain mengisi hati Raisa. Biarlah dia egois demi cintanya.


"Sekarang kamu sudah puas?" tanya Edgar sambil mendongak dan menatap wajah Raisa.


"Kalau belum, teruskan lagi sampai semua rasa sakit itu kamu lepaskan. Aku rela jadi samsak untuk kamu pukuli dengan syarat, setelah ini, kita bangun kembali kisah kita yang sempat usai dan lanjutkan cinta kita yang belum usai."


Dengan membabi buta, Raisa terus memukul Edgar dengan bantal yang dipegangnya. Yang artinya, Raisa bersedia untuk kembali bersama dengan Edgar.


Tak berselang lama, Raisa sudah tak memukul Edgar lagi tapi tangisnya masih saja terdengar.


"Jangan buang aku lagi," ucap Raisa dengan lirih dan wajah yang menunduk.


Edgar langsung memeluk Raisa seolah-olah pelukan itu adalah jawaban atas permintaan Raisa. Pelukan yang begitu hangat dan sangat dirindukan oleh keduanya.


Pelukan pun terlepas. Edgar mendekatkan keningnya di kening Raisa. Keduanya masih berlinang air mata. Wajah keduanya semakin dekat dan dekat sampai akhirnya bibir mereka pun bertemu.


Ciuman yang begitu emosional setelah banyaknya masalah yang mereka lalui bersama. Air mata yang masih terus mengalir jadi saksi kembalinya cinta mereka berdua.


"Ingatkan aku, kalau aku kembali memilih keputusan yang salah. Pukul aku, kalau aku menyakiti kamu lagi. Jangan dipendam lagi, Ca. Kini kita adalah satu. Kamu sakit, aku pun sakit. Kamu bahagia aku pun bahagia. Karena apa, karena kamu adalah aku, dan aku adalah kamu."


Raisa memeluk Edgar lagi. Kali ini tangisnya bukan tangis kesedihan melainkan tangis bahagia. Pada akhirnya, Raisa memang tak bisa terus membohongi dirinya sendiri. Edgar adalah dunianya, semangat hidupnya juga cintanya.


Edgar memberikan kecupan di rambut Raisa. Ia benar-benar bahagia, akhirnya perjuangannya untuk mendapatkan hati Raisa kembali, telah berhasil. Untuk langkah selanjutnya, dia hanya ingin secepatnya diresmikan.


"Aku tak akan menunda Ca, secepatnya kita akan menikah. Masalah media yang akan menyorot kehidupan kita. Aku akan tangani itu semua. Kamu hanya perlu diam dan mendukungku dari belakang."


Raisa mengangguk saja. Kini dia benar-benar sudah luluh lagi. Raisa kembali memeluk Edgar. Karena mau sebanyak apapun ia memeluk Edgar hari ini, rasanya masih terasa kurang saja baginya.


"Kalau kamu terus memeluk aku seperti ini? Aku bisa lepas kendali loh, Ca!"


Seketika Raisa langsung mendorong Edgar sampai laki-laki itu terjatuh ke lantai. Edgar cuma bisa terkekeh pelan sambil memegangi b*kongnya yang terasa sakit.


*


*


TBC


Ini kan yang kalian mau? 🤭 Yuk ah komentar sebanyak-banyaknya