Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 45


Di depan kamar rawat Edgar, Mama Ola masih terus menangis karena keadaan putranya yang masih belum sadar. Ia tak tahu kenapa Edgar bisa sampai babak belur seperti itu. Ia hanya bisa menduga-duga saja kalau Edgar dicegat preman di jalanan sampai tiba-tiba Tamara menelpon dirinya.


"Halo Tante, apa Edgar sudah diobati?"


Mama Ola langsung menaikan alisnya karena bingung kenapa Tamara seperti tahu apa yang dialami oleh Edgar.


"Kamu tahu Edgar kenapa?"


"Iya Tante. Maaf, ini semua karena papaku. Dia tidak terima Edgar membatalkan pernikahan kami."


Mama Ola langsung menyentuh dadanya yang terasa sakit. Memang seharusnya Edgar tak pernah membatalkan pernikahan ini, dengan begitu kejadian seperti ini tak akan pernah terjadi.


"Seharusnya kamu menolak rencana pembatalan nikah itu Tam. Kamu sudah yang paling cocok jadi istri Edgar."


"Cocok bagi kita belum tentu cocok menurut Edgar Tante. Aku akan terus berusaha untuk merelakannya. Karena aku yakin anak-anak Edgar lebih butuh Edgar daripada aku."


Mama Ola tak mau menanggapi perkataan Tamara itu. Ia malah membuka pembicaraan lain mengenai kondisi Edgar yang dirawat di rumah sakit. Tamara meminta maaf lagi karena perbuatan papanya itu.


"Harusnya Edgar yang meminta maaf karena sudah menyakiti hati kamu, Tam. Mungkin ini balasan dari Tuhan karena sudah menyakiti hati wanita sebaik kamu."


"Nggak Tante, kami sama-sama salah."


"Jangan terus melindungi Edgar, Tam. Tante jadi semakin berharap kamu kembali dengan Edgar."


Panggilan telepon pun berhenti ketika Elsa beserta Jesper datang kesana.


"Ma, gimana Mas Edgar?"


"Belum sadar, tapi lukanya sudah diobati. Kata dokter mungkin bekas lebamnya akan lama hilangnya karena pukulan dari lawan terlalu keras."


"Lagian gimana bisa ini terjadi sih, Ma? Setahu aku, Mas Edgar itu bisa bela diri, kenapa bisa sampai babak belur?"


Mama Ola pun menceritakan apa yang sudah diceritakan oleh Tamara tadi ditelpon ke Elsa. Elsa hanya bisa menghela napasnya saja. Elsa menduga kalau Edgar sendirilah yang membiarkan wajah dan tubuhnya dipukuli.


"Mama mau ke kantin dulu, kamu mau nitip sesuatu?"


Elsa menggeleng lalu duduk di kursi tunggu di depan ruangan dengan Jesper. Tak lama kemudian Oma Deli muncul dari arah toilet. Dia sempat menanyakan kemana Mama Ola ke Elsa, ketika mengetahui Mama Ola pergi ke kantin, Oma Deli meminta Elsa untuk menelpon Raisa dan mengabarkan keadaan Edgar.


*


*


Di rumahnya, Raisa sedang disibukkan oleh si kembar yang berebut tontonan di televisi. Yang satu ingin nonton Barbie dan yang satu ingin nonton Spiderman. Raisa sampai kesal dan pusing kepalanya karena keduanya saling meninggikan nada bicaranya.


Sampai sebuah panggilan telpon masuk ke ponsel Raisa. Raisa langsung menjawabnya disana.


"Kenapa Elsa? Nggak biasanya kamu telpon malam-malam."


"Mas Edgar ada di rumah sakit Mba. Aku harap Mba dan si kembar bisa datang dan menjenguk Mas Edgar. Pasti dia akan senang."


"Emangnya Edgar kenapa? Dia sakit apa?" tanya Raisa yang sedikit cemas.


Mendengar nama Edgar disebut, si kembar langsung menghentikan ribut mereka dan mendekat ke Raisa ingin ikut mendengarkan juga.


"Mba datang aja ya ke rumah sakit, nanti alamatnya aku kirim lewat pesan."


"Baiklah."


Setelah panggilan telpon terputus, si kembar langsung menanyakan apa yang mami mereka bicarakan ditelpon.


"Papi kalian ada di rumah sakit, kalian mau ikut mami untuk menjenguk papi?"


"Papi sakit apa Mi?" tanya Kia.


"Mami juga nggak tahu sayang, soalnya Tante Elsa nggak menceritakannya ditelpon."


"Ayo Mi kita jenguk papi! Kasian papi pasti dia kesepian."


Setelah mengatakan itu, Mia langsung berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian.


"Iya Mi."


Kia pun pergi menuju ke kamarnya sementara Raisa pergi ke kamar Roni. Ia mengetuk pintu kamar Roni untuk meminta diantarkan ke rumah sakit. Karena sangat tidak mungkin ia membiarkan anaknya terkena udara malam dengan menaiki motornya. Untungnya, Roni mau mengantarkan bahkan ia pun mau ikut menjenguk Edgar.


*


*


"Oma, sejujurnya aku agak takut sekarang. Aku takut gimana reaksi mama bertemu dengan Mba Raisa. Apa ini tidak salah Oma? Gimana kalau tiba-tiba mama membuat keributan di rumah sakit? Hanya menyebut nama Mba Raisa saja, wajah mama langsung berubah, apalagi kalau mereka sampai bertemu."


Elsa mengutarakan ketakutan dan kekhawatiran tentang pertemuan Mama Ola dan Raisa nantinya. Tapi Oma Deli berusaha menenangkan Elsa.


"Kalau tidak dipertemukan oleh kita, mama kamu mana mau bertemu dengan Raisa, begitu pula dengan Raisa. Mereka harus saling bicara untuk menghilangkan kebencian dan berdamai. Jangan berpikiran buruk terus, mama kamu tidak akan sejahat itu dengan Raisa walaupun selama ini terlihat jahat di mata kita."


"Benarkan ucapan Oma itu? Kalo benar, aku benar-benar lega. Semoga ya Oma. Aku cuma ingin keluarga kita harmonis seperti dulu. Penuh tawa dan bahagia tiap harinya."


Oma Deli mengangguk.


*


*


Roni, Raisa dan si kembar sudah sampai di rumah sakit. Mereka langsung pergi ke ruang rawat Edgar yang sudah diberitahu oleh Elsa. Ketika semakin dekat ke ruang rawat Edgar, langkah kaki Raisa tiba-tiba terhenti. Wanita itu seolah lupa kalau sudah jelas jika Edgar sakit pasti akan ada Mama Ola disana. Raisa belum siap untuk bertemu dengan Mama Ola.


"Mi, kok berhenti jalannya? Kenapa?" tanya Mia yang keheranan.


Roni yang awalnya juga keheranan, kini mengerti setelah melihat siapa saja yang ada di depan ruang rawat Edgar. Kakaknya pasti belum siap untuk bertemu mantan mertuanya.


"Sepertinya mami kalian ada urusan, ayo kita aja yang kesana," ucap Roni sebagai alibi ke si kembar. Sayangnya, Kia yang peka bisa menangkap ketakutan di wajah maminya. Tapi tentu saja Kia akan tetap diam.


"Ya udah Mi, kalau Mami ada urusan, nggak papa kok, kita cuma ditemani sama Om Ron doang," ucap Kia.


"Terima kasih sayang."


Raisa pun berjalan keluar dari rumah sakit. Sejujurnya dia hanya duduk di taman rumah sakit sambil menunggu Roni dan si kembar keluar dari sana.


*


*


"Aku dengar Mas Edgar sakit, kami datang untuk menjenguk dan ini ada sedikit buah tangan dari kami," ucap Roni sambil menyerahkan parsel buah.


"Kalian datang cuma bertiga?" tanya Elsa yang merasa heran karena tak ada Raisa disana. Apa jangan-jangan Raisa memang sengaja tidak datang?


"Nggak kok, tadi sama ... "


Sebelum ucapan Mia terus berlanjut, Kia sudah lebih dulu memotongnya.


"Iya, kami cuma bertiga Tante. Mami nggak bisa ikut. Gimana keadaan papi?" tanya Kia. Hal itu membuat Mia terheran-heran. Bukannya mereka dilarang untuk berbohong di hadapan orang tua? Tapi kenapa kakaknya ini malah berbohong?


"Papi kalian masih belum sadar, tapi kalau mau lihat ke dalam juga boleh kok," jawab Oma Deli.


Mama Ola masih diam sejak tadi. Ia bahkan seolah tak peduli dengan kehadiran mereka. Elsa dan Jesper menemani Roni dan si kembar masuk ke dalam ruangan. Kini tinggallah Oma Deli dan Mama Ola berdua.


"Apa kamu harus secuek dan sejahat itu sama cucu kamu sendiri? Rencana pernikahan Edgar dan Tamara batal bukan karena Raisa dan cucu kamu, melainkan keputusan Edgar sendiri. Apa kamu mau kehilangan mereka padahal butuh waktu sampai 8 tahun kita bisa melihat mereka lagi? Sampai kapan kamu akan terus menutup hati kamu, Ola? Sampai kapan? Sampai pada akhirnya kamu menyesal, iya? Coba tanya hati kamu, apa kamu benar-benar membenci Raisa dan cucu kamu?"


Mama Ola tampak terdiam begitu lama.


*


*


TBC


Komentar yang banyak yuk! Biar semangat updatenya