
Sebuah video di saat ibunya Tamara mengamuk dan menghina Raisa kini viral di media sosial. Hal tersebut berpengaruh ke dalam pekerjaan Raisa. Dimana ketika dia bekerja banyak sekali karyawan dan pelanggan yang membicarakan dirinya. Raisa mencoba untuk tetap diam karena tak mau mengeluarkan energinya cuma-cuma. Toh, semuanya tak benar sama sekali. Untungnya, ada Rani dan Kendra yang selalu membelanya dan menghalau beberapa orang yang mau mengganggu Raisa.
"Punya mulut itu dijaga! Kaya udah jadi orang paling bener aja. Kalau nggak tahu apapun yang terjadi sebenarnya jangan cepet terhasut sama berita viral."
"Halah, udahlah kamu jangan mau terus berteman dengan Raisa. Dia pasti emang seorang penggoda. Mungkin saja anak-anak dia pun tak diketahui siapa bapaknya. Status janda cuma alibi biar orang tak menganggap dia seorang wanita murahan!"
Di saat Rani ingin membalas ucapan wanita itu lagi, Raisa melarangnya. Raisa langsung maju ke depan dan berbicara pada wanita itu.
"Aku tak pernah berbuat salah apapun padamu. Tapi hanya karena video viral itu, seolah-olah aku telah membuat dosa besar hingga membuat kamu terlalu membenciku. Apa semua orang akan mudah terhasut seperti ini?"
"Halah, jangan sok nggak ngerasa bersalah gitu deh. Gara-gara kamu, pelanggan di restoran jadi sepi. Mungkin karena mereka tahu, wanita penggoda bekerja di restoran ini."
Percuma, iya memang percuma membela diri di depan orang yang tak mau percaya padanya. Raisa pun memilih untuk pergi saja sambil menarik tangan Rani dan Kendra untuk mengikuti dirinya.
"Ih, Mba. Kenapa malah menarik kami kesini? Aku belum puas membuat Tina diam."
Wanita tadi bernama Tina, salah satu pegawai di restoran.
"Jangan buang-buang energi kamu, Ran."
"Tapi kalau dibiarin aja, semua orang akan terus membicarakan Mba Raisa. Aku tidak terima Mba."
"Betul apa yang dikatakan Rani, Mba. Mereka semua itu keterlaluan," sahut Kendra yang setuju dengan ucapan Rani.
"Lantas kalau kita ladeni, apa mereka akan diam juga? Mereka itu haus akan gosip. Sehari nggak ada gosip, mungkin hidupnya kaya ada yang kurang. Biarlah semua ini berlalu dengan sendirinya. Aku percaya yang benar akan menang dan yang salah akan kalah."
"Mba ... "
"Ran, aku tahu kamu khawatir padaku. Tapi aku tak ingin membuat kamu jadi terseret juga. Tolong mengerti."
Rani pun jadi diam. Mereka masuk lagi ke dalam restoran untuk bekerja.
Beberapa waktu pun berlalu, Raisa dipanggil ke ruangan VIP untuk menjamu tamu unggulan disana. Siapa lagi kalau bukan Pak Baskoro. Pria paruh baya itu langsung menawarkan diri untuk membantu Raisa untuk menangani masalah wanta itu. Raisa menolak dengan halus karena tak mau jika bantuan itu ada harga yang harus ia bayar.
"Kamu ini, saya ikhlas mau bantu. Saya tidak berniat untuk meminta kamu menikah dengan putra saya meskipun saya ingin."
"Mohon maaf Pak. Saya tidak bisa menerima bantuan dari Bapak. Terima kasih atas tawarannya, saya sangat berterimakasih rupanya masih ada orang yang memperhatikan saya."
"Huh! Kamu ini memang orangnya susah sekali ya. Sekalinya tidak, kamu akan mengatakan tidak sampai akhir. Prinsipmu begitu teguh."
"Kalau tidak seperti itu, bagaimana saya hidup? Saya tidak mau hidup dengan bantuan dari semua orang. Saya harus berdiri sendiri dengan kaki saya sendiri, Pak."
Pak Baskoro tersenyum meski ia merasa kecewa. Ia benar-benar menginginkan Raisa menjadi menantunya.
"Andai kamu mencari calon suami, datanglah padaku. Putraku masih jomblo."
Raisa hanya diam lalu menceritakan tentang Bian yang sudah menawarkan diri untuk jadi pasangan Raisa, tapi Raisa sudah menolaknya dengan cara yang baik.
"Sayang sekali, padahal aku sangat berharap."
"Ya, cinta memang tidak bisa dipaksa."
"Semoga kamu bisa bahagia Raisa. Aku benar-benar mendoakanmu. Semoga masalah ini juga cepat selesai."
Raisa mengangguk lalu mereka berbincang lagi sampai Pak Baskoro pun akhirnya pergi.
*
*
Di tempat yang berbeda, Tamara mencari mamanya padahal dia baru saja menyelesaikan syutingnya di hari itu. Ia benar-benar tak habis pikir dengan tingkah ibunya yang seolah tak memiliki hati nurani.
Ketika Tamara menemukan dimana mamanya berada, dia berdiri di depan mamanya.
"Ma! Apa yang sudah mama lakukan? Tidak ada yang mengg*da disini! Mba Raisa tak melakukan apapun! Dia tak ada hubungannya dengan pembatalan nikahku dengan Edgar."
"Jangan melindungi orang lain Tamara! Mama tahu, mama tahu semuanya. Edgar sudah mengatakan langsung semuanya. Yang artinya semua itu karena mantan istrinya. Mama tidak terima! Mama hanya ingin mantan istri Edgar tahu dia sudah menyakiti siapa!"
Tamara mengacak-acak rambutnya sendiri. Percuma dia menasehati mamanya. Mamanya memang seperti ini, di saat dirinya selalu diserang netizen di media sosial pun, mamanya akan selalu jadi garda terdepan dengan menjadi pendukung Tamara menggunakan akun anonim. Tamara tahu semuanya. Ia tahu kalau mamanya menyayangi dirinya, tapi semuanya terasa berlebihan.
"Ma, hidup itu tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita. Hidup itu tak ada yang sempurna. Kesempurnaan itu bisa tercipta kalau kita menerima semuanya dengan ikhlas. Dan aku ikhlas menerima segala jalan hidupku yang seperti ini. Mungkin jodohku masih jauh disana. Jadi, tolong, mama jangan lakukan apapun sebagai alibi rasa sayang. Ini bukan rasa sayang Ma. Rasa sayang itu, mama menghargai dan menghormati keputusanku. Mama mendukungku dan membantuku untuk melupakan Edgar. Apa yang sudah mama lakukan tidak benar. Aku mohon jangan bertingkah lagi Ma. Please!"
"Kamu bodoh Tamara! Seharusnya kamu jangan seperti ini! Kamu harus membalas rasa sakit hatimu!"
"Terus kalau aku membalasnya, apa aku akan bahagia Ma? Enggak Ma, enggak. Aku lebih baik merelakannya pergi dengan berharap ada jodoh yang lebih baik darinya."
"Arghhh!"
Mama Tamara begitu kesal dan marah. Putrinya terlalu baik kepada orang yang sudah menyakiti dirinya. Dia pun pergi dari hadapan Tamara.
"Merelakan pun sangat sulit Ma, sulit sekali. Tapi, asal mama tahu, akulah yang terlalu memaksa masuk ke dalam kehidupan Edgar, padahal Edgar sendiri belum siap menerima yang baru. Aku ingin dia bahagia Ma meskipun aku yang akan bersedih dan menangis. Karena cinta itu tak harus memiliki."
Tamara menghela napasnya kemudian meraih ponselnya ketika mendapatkan pesan dari Raisa yang mengajaknya bertemu.
Tamara membalas pesan itu dan mengiyakan ajakan itu. Karena ia juga harus meluruskan semuanya. Ia tak mau dunia maya gempar karena berita tentang dirinya. Dia hanya ingin dunia maya gempar akan prestasi dalam aktingnya.
"Semoga ini semua akan segera berakhir dan aku bisa cepat melupakannya."
*
*
TBC
Jangan lupa follow akun Noveltoon aku ya, supaya kalau aku punya cerita baru, kalian bisa dapat notifnya.