Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 79


Sore harinya, Edgar dan Raisa pun pulang ke rumah. Niat awal ingin menginap beberapa hari di hotel, tapi karena si kembar yang menangis, Raisa pun tak tega dan meminta Edgar untuk pulang saja. Walaupun sedih, tapi Edgar bisa apa, karena anaknya juga penting.


"Twins, Mami pulang!" ucap Raisa ketika sudah sampai di ruang tamu kediaman Gautama.


Terdengar suara derap kaki yang berlari ke arahnya. Si kembar langsung memeluk Raisa ketika itu juga. Raisa pun membalas pelukan si kembar juga. Seolah-olah mereka itu berpisah sangat lama, padahal dua puluh empat jam pun belum ada.


Setelah pelukan terlepas, si kembar menatap ke arah Edgar dengan melipat kedua lengan mereka di dada.


"Maksud Papi apa? Kenapa Papi mau menguasai Mami sendiri? Mami itu punya kita!" marah Mia ke Edgar yang membuat Mama Ola dan Raisa yang ada disana menahan tawa. Karena baru kali ini, Edgar terlihat dimarahi oleh seorang anak kecil, apalagi anak kecil itu adalah anak Edgar sendiri.


"Nggak gitu juga, kan Mami tadi udah jelasin ke kalian. Masa iya harus Papi jelasin lagi?"


"Pokoknya kalau lain kali Mami sama Papi pergi berdua, kalian harus ajak kamu juga! Titik!"


Edgar tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia seolah kewalahan menghadapi tingkah si kembar. Mana bisa dia ajak si kembar kalau mau bercocok tanam dengan Raisa. Yang ada dia akan dimarahi habis-habisan oleh Raisa.


"Daripada kalian kesal begini, gimana kalau kita main aja? Papi udah buatkan ruang mainan khusus untuk kalian di atas."


"Ruang mainan? Really?"


Edgar mengangguk kemudian menggandeng tangan kedua anaknya dan mengajak mereka ke ruang mainan. Membuat si kembar hilang marahnya tu mudah, tapi membaut mereka marah pun mudah, tinggal pintar-pintar aja mengontrol kondisi hati si kembar.


"Padahal seharusnya kalian bisa lebih lama di hotel," ucap Mama Ola.


"Nggak papa Ma. Sehari juga udah cukup kok."


"Udah makan?" tanya Mama Ola.


"Udah kok Ma. Tadi aku dan Edgar makan ayam bakar madu di hotel."


"Syukurlah, sini Mama bantu bawakan kopernya. Kamu pasti masih lelah semalam."


Raisa pun tak menolak tawaran itu. Karena memang tubuhnya terasa remuk karena Edgar terus meminta lagi dan lagi. Apalagi sebelum pulang ke rumah pun, dirinya dan Edgar sempat melakukannya dua kali. Kalau dipikir-pikir, rasanya masih asing sekali dia tinggal lagi di rumah ini setelah bertahun-tahun lamanya pergi.


"Ini kamar kamu dan Edgar, sudah mama minta pelayan untuk mendekor ulang kamarnya."


Raisa masuk ke dalam kamar itu, dan benar saja desainnya sama persis seperti ketika dulu dia berada di kamar itu. Bahkan foto pernikahannya dan Edgar yang dulu pun masih ada dan dipajang disana.


"Edgar yang minta. Mungkin dia mau bernostalgia dan mengingat kalau dia tak boleh mengulang kesalahan yang sama."


Raisa mengangguk mengerti.


"Istirahatlah, nanti Mama akan bangunkan ketika makan malam."


Mama Ola pun keluar dari kamar itu dan menutup pintunya. Raisa terus mengamati seksi kamar yang dibuat sama seperti dulu. Raisa jadi teringat masa-masa senang dan sedihnya selama dulu berada di kamar itu.


"Semuanya sudah berlalu, kini aku harus menyambut masa depan yang lebih cerah."


*


*


Di tempat lain, lagi dan lagi Bian dan Tamara dipertemukan dengan tak sengaja di sebuah restoran yang bisa dibilang tak cukup populer di kalangan banyak orang. Tamara memang sengaja kesan agar tak jadi pusat perhatian banyak orang.


Karena melihat Tamara yang duduk sendirian, Bian pun langsung duduk saja di hadapan Tamara tanpa persetujuan.


"Pergi, nggak?! Aku tuh mau sendiri!" usir Pamela dengan suara yang agak meninggi.


"Kecilkan suaramu kamu, mereka bisa curiga kalau kamu adalah artis."


"Makanya cepat pergi!"


"Duduk! Anggap saja aku tidak ada, gampang kan?"


"Cih! Jelas-jelas kamu ada di depanku, mana bisa digampangkan begitu saja."


"Kalau begitu, terima saja. Biarkan aku disini juga. Daripada sendiri, bukankah lebih baik akan uang menemani?"


Pada akhirnya karena malas berdebat lagi, Tamara pun membiarkan Bian ada satu meja dengannya.


"Apa kamu sudah melupakan Edgar?"


Bian tak ada basa-basi nya sama sekali. Laki-laki itu memang selalu saja bertanya pada intinya.


"Kamu sendiri? Sudah bisa melupakan Raisa?" Bukannya menjawab, Tamara pun malah balik bertanya.


Bian tak menjawab.


"Aku kemarin datang ke pernikahan Edgar dan Raisa."


"Aku nggak tanya tuh," ucap Tamara yang tak mau mendengarkan apapun.


"Aku lagi cerita, bisa dengerin aja nggak?"


Tamara pun langsung diam dan menatap ke arah lain seraya menaruh tangannya di telinga ingin menutup telinganya itu.


Padahal percuma saja ditutup, toh Tamara masih bisa dengar juga.


"Mereka terlihat bahagia dan serasi. Walaupun aku merasa sakit hati melihat keduanya, tapi di sisi lain aku bahagia karena tahu dia berada pada orang yang tepat. Aku datang karena ingin melepaskan semuanya. Membuang rasa itu jauh-jauh agar bisa memulai rasa baru dengan orang lain."


"Aku ini bukan temanmu, kenapa kamu mudah sekali menceritakan hal seprivasi itu?"


"Karena aku tahu, kamu tak akan menceritakannya ke orang lain. Toh kita sama-sama berada di posisi yang tersakiti."


"Haaah!"


Tamara tampak menarik napasnya perlahan lalu menatap ke arah Bian dengan sedikit tajam.


"Aku yang pergi atau kamu yang pergi?!"


Bian yang melihat ekspresi wajah Tamara yang sudah tak bersahabat lagi, akhirnya memilih untuk pergi. Namun, sebelum pergi dia mengucapkan kata-kata yang membuat Tamara terdiam beberapa saat.


"Kata orang, untuk menyembuhkan hati yang terluka, kita membutuhkan hati yang baru. Dan entah kenapa, aku tertarik mencoba hal itu. Apalagi kamu tahu bagaimana rasanya sakit hati, yang membuat aku yakin, aku ingin mencoba denganmu. Kalau kamu bersedia, kamu tahu kan kemana harus menghubungiku?"


Tamara menyeruput minumannya sambil memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh Bian. Jujur saja, dia pun sulit melupakan Edgar. Sudah berusaha sangat keras pun, rasanya sulit sekali. Padahal dia sudah membuang semua benda yang berhubungan dengan Edgar sampai tak tersisa.


Mulutnya sih selalu berkata dia rela melepaskan, tapi hatinya? Masih belum terima. Tapi karena tak ingin jadi jahat, tak mengapa dia yang tersakiti.


"Kalau apa yang dibilang Bian benar-benar bisa menyembuhkan luka, apa iya aku harus mencoba?"


Sejenak, Tamara pun berpikir untuk menerima tawaran dari Bian itu, tapi beberapa saat kemudian, Tamara menggelengkan kepalanya.


"Enggak! Ngapain juga aku terima tawarannya! Sendiri aja aku pasti bisa lupain Edgar."


*


*


TBC