
Si kembar tampak lebih ceria dan bahagia setelah orang tuanya kembali bersama. Tapi ada rasa sedih juga, karena mereka tak tinggal bersama lagi dengan paman mereka. Makanya mereka meminta pamannya sesekali untuk berkunjung kesana. Tentu saja Roni tak menolak ajakan itu.
Roni disambut dengan baik oleh semua keluarga Edgar. Dia diperlakukan sama seperti dulu, seperti bagian dari keluarga Edgar. Bahkan Mama Ola meminta Roni untuk tinggal bersama mereka lagi. Tapi kali ini Roni menolak karena dia sudah bukan remaja lagi seperti dulu. Mama Ola pun mengerti dan tak memaksa Roni lagi.
"Kalau kamu mau melamar wanita nantinya, jangan lupa kasih tahu Mama. Kamu udah seperti anak bungsu bagi Mama," ucap Mama Ola ke Roni.
Roni mengangguk.
Suasana rumah jadi ramai, karena tiba-tiba saja si kembar bertingkah disana. Kedua anak itu berakting jadi bawang merah dan bawang putih. Kia jadi bawang merahnya dan Mia jadi bawang putihnya. Akting keduanya sangat bagus sampai membuat semua orang yang menonton sangat takjub.
Tapi, setelah akting selesai, Kia langsung marah-marah nggak ke jelas Mia.
"Huh! Gara-gara kamu aku harus jadi bawang merah! Menyebalkan! Padahal aku nggak mau jadi apa-apa!" kesal Kia.
Rupanya, si kembar tadi berakting untuk latihan pentas seni di sekolah mereka yang akan diadakan sebentar lagi. Kia ditunjuk jadi bawang merah karena Mia yang menunjuk dirinya. Guru mereka pun setuju karena mimik wajah Kia yang cocok berperan sebagai antagonis.
"Harusnya kamu itu bersyukur, berkat aku kamu dapetin peran bagus daripada jadi pohon yang bergoyang doang di paling belakang," ucap Mia yang merasa dirinya telah melakukan hal baik untuk Kia.
"Tetap saja aku nggak mau!"
"Hih! Dasar keras kepala! Jangan nyusahin guru, mereka pasti akan kesusahan cari orang lagi karena waktunya sangat mepet."
Kia manyun dan melirik ke arah Mia. Ya, dia pun memang tak mau menyusahkan orang lain, tapi tak mau jadi bawang merah.
Sebuah usapan tangan mendarat di kepala Kia. Roni menasehati Kia dengan sangat lembut.
"Nggak papa jadi bawang merah juga. Setidaknya sekali kamu pernah tampil di depan banyak orang. Lagipula akting kamu dan Mia tadi bagus kok. Kapan pentasnya? Nanti Om janji deh bakalan datang."
"Bener Om bakalan datang?" tanya Kia yang langsung antusias.
Roni mengangguk. Kia pun jadi tak kesal lagi. Si kembar pun mulai berlatih lagi dengan diajari oleh Roni.
Raisa tersenyum senang. Dari dulu Roni memang lebih sering jadi penengah di antara kedua anak kembarnya. Karena terkadang kalau dirinya ikut campur yang ada suasana semakin runyam.
"Aku sangat berharap, Roni menemukan wanita yang tulus mencintainya."
"Pasti. Roni adalah laki-laki yang baik, yang begitu menyayangi kakak dan ponakannya. Dia pasti akan bertemu wanita baik," balas Edgar menanggapi ucapan Raisa.
Raisa menaruh kepalanya di bahu Edgar sambil melihat Roni yang sedang mengajarkan anak-anaknya latihan akting.
*
*
Suasana di sore itu berangin dan begitu cerah. Daun-daun berjatuhan juga berterbangan ke arah Pamela. Pamela berjalan di trotoar sambil menatap sekelilingnya yang begitu sepi.
Ketika melihat kursi di pinggir jalan, dia duduk disana. Menarik napasnya dalam-dalam lalu memejamkan matanya.
Suara angin menjadi penenang baginya. Sampai ketika sebuah tepukan tangan di bahunya membuatnya membuka matanya.
Ketika melihat Bimo yang ada di hadapannya, Pamela langsung menatap sinis ke Bimo.
"Ngapain kamu disini?" tanya Pamela.
"Nggak sengaja liat orang tidur disini, niatnya sih mau kasih uang, karena aku pikir gelandangan, tapi ternyata gelandangan premium."
"Sudah sanah pergi!" Pamela mengusir Bimo dari sana. Bukannya pergi, Bimo malah duduk di samping Pamela.
"Bukan urusan kamu!" Pamela mendorong-dorong tubuh Bimo sampai Bimo terjatuh ke tanah.
"Auh! Sakit tahu! Jadi wanita kok kasar banget. Pantesan aja nggak ada cowok yang naksir. Cantik-cantik kok galak!"
Pamela melepas sepatunya hendak memukul Bimo karena kesal. Namun Bimo keburu pergi dari sana sebelum diamuk oleh Pamela.
Setelah memasuki mobilnya, Bimo terus menggerutu kesal.
"Dia jadi cewek bar-bar banget. Padahal kalau sama Pamela dan si kembar, lembut banget. Kaya bijaksana gitu sikapnya. Eh taunya, kaya harimau yang mengaum."
Pamela tampak pergi dari sana dan Bimo mengikuti Pamela sampai wanita itu berhenti lagi di sebuah taman. Pamela merebahkan tubuhnya di atas rerumputan hijau sambil menatap ke arah langit yang berawan.
"Haaah!"
Pamela menarik napasnya dalam-dalam.
Lagi dan lagi, Bimo mendekat dan merebahkan dirinya juga di samping Pamela. Sontak saja Pamela langsung menendang mendorong tubuh Bimo lagi agar menjauh.
"Kenapa mengikuti aku sampai sini? Kamu mau aku laporkan sebagian penguntit, iya?"
"Haih! Santai aja kenapa, aku cuma nggak mau kamu bersedih terlalu lama. Kalau si kembar tahu, mereka pasti sedih Aunty Lala tersayang mereka seperti ini."
Seketika Pamela terdiam. Dia pun bangun dari posisinya jadi terduduk.
"Apa yang kamu lakukan kalau tiba-tiba dijodohkan dengan orang yang tidak kamu kenali?"
"Tolak lah, ngapain juga hidup bersama dengan orang yang tidak kita sukai. Yang ada malah nggak bahagia. Jangan sia-sia hidupmu yang berharga cuma karena keinginan orang tua. Ya meskipun aku tahu, mungkin maksud mereka baik."
Pamela langsung menoleh dan menatap tajam ke arah Bimo. Padahal Pamela tak bilang kalau itu adalah cerita tentang dirinya, tapi kenapa Bimo bisa tahu?
"Tertulis dengan jelas di keningmu, kalau kamu sedang galau," ucap Bimo seolah tahu apa yang Pamela pikirkan.
"Jodoh itu rahasia. Aku saja sampai saat ini masih terus berkelana. Sudah banyak wanita yang kucicipi dan aku temui, tapi belum ada yang bisa menggetarkan hati seperti Raisa. Sayangnya, dia sudah jadi milik sahabatku sendiri."
Mendengar hal itu, Pamela sungguh tak percaya ternyata Bimo menyukai Raisa. Benar-benar di luar dugaan.
"Tapi itu dulu, sekarang sudah tak lagi," tambah Bimo.
"Kenapa tiba-tiba kamu membuka rahasiamu di depanku?" tanya Pamela yang terheran-heran.
"Karena kamu duluan yang cerita sedang dijodohkan. Biar nggak cuma kamu yang cerita, aku pun harus berbagi cerita kan?"
Untuk beberapa saat, Pamela merasa dia selama ini telah salah menilai Bimo. Rupanya laki-laki di hadapannya masih memiliki hati dan tidak sebrengsek yang dia kira.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Sudah sangat jelas kamu menolak, lantas kenapa bingung?"
"Masalahnya, kalau aku menolak, aku harus bawa pacar ke rumah. Itulah masalahnya, sementara aku tidak punya, huh!"
"Bagaimana kalau aku jadi pacar pura-pura mu, dengan begitu kamu akan terbebas dari perjodohan itu kan?"
*
*
TBC