Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 63


Suara alarm dari ponsel Raisa terdengar, membuatnya terbangun dan segera membersihkan tubuhnya. Selesai itu, ia membangunkan si kembar dan menyuruh keduanya untuk mandi juga.


Rencana di hari itu mereka akan pergi ke menara Namsan sambil belanja-belanja di pusat perbelanjaan.


Beberapa waktu kemudian Raisa dan si kembar keluar dari kamar. Mereka berkumpul di meja makan yang sudah ada keluarga Edgar disana.


"Pagi," sapa Mama Ola ke Raisa dan si kembar.


"Pagi Oma," jawab si kembar bersamaan.


Si kembar pun duduk di dekat Mama Ola, sedangkan Raisa terpaksa duduk di sebelah Edgar karena kursi disana lah yang kosong.


Suasana sarapan di pagi itu begitu asik dengan canda tawa si kembar dan Jesper. Keluarga Gautama terlihat begitu bahagia. Bahkan kebahagian itu tak bisa dibeli dengan apapun. Padahal saat ini, perusahaan mereka masih belum pulih, tapi, demi keluarga yang utuh, mereka mengorbankan waktu mereka masing-masing.


*


*


Di pusat perbelanjaan, si kembar berjalan dengan lincahnya mencoba ini dan itu, keduanya bahkan mendandani Raisa dan Edgar dengan aksesoris yang lucu. Memakaikan Raisa dengan bando rusa, dan Edgar dengan bando Mickey mouse.


"Mendekat ke Mami, Pi. Aku mau fotoin," pinta Mia.


Jelas Edgar langsung menurut dan dengan seenaknya tangan Edgar langsung meraih bahu Raisa. Pas sekali adegan itu langsung dipotret oleh Mia. Dimana di saat itu, Raisa tampak sedang melihat ke arah Edgar.


"Mia, fotoin aku sama Mami dan Papi," pinta Kia.


"Bergaya dulu, yang lucu."


Kia pun menurut dan meminta Edgar dan Raisa mengikuti gayanya yang seperti harimau mengaum. Lalu bergantian lah Mia yang di foto disana.


Mia memanggil Mama Ola untuk membantunya. Dengan senang hati Mama Ola mau untuk memotret Edgar, Raisa dan si kembar. Bahkan Mama Ola mengarahkan Raisa dan Edgar untuk semakin mendekat jangan berjauh-jauhan.


Pose pertama dilakukan dengan gaya formal. Pose kedua dengan mereka yang tersenyum lebar sambil memperlihatkan deretan gigi mereka. Pose ketika dengan si kembar yang duduk di pangkuan Edgar dan Raisa. Lalu yang terakhir Edgar mencium pipi Mia, Raisa mencium pipi Kia. Di saat foto sudah selesai, Edgar memberi arahan ke Mama Ola untuk mengambil foto diam-diam.


Cup!


Edgar mencium pipi Raisa, yang membuat Raisa membelalakkan matanya. Berbeda dengan si kembar yang tersenyum senang sambil menaruh kedua tangannya di mulut dan kejadian itu terpotret oleh Mama Ola.


"Cie, cie," ledek si kembar ke Edgar dan Raisa. Raisa benar-benar sangat malu. Ia pun pergi dari sana karena kesal. Berbeda dengan Edgar yang tersenyum bahagia sambil memberikan jempol ke Mama Ola.


"Pi, sepertinya Mami marah."


"Nggak papa sayang, paling cuma sebentar. Biar itu jadi urusan Papi. Kalian nikmati lagi belanjanya. Sana pergi sama Oma buat nyusul Jesper."


"Oke siap, Pi. Jangan lupa bawa Mami dengan keadaan tersenyum. Soalnya kalau lagi kesel dan marah, Mami itu menakutkan."


Edgar tersenyum tipis sambil mengacak-acak rambut si kembar.


"Tenang, Papi sudah hapal gimana menjinakkan Mami kalian."


Si kembar pun pergi dengan Mama Ola, sedangkan Edgar pergi menyusul Raisa.


Raisa benar-benar kesal ke Edgar, bisa-bisanya laki-laki itu mencium dirinya di depan si kembar dan Mama Ola. Dia begitu malu dan marah. Tiba-tiba langkahnya terhenti karena tersadar dia sudah berjalan sangat jauh. Ia berbalik badan dan melihat tak ada orang yang dikenalinya sama sekali. Raisa panik, ia sangat takut kalau dirinya tersesat. Ia pun berjalan menuju ke tempat tadi, tapi ternyata, sudah tak ada di kembar, Edgar dan Mama Ola disana.


Mata Raisa mulai berkaca-kaca. Dirinya merasa takut untuk ditinggalkan. Apa mereka tak menyadari kalau dirinya tak ada?


Raisa berjalan dan berhenti di tempat duduk yang kosong. Ia menutup wajahnya dan menangis disana. Mau meminta tolong pun, ia tak begitu paham tentang bahasa Korea. Mau bicara pakai bahasa inggris, belum tentu juga orang sana mengerti ucapannya. Pada akhirnya yang bisa Raisa lakukan hanya menangis dan menunggu mereka sadar dirinya tak ada.


Setelah hampir beberapa menit menangis, Raisa merasa ada orang yang berdiri di depannya. Ia mendongak, dan benar saja, orang itu adalah Edgar.


"Kamu pikir, aku akan membiarkan kamu tersesat dan meninggalkanmu sendirian? Nggak akan Ca."


Refleks Raisa langsung memeluk tubuh Edgar yang berdiri di hadapannya. Raisa menumpahkan tangisnya disana. Ia benar-benar takut kalau ditinggalkan. Apalagi dia tak mengerti apapun disana. Gimana kalau dia tidak bisa pulang ke negaranya.


Pelukan pun terlepas, Edgar mensejajarkan tubuhnya dengan Raisa. Ia menghapus air mata di pipi Raisa dengan tangannya.


"Mau langsung pergi apa mau jalan-jalan berdua dulu?"


Raisa langsung mendorong Edgar hingga terjatuh sampai duduk di lantai. Raisa berjalan ke arah kiri, tapi dibenarkan arahnya okeh Edgar.


"Kalau mau menyusul mereka bukan kesana jalannya, tapi kesitu," ucap Edgar sambil menunjukkan jalan.


Raisa pun berbalik arah dan mengikuti apa yang diarahkan oleh Edgar. Edgar berdiri dari duduknya dan mengikuti Raisa dari belakang. Laki-laki itu tersenyum sambil sedikit tertawa. Sikap Raisa yang seperti tadi terlihat sangat lucu baginya.


"Jangan cepat-cepat jalannya, Ca. Kalau kamu tersesat lagi gimana?"


Mendengar itu, Raisa pun memperlambat jalannya. Akhirnya, kedua orang itu pun berjalan beriringan. Bahkan Edgar dengan sengaja memegang tangan Raisa supaya saling bergandengan.


Raisa berusaha melepas, tapi Edgar tak membiarkan itu terjadi.


"Jangan harap kamu bisa melepaskan tanganku. Karena aku tak akan membiarkan itu. Sekali sudah dipegang, akan aku pegang terus."


Raisa tak lagi memberontak, dia menikmati itu karena sejujurnya ia juga suka dan menginginkan hal itu. Di hari itu, Raisa membiarkan hatinya egois tanpa mengingat rasa sakitnya.


"Kamu tahu, aku jadi teringat pertama kalinya kita saling bergandengan dan tersenyum satu sama lainnya. Hari itu adalah hari pertama hubungan kita. Aku sangat bahagia mengetahui kamu juga menyukaiku. Hari yang tak pernah bisa aku lupakan."


Bukan hanya Edgar yang merasa seperti itu, Raisa juga. Raisa tak menyangka, Edgar menyukai dirinya yang dianggap sampah oleh orang lain. Bahkan Edgar memperlakukannya bak berlian yang begitu berharga. Sangat sulit untuk melupakan laki-laki di hadapannya ini. Karena begitu banyak kenangan indah daripada rasa sakitnya.


Tiba-tiba Edgar menghentikan langkahnya sampai Raisa jadi terheran sendiri dan ikut berhenti juga.


"Ca, maukah kamu kembali? Kembali merajut kisah kita yang yang sempat usai, dan melanjutkan cinta kita yang belum usai?"


*


*


TBC


Yuk komentar sebanyak-banyaknya, kasih bunga dan kopi yang banyak, biar tambah semangat, hehe.


Jangan lupa mampir ke cerita baruku, judulnya Tiba-Tiba Dilamar.