
Suasana di rumah Raisa sudah tak begitu tegang seperti tadi, bahkan kini Mama Ola dan Kia terlihat begitu akrab dengan Kia yang duduk di pangkuan Mama Ola. Kalau diingat-ingat lagi rasanya lucu sekali ketika Mama Ola dimarahi oleh cucunya sendiri.
"Maafkan Oma ya sayang, karena tak menyambut kalian dengan baik."
"Setidaknya, Oma tak jahat sampai akhir. Terima kasih karena sudah menerima kami."
Mama Ola rasanya gemas sekali dengan Kia, anak sekecil ini perkataannya begitu menusuk ke dalam hati. Tapi, entah kenapa dia malah bangga, karena dengan begitu, dia tak akan merasa khawatir berlebihan.
"Terus kalau bukan Oma yang jahat, kenapa Mami menangis?" tanya Mia sambil melihat ke Raisa. "Mami juga menyuruh Aunty Lala untuk membawa kami bermain dan menginap di apartemen Aunty. Itu kenapa?"
Raisa tak mungkin menjawabnya secara detail karena pasti si kembar pun belum mengerti. Raisa hanya menjelaskan dirinya memiliki masalah.
"Kata mami, kalau kita punya masalah, kita harus berbagi supaya masalahnya sedikit berkurang. Tapi kenapa Mami tidak berbagi ke kita?"
Raisa tersenyum kikuk, sementara Mama Ola dan Pamela menutup rapat bibir merasa menahan tawa. Si kembar memang terlalu pintar.
"Em, masalahnya Mami belum siap cerita. Jadi, nggak apa-apa, kan?"
"Hm, baiklah Mi. Tapi Mami harus janji, jangan kaya gini lagi. Jangan bohong-bohong lagi. Pokoknya Mami jangan bersedih lagi."
"Iya sayang."
"Aku pegang janji Mami. Kalau ingkar, Mami tahu sendiri konsekuensinya."
Raisa mengangguk.
Dua jam kemudian, si kembar tidur siang di kamar, sementara para orang dewasa duduk di ruang tamu. Mama Ola mengucapkan terima kasih ke Pamela karena telah menjadi sahabat baik Raisa dan selalu setia menemani Raisa.
"Itu bukan apa-apa Tante. Raisa juga baik ke aku."
"Tetap saja, karena kehadiran kamu, dia menjadi lebih kuat menjalani harinya. Kalau saja, anak bodohku tidak mengambil keputusan bodoh itu, mungkin mereka masih bersama sampai sekarang."
"Semuanya sudah ada jalannya Tante, mungkin emang jalan cerita mereka seperti itu. Kisahnya usai tapi cinta mereka tak pernah usai."
"Ya, kamu benar."
Raisa hanya menyimak saja disana. Ingin berkomentar, tapi kalau ia ikut-ikutan yang ada malah akan semakin runyam.
"Ca," panggil Mama Ola.
"Iya Ma."
"Besok ke rumah ya? Ini perintah bukan permintaan. Pokonya kamu harus datang ke rumah. Bawa si kembar juga."
Mau bagaimana lagi, Raisa tak bisa menolaknya. Jadi dia hanya mengangguk saja sebagai persetujuan.
*
*
Langit sudah memerah, pertanda malam akan segera datang, Pamela masih berada di rumah Raisa. Ia tak berniat untuk pulang karena ingin menginap disana. Ditambah suasana hati Raisa yang belum pulih sepenuhnya.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan tetap bekerja disana?"
"Entahlah, tapi untuk saat ini, aku memang tak bisa keluar dari sana. Aku membutuhkan biaya untuk menghidupi si kembar."
"Dasar aneh! Papi mereka loh kaya, kenapa kamu tidak minta dari Edgar? Pasti bakalan dikasih. Aku jamin."
"Selagi aku masih bisa memberikan yang layak untuk si kembar, aku tak mau meminta dari orang lain."
"Hah! Iya, iya, aku tahu. Begitulah kamu. Selalu berpegang teguh pada ucapanmu sampai akhir."
Raisa pun tersenyum tipis.
"Lalu, mengenai hubunganmu dan Edgar, bagaimana? Mama Ola sudah tak membencimu lagi, bahkan dia sekarang terlihat begitu menyayangi kamu. Pokoknya udah paket lengkap untuk kamu kembali lagi dengan Edgar."
"Keputusan terbaik untuk saat ini adalah tetap seperti ini. Aku dan Edgar akan tetap memberikan waktu untuk si kembar, tapi aku rasa, aku belum siap untuk kembali lagi bersamanya."
"Apa kamu takut kejadian seperti dulu terulang lagi? Kamu takut Edgar ingkar janji dan melepas kamu lagi?"
"Itu salah satunya, tapi jujur aku juga memang belum siap, La. Aku bahkan ragu, apa iya bahagiaku masih ada bersama Edgar?"
Pamela menepuk pelan pundak Raisa untuk memberikan semangat ke sahabatnya.
"Apapun keputusan kamu nantinya. Aku akan mendukung kamu. Kalau masih ragu, jangan katakan iya. Tapi kalau sudah yakin, jangan menunda-nunda."
*
*
Mungkin sebagian orang berpikir Raisa tak akan masuk kerja lagi di esok harinya. Tapi itu salah, Raisa tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang karyawan. Yang anehnya, wajah Raisa terlihat seperti kemarin tak pernah terjadi sesuatu disana. Rani dan Kendra bahkan merasa heran karena itu. Kedua orang itu bahkan jadi tak berani mendekat karena takut Raisa marah karena tak dibantu.
"Ken, gimana ya, aku jadi nggak enak nih sama Mba Raisa."
"Sama Ran."
Sampai pada akhirnya, Rais sendirilah yang menghampiri Rani dan Kendra duluan. Kedua orang itu masih terdiam.
"Kenapa kalian jadi pendiam mendadak?"
Bahkan ketika ditanya pun keduanya hanya bungkam tak menjawab.
"Padahal aku ingin bercerita tentang siapa mantan suamiku. Tapi sepertinya kalian tak mau tahu, ya? Ya sudah, aku akan pergi."
Di saat Raisa mulai beranjak dari sana, Rani memanggil.
"Mba." Raisa menoleh dan kembali duduk disana.
Rani dan Kendra, keduanya kompak menundukkan kepala kemudian mengucapkan kata maaf bersamaan. Mereka meminta maaf karena tak membantu Raisa ketika dalam kesulitan.
Raisa tersenyum tipis lalu meminta keduanya untuk bersikap seperti biasanya. Karena dengan sikap yang seperti sekarang, terasa aneh bagi Raisa.
"Yang sudah terjadi, biarlah, tak usah diingat lagi. Lagipula yang diucapkan kemarin oleh ibunya Tamara tak ada yang benar satu pun."
"Nah kan, apa aku bilang, Ran. Mba Raisa nggak mungkin seperti itu."
Kendra langsung menyahut yang membuat Raisa langsung tertawa kecil.
"Iya deh."
Raisa pun langsung menceritakan tentang mantan suaminya yang adalah Edgar. Keduanya tak begitu terkejut lagi karena memang sudah menduga-duga. Tapi, kalau mendengar langsung dari orangnya bersangkutan akan berbeda kesannya.
"Terus gimana lanjutannya Mba? Mantan suami Mba kan sudah jadi single juga sekarang. Apa kalian tidak ada niat untuk kembali bersama?"
"Aku tidak tahu, apa kembali bersama adalah keputusan yang baik atau tidak. Tapi untuk saat ini, menjalani hidup masing-masing rasanya lebih dari cukup. Kalau dia ini bertemu anak-anak ya silahkan, mengajak anak-anaknya menginap ya silahkan."
"Tapi Mba, apa Mba masih mencintai mantan suami Mba?"
Raisa terdiam cukup lama seperti sedang menyelami samudra luas di dalam hatinya. Mencari-cari jawaban yang sebenarnya sudah pasti Raisa masih mencintai Edgar.
"Nggak usah dijawab pertanyaan Rani kalau Mba emang nggak mau. Tapi dari penglihatanku, Mba masih sangat mencintai laki-laki itu. Semoga Mba nantinya, memilih keputusan yang terbaik" ucap Kendra.
*
*
TBC
Komentar sebanyak-banyaknya, biar aku tambah update-nya, hihi.