
Edgar mengantarkan si kembar pulang dengan keadaan keduanya yang tertidur. Dia langsung membawa si kembar ke dalam kamar mereka satu per satu. Setelah itu, dia tidak langsung pulang melainkan bicara dulu di depan rumah dengan Raisa.
"Aku sudah bilang pada semua keluargaku, kalau aku akan membatalkan pernikahanku."
Mendengar hal itu membuat Raisa terkejut karena ia tak bisa membayangkan huru hara apa yang akan terjadi ke depannya. Dirinya benar-benar tak habis pikir dengan Edgar yang begitu mudahnya mengambil keputusan tanpa memikirkan akibatnya.
"Kenapa kamu mengambil keputusan seperti itu? Kamu ingin aku dicap sebagai orang ketiga di antara kalian? Bahkan aku sudah mengatakan ke Tamara kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena pernikahan kalian pasti akan tetap berlangsung. Lantas kalau begini jadinya ... haah."
Raisa sudah tak bisa berkata-kata apa lagi, sementara Edgar, laki-laki itu fokus ke ucapan Raisa tentang pertemuan keduanya.
"Kapan kalian bertemu?" tanya Edgar.
"Beberapa hari lalu," jawab Raisa. "Kenapa kamu begitu terkejut?" tanya Raisa karena melihat wajah Edgar yang tak biasa.
"Aku tidak pernah menunjukkan foto kamu ke Tamara. Aku hanya menceritakan nama kamu saja. Apa itu artinya, dia pernah mengikutiku diam-diam bertemu denganmu?" Edgar menduga-duga hal seperti itu membuat Raisa jadi semakin panik saja. Padahal dirinya tak berniat untuk merebut Edgar, tapi kenapa seolah-olah terkesan begitu?
"Pokoknya aku nggak mau terseret ke dalam masalah kamu. Kalau bisa, kamu jangan batalkan rencana pernikahan kamu dan Tamara."
"Ca," panggil Edgar.
"Raisa, Edgar, Raisa. Aku harus bilang berapa kali sih supaya kamu tidak memanggilku dengan sebutan itu."
"Tolong jawab jujur pertanyaanku. Jangan pikirkan adanya Tamara dulu. Aku ingin kamu menjawabnya tanpa memikirkan orang lain. Aku ingin kamu memikirkan diri kamu sendiri."
"Sudah kamu pergi aja! Aku nggak mau orang sekitar jadi curiga."
Tapi, Edgar tak beranjak satu langkah pun dari sana, sebelum mendapatkan sebuah jawaban dari Raisa.
"Apa kamu tak pernah sedikitpun memikirkan aku walau kita sudah berpisah?"
"Tidak, hidupku saja sudah sulit. Untuk apa aku memikirkan mu. Hanya menambah beban pikiranku saja."
"Apa kamu yakin kalau kamu sudah tidak mencintai aku walau sedikit pun?"
Raisa menjawabnya agak lama.
"Tidak, aku sudah tak mencintai kamu."
Edgar tersenyum tipis.
"Bahkan kamu ragu dengan jawabanmu sendiri Ca. Aku mohon pikirkan si kembar. Mereka butuh kita sebagai orang tuanya."
"Kita masih tetap bisa memberikan kasih sayang walaupun secara terpisah," jawab Raisa.
"Tapi akan berbeda jika kita bisa memberikannya bersama. Melihat kita bersama dan akur, akan membuat mental anak jadi baik. Apa kamu tidak ingin melihat si kembar bahagia memiliki orang tua yang utuh?"
"Kita sudah selesai Edgar. Tak akan pernah ada lagi kelanjutannya."
Raisa menegaskan perkataannya.
"Ternyata kamu masih tetap sama. Masih tetap keras kepala. Kalau memang kisah kita bagimu sudah selesai, tak apa. Tapi, bisakah kita melanjutkannya karena si kembar? Apa iya kamu tega membuat mereka harus berbagi waktu kapan denganku dan kapan denganmu. Bukankah selalu bersama itu lebih baik?"
"Lebih baik kamu cepat pulang, Gar. Ucapanmu semakin malam semakin melantur."
Edgar menghela napasnya. Tapi sebelum pergi, ia mengucapkan kalimat yang terus terngiang-ngiang di kepala Raisa.
"Kisah kita mungkin sudah usai bagimu. Tapi aku rasa cinta kita tak akan pernah usai. Aku bisa melihatnya dari sorotan matamu. Jangan terus membohongi diri sendiri, Ca. Aku tidak akan menyerah untuk kita."
"Mami harus apa sekarang? Awalnya Mami ingin kalian dekat dengan papi kalian. Tapi kenapa makin kesini, papi kalian malah semakin ingin kembali?"
*
*
Dua hari telah berlalu, Edgar sudah mempersiapkan dirinya dan mentalnya untuk bertemu berkunjung ke apartemen Tamara untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Semakin lama ditunda, akan semakin buruk apalagi pernikahannya dan Tamara yang semakin dekat.
Edgar sudah ada di dalam apartemen Tamara. Pembicaraan mereka dimulai dari Edgar yang menanyakan tentang gimana bisa Tamara mengetahui wajah Raisa. Tamara pun jujur ke Edgar.
"Aku minta maaf, karena dengan sengaja menyembunyikan itu semua dari kamu. Aku hanya belum siap untuk menceritakannya. Tapi karena kini kamu sudah tahu. Aku tak bisa lagi diam, Tam. Rasanya hatiku akan semakin merasa bersalah sama kamu."
Edgar menghela napasnya sebelum melanjutkan ke pembicaraan selanjutnya.
"Aku tahu, sangat tahu kalau kamu adalah wanita yang sangat baik dan lembut hatinya. Kamu sangat sabar menghadapi aku yang begini. Bahkan ketika dulu aku selalu meminta kamu untuk pergi, kamu selalu bertahan di sisiku, sampai akhirnya aku membuka hati. Tapi aku baru sadar sekarang, kalau rasa cintaku yang sebenarnya bukan untuk kamu, Tam."
Tamara mulai meneteskan air matanya, ia sudah bisa menduga kelanjutan pembicaraan Edgar. Ia langsung memeluk Edgar dan tak mau lagi mendengarkan penjelasan Edgar.
"Kita akan tetap menikah meski kamu bilang cinta kamu bukan untukku. Aku bisa membuat kamu mencintaiku seperti sebelum kamu bertemu Mba Raisa lagi."
"Tam, kamu cantik, kamu terkenal, kamu baik, kamu sangat memiliki banyak kelebihan."
"Kalau sudah tahu begitu, kenapa kamu mau melepaskanku? Kamu berarti bodoh sudah melepaskan wanita seperti aku."
Tamara menangis sambil memukul dada bidang Edgar.
"Ya, aku memang bodoh karena melepaskan wanita seperti kamu. Tapi, aku tak akan menyesalinya."
Tangis Tamara semakin pecah mendengarkan ucapan Edgar itu.
"Kenapa kamu tidak berbohong saja? Kenapa kamu harus bicara sejujur itu? Kenapa Gar? Kenapa? Hu hu."
"Aku tak ingin membuat kamu semakin sakit Tam. Maafkan aku, karena sudah menyakiti hati kamu. Maaf juga karena aku tak bisa melanjutkan pernikahan kita. Kamu akan semakin sakit kalau pernikahan kita berlanjut. Semoga kamu bisa menerima keputusanku. Aku akan segera memberitahukan ini ke kedua orang tua kamu. Aku berharap kamu menemukan laki-laki yang lebih baik dari aku."
Tamara masih terisak dan memukul pelan dada bidang Edgar.
"Tak bisakah kamu memilih aku saja? Kenapa kamu harus memilih Mba Raisa?"
"Maaf Tam. Aku sendiri baru menyadari, aku menyayangi kamu bukan mencintai kamu. Selama ini aku menjaga kamu dan tak merusak kehormatanmu mungkin karena kau sendiri belum yakin dengan perasaanku sendiri. Intinya, kamu sudah kuanggap orang yang aku sayangi."
"Hu hu, tapi aku tidak mau Gar. Aku mau dicintai olehmu."
"Kelak kamu akan menemukan orang yang mencintai kamu."
"Jahat! Kamu jahat, Gar!"
Lagi dan lagi Edgar dipukul oleh Tamara. Edgar membiarkannya saja. Karena rasa sakit hati Tamara tak sebanding dengan pukulan yang ia terima dari Tamara. Ia benar-benar merasa bersalah pada Tamara.
*
*
TBC
Tinggalkan komentar yang banyak, supaya aku rajin updatenya, hihi.