
Si kembar sudah sampai di rumahnya, Bimo langsung cabut pergi sementara Pamela mau mampir dulu disana. Apalagi ketika dia masuk ke dalam rumah, bau opor ayam begitu menggugah selera makannya.
Tanpa tau malu, Pamela langsung duduk dan mencicipi opor ayam buatan Raisa.
"Gimana jalan-jalannya sama Aunty dan Om Bimo? Seru?"
Si kembar mengangguk.
"Cuma ya Mi, Om Bimo sama Aunty Lala itu kaya anak kecil, berantem terus kalau saling deket."
"Itu artinya mereka itu sayang sama kalian, makanya mau merebut perhatian dari kalian."
"Iya kita juga tahu kok Mi. Oh iya Mi, menurut Mami kalau Aunty Lala sama Om Bimo gimana?" tanya Mia ke Raisa.
"Gimana apa maksudnya?"
"Ya, kaya Mami sama Papi yang akan bersatu lagi. Apa Om Bimo sama Aunty Lala bisa gitu juga?"
"Mami nggak tahu sayang. Kan Mami nggak tahu juga gimana isi hati keduanya."
"Ah Mami nggak asik," ucap Kia.
"Iya nih Mami. Padahal kita itu mau ngedeketin Om Bimo sama Aunty Lala. Kasian masih pada jomblo."
Raisa langsung tersenyum tipis. Rupanya itu yang dimaksud si kembar.
"Ya udah deh, nanti Mami bantu juga. Sebenarnya Mami kasian juga ke Aunty Lala yang masih sendiri."
"Nah gitu dong Mi. Mulai besok Mami nggak usah jemput-jemput kita lagi ya. Minta aja Aunty Lala atau Om Bimo."
"Iya sayang. Mami ikut apa kata kalian aja deh."
Si kembar tersenyum senang.
*
*
Malam harinya, di saat si kembar sudah tertidur dengan pulas. Pamela bersandar di sofa ruang tamu rumah Raisa. Sejenak ia memejamkan matanya dan membuka matanya.
"Sepertinya kamu lagi ada pikiran ya, La? Mikirin apa?"
"Nggak tahu, aku juga bingung. Kaya udah jenuh banget sama hidup. Nggak ada tantangan lagi. Semua yang aku inginkan kaya sudah tercapai semua. Sampai bingung mau apa lagi yang harus aku capai."
"Ada satu yang belum kamu capai yaitu menikah."
"Ih apaan, nggak, nggak mau kalau itu. Bagiku semua cowok itu sama aja. B*jingan semua."
Raisa cuma bisa geleng-geleng kepalanya saja.
"Nggak semua kaya gitu, La. Kamu itu pacaran aja belum pernah udah bisa nge-judge semua cowok sama. Ya nggak bisa."
"Ya walaupun belum pernah pacaran, tapi aku udah tahu gimana rasanya di-ghosting tau. Cuma dideketin doang, eh pada akhirnya, dia jadiannya sama yang lain. Kan sakit jatuhnya."
Raisa pun diam tak menanggapi ucapan Pamela. Ya emang sakit sih kalau digituin. Tapi kan nggak semua cowok seperti itu.
"Ya, tapi kalau udah nemu jodoh mah, nggak bakalan kaya gitu, La."
"Ya terus? Emang kamu tahu mana yang jodoh sama aku? Emang ciri-ciri jodoh itu kaya apa?"
Lagi-lagi Raisa pun terdiam. Ia juga bingung gimana menjawabnya. Dulu dirinya berpikir Edgar adalah jodohnya. Tapi ternyata di tengah jalan kisahnya kandas. Tapi pada akhirnya mereka pun dipertemukan kembali dan disatukan lagi. Mungkin emang sudah jalannya seperti itu.
"Udahlah, Ra. Jangan bicara soal jodoh dan menikah sama aku. Aku udah cukup bahagia punya kamu sama si kembar. Toh, si kembar udah aku anggap anak sendiri."
"Emang kamu nggak mau punya anak yang lahir dari r*him kamu sendiri?"
Pamela cuma mengangkat bahunya aja terus memejamkan matanya seolah menolak untuk membahas apapun lagi. Pada akhirnya, Raisa pun tak bicara lagi.
*
*
Di meja makan, sudah tersaji berbagai macam makanan yang telah disiapkan oleh Raisa. Si kembar sudah duduk disana dan memakan makanan mereka. Begitu juga dengan Pamela yang ikut makan bersama. Hanya Roni yang tak ikut makan bersama karena harus berangkat kerja lebih pagi.
"Hari ini, sekolahnya diantar sama Aunty Lala ya, sayang."
"Iya Mi."
"Tenang aja, aku pasti mengantar mereka sampai tujuan dengan aman."
"Aku tahu itu La."
"Nanti pulangnya siapa yang jemput Mi?"
Raisa melirik ke arah Pamela, seolah meminta agar wanita itu yang menjemput si kembar.
"Aunty nggak bisa sayang, ada kerjaan sampe sore hari ini."
"Ya udah, nanti Mami coba tanya ke Papi atau Oma kalian. Intinya kalau belum ada siapa pun yang kalian kenal datang menjemput. Lebih baik tunggu aja di sekolah. Jangan pergi-pergi sendirian. Ingat ya ucapan Mami."
"Iya Mi. Kita ingat kok."
"Anak pintar."
*
*
Di siang hari, Raisa sedang duduk bersantai di samping kolam yang ada di restoran. Dia duduk sendirian disana sambil melihat ikan-ikan di dalam kolam.
Tiba-tiba, ada seseorang yang datang menghampirinya. Raisa awalnya sempat terkejut dan sedikit ketakutan. Ia sangat takut kalau mamanya Tamara akan menghinanya lagi seperti waktu itu. Tangannya sudah agak basah bahkan sudah gemetaran juga. Rasanya ia ingin cepat-cepat pergi dari sana.
"Maksud dan kedatanganku kesini untuk minta maaf sama kamu. Aku sadar, aku telah berbuat salah sama kamu. Tak seharusnya aku mempermalukan kamu di depan umum waktu itu. Aku hanya tidak terima putriku disakiti sampai tak sadar, ternyata aku juga telah menyakiti hati anak orang lain."
Yang awalnya merasa takut, rasa takut itu tiba-tiba menghilang secara perlahan. Melihat mamanya Tamara yang bersungguh-sungguh meminta maaf padanya, hati Raisa jadi luluh juga.
"Nggak papa kok Tante. Aku bisa memahami apa yang Tante rasakan. Lagipula semuanya sudah berlalu dan sudah teratasi dengan baik. Dan juga, Tamara sudah meminta maaf atas nama Tante padaku. Dia benar-benar wanita yang baik. Tante membesarkannya dengan sangat baik."
Mamanya Tamara jadi merasa lega, karena akhirnya dia bisa meminta maaf secara langsung dengan Raisa. Walaupun sejujurnya dia merasa malu pada kelakuannya sendiri.
"Sekarang Tante tidak usah merasa bersalah lagi."
Mamanya Tamara mengangguk lalu kemudian pergi dari hadapan Raisa. Tapi, sebelum itu, dia sempat mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Kalau kamu mau bersatu lagi dengan Edgar, Tamara sudah rela. Meskipun masih terasa sulit, tapi dia benar-benar sudah rela. Semoga kamu dan anak-anak kamu bisa hidup dengan bahagia."
Raisa merasa terharu mendengarkan kata-kata itu keluar dari mulut mamanya Tamara. Awalnya ia sempat berpikir, mungkin mamanya Tamara akan berulah lagi kalau sampai kabar rencana pernikahannya dipublish ke media. Ternyata kini tak perlu ada yang dikhawatirkan lagi olehnya.
Semua masalah seolah satu demi satu terselesaikan dengan baik. Tuhan begitu baik padanya. Setelah luka hebat yang dialaminya bertahun-tahun. Kebahagiaan sedikit demi sedikit mulai muncul tunasnya dan siap tumbuh besar lalu berbuah.
*
*
TBC
Yuk ramaikan dengan komentar guys. Jangan lupa kembangnya, hehe.
Yang punya Ig, bisa difollow ya Ig aku, hehe.