Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 51


Di kediaman Gautama, Mama Ola memerintahkan para pelayan untuk memasak makanan yang dulu sangat disukai oleh Raisa. Ia bahkan memastikan sendiri rasanya, takutnya berbeda. Tingkah aneh Mama Ola itu membuat Oma Deli merasa heran karena terlihat sekali seperti akan datang tamu penting.


"Siapa yang akan datang sampai kamu harus ikut terjun ke dapur, Ola?"


"Mama akan tahu nanti."


Oma Deli mendengus karena Mama Ola tak menjawab pertanyaan dengan gamblang. Ia berjalan menuju ke ruang tamu, dimana disana, Edgar sedang duduk sambil menatap ponselnya.


"Nunggu pesan dari seseorang?"


"Eh, Oma, enggak kok Oma," jawab Edgar berkilah.


"Kamu itu selalu saja berbohong. Sudah jelas-jelas kamu menantikan pesan dari seseorang. Kamu bahkan terus menatap ponsel itu sampai matamu hampir melotot."


Edgar hanya memperlihatkan deretan giginya.


"Gimana Raisa? Apa dia sudah memutuskan untuk kembali?"


Edgar menggeleng.


"Sepertinya Raisa tak membutuhkanku Oma. Bahkan sampai sekarang pun Raisa tak pernah meminta uang untuk membesarkan si kembar dariku. Meski begitu, aku sendirilah yang selalu inisiatif memberinya, tapi Raisa selalu menolak. Dia terlalu mandiri menjadi seorang wanita Oma sampai terlihat tak membutuhkan sosok seorang laki-laki lagi untuk berada di sisinya."


"Dia emang ibu yang hebat. Kamu akan menyesal kalau tidak bisa membawanya kembali kesini."


"Aku tahu Oma. Bahkan kini aku sudah menyesali semuanya. Semua keputusanku di masa lalu yang sangat bodoh. Aku pikir melepaskannya adalah jalan terbaik untuk membuatnya bahagia dan aku pun bisa bahagia. Nyatanya, Raisa memang terlihat bahagia, tapi aku tidak. Ingin kembali, tapi jalannya terlalu sulit untukku. Aku harus bagaimana Oma?"


Oma Deli menepuk pundak Edgar dan mengusapnya pekan.


"Kejar dan perjuangkan dia lagi seperti dulu kamu memperjuangkannya. Tunjukkan betapa berartinya dia bagi hidupmu. Satu hal yang perlu kamu ingat, jangan pernah melepaskannya lagi dan membuatnya kecewa. Kamu dan keputusan bodohmu sudah menjadi pelajaran hidup untuk kamu."


"Baik Oma, aku akan berusaha lagi."


Oma Deli tersenyum lalu pergi dari ruang tamu.


Dua jam kemudian, terdengar suara bel yang dibunyikan dari luar. Edgar yang paling dekat dengan pintu masuk langsung membukanya sendiri. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Raisa dan si kembar berada di hadapannya. Raut wajah Edgar langsung memucat seketika. Laki-laki terlihat sangat takut, ya takut kalau Mama Ola akan memperlakukan Raisa dengan buruk. Apalagi ada di kembar, Edgar tak mau mereka disakiti.


"Lebih baik kamu pulang aja, Ca. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk datang. Kenapa kamu tidak bertanya dulu padaku kalau mau kesini?"


"Aku diundang untuk datang, mana bisa aku pulang begitu saja."


"Iya, Pi. Kenapa Papi tega banget ngusir Mami padahal kan ... "


Ketika Mia akan menjelaskan kedatangan mereka kesana, Mama Ola sudah terlebih dulu muncul. Edgar berusaha berdiri di depan Raisa dan menyembunyikan keberadaan Raisa dari Mama Ola.


"Kenapa mama keluar?" tanya Edgar.


"Mama mencari seseorang, mama yakin dia sudah datang."


"Oma!" panggil Mia dan Kia yang muncul dari belakang Edgar. Keduanya berlari ke pelukan Mama Ola dan Mama Ola menyambut mereka dengan pelukan hangat dan senyuman.


Edgar yang melihat itu terbengong. Sejak kapan mamanya jadi begitu baik dan akrab dengan si kembar?


"Minggir!" dorong Mama Ola ke Edgar ketika sudah melepaskan pelukannya dari si kembar.


"Kamu menghalanginya untuk masuk."


Mama Ola menarik tangan Raisa dan membawanya masuk ke dalam rumah. Edgar benar-benar dibuat bengong terus. Laki-laki itu bertanya-tanya kapan kedua wanita itu bertemu dan berbaikan seperti sekarang? Edgar benar-benar penasaran. Namun pada akhirnya ia langsung tersenyum, karena jalannya malah dipermudah. Mungkin dengan berbaikannya Raisa dan Mama Ola, Raisa akan kembali bersamanya. Ia pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.


Raisa bertemu dengan Oma Deli, Oma Deli langsung memeluk Raisa karena begitu merindukan Raisa.


"Sudahlah Oma, semuanya sudah berlalu begitu lama. Lagipula semuanya sudah tak sama lagi. Yang sama hanyalah rasa sayangku ke Oma yang tak pernah berubah. Terima kasih karena menyambutku lebih dulu dan memberikan pelukan hangat untukku."


Tak terasa Oma Deli berlinang air mata. Dia sudah menantikan sejak lama Raisa akan kembali berada di tengah-tengah keluarga mereka.


"Sudah dulu ya pelukannya, mereka akan kelaparan kalau mama memeluk Raisa terlalu lama," ucap Mama Ola.


Mama Ola mempersilahkan Raisa dan si kembar duduk di meja makan. Dia bahkan menaruh makanan di piring Raisa seperti dulu lagi. Raisa terharu, karena Mama Ola masih mengingat semua makanan kesukaannya.


"Oma, aku juga mau," ucap Mia.


"Iya, Oma berikan juga."


"Kia juga."


"Iya sayang."


Melihat Mama Ola dan si kembar yang sudah akrab, Oma Deli pun merasa heran. Padahal sebelum-sebelumnya Mama Ola masih terlihat benci.


"Jangan menatapku begitu, Ma. Jangan heran dan jangan banyak tanya, karena aku tak mau menjawabnya. Intinya aku dan Raisa sudah berbaikan."


Mama Ola mengatakan begitu karena dirinya tak mau membahas tentang kesedihan Raisa. Biarlah kronologi berbaikannya dia dan Raisa menjadi rahasia dirinya dan Raisa saja.


"Baiklah, baiklah," ucap Oma Deli yang lalu ikut duduk disana.


Tiba-tiba Edgar datang dan masih terheran-heran. Apalagi mereka duduk dengan santai di meja makan. Bahkan dirinya tak diajak sama sekali. Ketika ingin duduk disana dan ikut makan bersama, Mama Ola langsung melarangnya.


"Jangan duduk disitu. Kamu tidak ada tempat disini."


"Ma, please! Aku juga lapar."


"Nggak ada, semua makanan disini untuk Raisa dan cucu-cucuku. Kamu buat aja sendiri."


Edgar manyun dan melirik ke Raisa dan juga si kembar untuk membantunya. Tapi ternyata tak ada tanggapan sama sekali. Dirinya merasa kesal lalu menyuarakan isi hatinya.


"Kalau anak kandung sudah pulang, anak tiri emang selalu ditirikan."


Mama Ola langsung menatap tajam ke arah Edgar, membuat nyali Edgar menciut dan pergi dari sana. Setelah Edgar pergi, barulah Raisa bicara.


"Kenapa Mama tak mengizinkan Edgar untuk ikut makan bersama?"


"Karena Edgar memang tak ada dalam rencana. Mama hanya ingin makan malam bersama kalian dan Oma saja."


"Kasian papi, Oma. Dia terlihat kelaparan tadi. Apa nanti aku boleh memberikan ini ke Papi?" tanya Mia sambil menunjukkan ayam bakar bagian dada.


"Sudah nggak papa. Papi kalian itu ornage dewasa. Kalau lapar pasti akan nyari sendiri nanti. Sudah nikmati saja makanan kalian."


Berbeda dengan Edgar yang kini sedang berada di luar rumah. Dia terus manyun dan menggerutu.


"Selalu aja begini, anak kandung berasa anak tiri, dan menantu adalah anak kandung."


*


*


TBC


Yuk bisa yuk! 100 like dan 20 komentar nanti update lagi, hihi.