
Di malam itu, Tamara dan Bian seolah hanyut dengan keadaan. Keduanya memang tak saling bicara. Tapi seolah-olah mereka sedang berbagi kesedihan walau cuma duduk samping-sampingan.
"Lumayan juga, kalau sedih ada temannya, aku jadi tidak terlalu merasa sedih," ucap Bian.
Tamara masih terdiam entah sedang memikirkan apa.
"Sepertinya kita harus bekerjasama untuk memulihkan hati masing-masing."
Seketika Tamara langsung melihat ke arah Bian.
"Ini adalah kali terakhir kita bertemu kecuali untuk urusan pekerjaan."
Tamara langsung berdiri dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan Bian. Bian tersenyum tipis melihat tingkah Tamara itu.
*
*
Si kembar pulang dengan dijemput oleh Mama Ola dibawa ke kediaman Gautama. Kehadiran si kembar disana disambut dengan senyuman manis oleh Oma Deli.
"Cicit Oma Uyut akhirnya datang lagi. Ayo sini. Kita kasih makan ikan yang ada di kolam," ajak Oma Deli.
"Ayo Oma Uyut," jawab si kembar bersamaan sambil meraih tangan Oma Deli. Sementara Mama Ola pergi ke dapur untuk meminta pelayan di rumahnya membuatkan makanan untuk si kembar.
Di depan kolam ikan, Oma Deli dan si kembar duduk di bebatuan. Mereka memberikan ikan mas dan koi itu makanan.
Si kembar begitu antusias ketika ikan-ikan saling berkerumun mendekat saat dia melemparkan makanan.
"Oma Uyut, ikan di kolam ini boleh dimakan?" tanya Mia.
"Boleh, tapi yang ikan mas nya aja. Tapi mereka kan masih kecil-kecil jadi nanti kita pancing kalau mereka sudah pada besar. Kita bisa bakar-bakar bersama di halaman belakang."
"Mau Oma Uyut, aku mau mancing. Aku belum pernah mancing sama sekali," ucap Mia antusias.
"Iya nanti ya, tunggu ikannya besar-besar."
"Yeee!" Mia bersorak ria sedangkan Kia biasa saja.
Kia tampak berjalan-jalan di sekitaran kolam. Dia berhenti berjalan di bawah pohon besar yang entah apa nama pohonnya Kia tidak tadi. Dia duduk di bawah pohon itu lalu memejamkan matanya. Seperti halnya orang dewasa, Kia begitu menikmati suasana hening dan sunyi itu sesaat. Karena tak lama kemudian, terdengar suara teriakan Mia yang mengajak mereka masuk lagi ke dalam rumah.
Mau tak mau Kia pun menurut dan masuk ke dalam rumah. Biasanya jika berkunjung kesana Kia tak melihat isi ruangan sedetail saat ini. Kini, Kia melihat satu per satu benda yang dipajang di ruang tamu. Ada foto keluarga dari papinya.
"Oma, apa nanti kalau aku dan Mia sudah tinggal disini juga, kita akan foto keluarga lagi? Di foto itu nggak ada aku, Mia dan Mami soalnya."
"Tentu saja, kita harus banyak berfoto," jawab Mama Ola.
"Papi terlihat keren disini," puji Mia ketika melihat foto Edgar.
Mama Ola tersenyum lalu mengajak si kembar untuk makan siang.
*
*
Rani dan Kendra tidak begitu terkejut kalau Raisa akan kembali dengan Edgar. Yang membuat terkejutnya adalah kedua orang itu menikah secepat ini. Bahkan belum sampai setengah tahun dari waktu pembatalan pernikahan Edgar dan Tamara. Meski begitu Rani dan Kendra akan selalu mendukung Raisa.
"Semoga lancar sampai hari H nya Mba. Aku senang sekali mengetahui kabar bahagia ini. Aku yakin, si kembar pasti sangat senang sudah tahu siapa Papi mereka dan bisa menghabiskan waktu dengan Papi mereka."
"Makasih ya Ran, kamu selalu baik sama aku dan si kembar. Aku memang bukan orang yang mudah terbuka dengan orang baru, tapi kamu memaklumi itu dengan menunggu dan tetap mendengarkan ceritaku. Aku benar-benar senang bisa berkenalan dengan kamu dan juga Kendra."
"Pembicaraan seperti ini kaya mau perpisahan aja Mba," sahut Kendra.
Raisa tersenyum tipis.
"Aku memang berencana untuk resign dari pekerjaan ini. Rencananya besok aku akan mengajukan surat pengunduran diri."
"Yah, Mba. Kok mendadak banget sih? Kita jadi kesepian dong kalau nggak ada Mba Raisa. Mana karyawan lain mah julid-julid semua."
"Ini nggak mendadak sama sekali. Aku sudah memikirkan semuanya. Untuk diriku, si kembar dan juga Edgar. Anak-anak butuh perhatian penuh dari aku. Kalau aku terus bekerja, waktuku bersama si kembar akan habis dengan bekerja. Walaupun pekerjaan ini adalah impianku, tapi kalau udah urusan anak, mereka lebih penting bagiku."
Kendra sih mengerti keputusan Raisa itu untuk kebaikan semuanya. Apalagi memang Raisa akan menjadi istri orang dan calon suaminya itu bukan orang sembarangan. Tanpa Raisa harus bekerja pun, kebutuhan Raisa dan si kembar pasti akan terpenuhi bahkan berlebih.
"Aku harap, meskipun Mba udah nggak bekerja disini lagi nanti, Mba bisa sering-sering berkunjung kesini dengan membawa si kembar. Intinya pertemanan kita jangan sampai terputus," ucap Rani.
"Tentu saja. Semoga kalian berdua juga segera dipertemukan dengan jodoh. Kalau perlu kalian jadian aja. Aku kira selama ini kalian begitu serasi," ucap Raisa yang membuat Rani dan Kendra saling menatap sinis dan seperti tidak setuju ucapan Raisa.
"Jangan bilang gitu Mba, Kendra ini terlalu lembek jadi laki Mba. Mana ngumpulnya sama cewek-cewek terus, yang ada mulutnya semakin hari semakin lemes kaya tukang gosip."
"Siapa juga yang mau sama kamu? Cewek kok nggak ada manis-manisnya sama sekali."
Raisa yang melihat perdebatan itu hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum tipis. Ia yakin, keduanya itu sebetulnya saling suka, hanya saja karena sudah terbiasa saling menyindir, mereka tak menyadari perasaan itu.
"Ya intinya, semoga cepet nyusul."
"Doain ya Mba, semoga aku dapat jodoh yang ganteng, maco, kaya raya dan punya mertua yang baik."
"Iya semoga," jawab Raisa.
"Jangan banyak menghalu, hidup dulu benerin. Jangan minta sesuatu yang ketinggian. Sadar diri kenapa?"
Rani pun menatap tajam ke Kendra karena kesal.
"Sudah, sudah, ayo kita masuk, jam istirahat sudah mau berakhir."
Mereka bertiga pun masuk lagi ke dalam restoran untuk melakukan pekerjaan mereka lagi. Raisa menatap setiap penjuru ruangan dapur yang selama ini menjadi tempat dirinya mencari nafkah. Begitu banyak kenangan yang dia punya di tempat itu. Dia juga belajar banyak hal dalam hal memasak dari nol sampai makanan dihidangkan ke pelanggan. Cita rasa harus jadi yang paling utama begitu juga dengan kebersihannya.
Selamat tinggal semuanya, terima kasih sudah memberikan aku banyak pengalaman disini. Terima kasih sudah menjadi tempat aku mencari nafkah. Banyak hal yang tak akan bisa terlupakan dari tempat ini.
*
*
TBC
Jangan lupa komentar dan like nya teman-teman