Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 56


Raisa masuk ke dalam rumahnya dengan rasa kesal kepada Edgar. Berbeda dengan Edgar yang senyum-senyum sendiri. Ia seolah-olah bernostalgia ketika mengejar Raisa di masa lalu. Cueknya, keras kepalanya, dan juga semuanya. Semua tentang Raisa selalu Edgar rindukan.


"Hore! Martabaknya udah sampe!" teriak Mia dengan girangnya. Kegirangannya bertambah ketika melihat Edgar muncul setelah Raisa datang.


"Papi!" Mia langsung berteriak dan berlari ke Edgar. Gadis kecil itu menarik tangan Edgar untuk duduk di sebelah Raisa.


Posisi duduk mereka yaitu Edgar dan Raisa berhadapan dengan Kia, Mia dan juga Roni. Mereka begitu lahap menyantap martabaknya. Hanya Raisa yang hanya mencicipi sedikit, karena dia memang tidak terlalu suka dengan makanan yang manis.


Sudah bisa ditebak kan, suka makanan manis itu turunan dari siapa? Tak lain dan tak bukan adalah dari Edgar.


"Papi kok tumben malam-malam kesini?" tanya Kia.


"Papi rindu anak-anak Papi. Makanya Papi berkunjungnya malam hari. Nunggu besok rasanya lama sekali."


"Papi nggak rindu sama Mami?" tanya Mia yang membuat Raisa terbatuk-batuk.


Roni dengan perhatiannya langsung memberikan segelas air putih untuk kakaknya.


"Papi sih rindu, tapi nggak tahu deh, boleh apa nggak merindukan Mami kalian."


Raisa langsung mendelik ketika mendengar ucapan itu dari Edgar. Sementara Edgar tersenyum tipis.


"Boleh lah Pi, itu kan hak Papi. Apa Papi mau menginap aja disini?" tawar Mia yang langsung disetujui oleh Edgar.


"Nggak! Nggak boleh! Mami nggak izinkan papi kalian menginap."


Wajah si kembar dan Edgar terlihat sedih.


"Yah, Mi. Kenapa nggak boleh? Kan Papi bisa tidur sama Om Roni. Boleh ya, Mi?"


Mia terus memohon agar Raisa membolehkan. Namun, Raisa tetap pada pendiriannya. Sekali tidak akan tetap tidak.


Waktu pun berlalu, satu jam sudah terlewati dengan begitu cepatnya. Si kembar pun sudah masuk ke dalam kamarnya dan sudah tertidur disana. Kini tinggal Raisa dan Edgar di ruang tamu, karena Roni pun sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Sesekali boleh kan, kalau aku ajak si kembar menginap di rumah?"


Raisa mengangguk.


"Mereka juga pasti menginginkan hal itu, biarlah mereka jadi dekat dengan keluarga mereka. Karena satu-satunya keluarga besar yang mereka miliki adalah dari keluargamu, dariku hanya aku dan Roni."


"Apa kita tidak bisa kembali seperti dulu, Ca?" tanya Edgar yang masih terus berjuang.


"Sudah aku katakan kalau kita masih bisa berhubungan baik, tapi hanya sebatas ornage tua si kembar."


"Harus sampai kapan kamu sekeras kepala ini, Ca? Sampai kapan? Mereka itu ingin keluarga yang utuh. Apalagi yang kamu takutkan sekarang? Semua keluargaku sudah tahu dan mereka begitu menyayangi si kembar, urusan dengan Tamara sudah selesai, berita tentang kamu di media sosial pun sudah mereda. Apalagi Ca yang kamu tunggu? Apalagi? Coba bilang, Ca!"


Edgar sampai mengeluarkan unek-uneknya yang ada di dalam kepalanya. Ia sungguh tak mengerti jalan pikiran Raisa.


"Mereka sudah cukup bahagia dengan mengetahui kamu sebagai papi mereka. Mereka akan tetap tumbuh dengan baik, meski kita tak bersama."


"Kamu egois, Ca! Sangat egois! Harusnya kamu lebih mementingkan mereka. Keluarga yang utuh akan membuat mereka tahu yang namanya arti sebuah keluarga."


Raisa terdiam karena tak mau menanggapi ucapan Edgar.


"Lebih baik kamu pulang, Gar. Ini sudah terlalu malam. Aku takut tetangga akan heboh, melihat ada lelaki di rumahku."


"Biar! Biar heboh sekalian! Kalau bisa aku ingin disidang sekarang juga biar bisa dinikahkan secara dadakan oleh Pak RT disini."


Raisa langsung mendelik lalu memukul dada Edgar.


"Ca, kamu bisa dengar kan seberapa cepat jantung ini berdetak karena kamu? Hanya kamu yang bisa membuatku seperti akan gila, Ca. Kehilanganmu, sungguh sesuatu yang aku sesali."


Benar, Raisa bisa mendengar detak jantung Edgar yang begitu kencang itu. Tapi Raisa tetap berusaha untuk memberontak.


"Lima menit, aku minta waktu lima menit."


Pada akhirnya Raisa membiarkan Edgar memeluk tubuhnya. Wangi tubuh Edgar masih sama seperti delapan tahun yang lalu yang selalu menjadi candu bagi Raisa.


"Aku merindukanmu, Ca."


Aku juga merindukanmu, Gar.


Raisa membalas perkataan Edgar tapi hanya di dalam hatinya.


"Andai dulu aku tak membuat keputusan bodoh itu, mungkin cerita kita tak akan seperti ini. Maafkan aku Ca. Maafkan pria bodoh ini."


Raisa langsung melepaskan pelukan Edgar karena matanya sudah berair. Ia takut kalau semakin lama berpelukan, ia akan semakin terhanyut dan malah menangis di pelukan Edgar.


"Belum lima menit, Ca," ucap Edgar.


"Pulanglah," pinta Raisa dengan wajah yang berpaling dari Edgar.


Pada akhirnya, Edgar pun pergi dengan kekecewaan dalam dirinya. Ia gagal lagi untuk merebut hati Raisa kembali.


Raisa menutup pintunya dan menguncinya dari dalam. Ia melihat dari jendela, Edgar yang memasuki mobilnya dan pergi dari area rumahnya.


Bodoh memang, sudah tahu cinta tapi kenapa terus ditolak. Jawabannya hanya Raisa saja yang tahu.


Tiba-tiba Roni mendekat ke Raisa dengan membawa minuman dingin di tangannya.


"Kalau masih cinta ya kembali Mba. Jangan membohongi hati dan diri Mba sendiri. Nanti akan semakin sakit Mba. Lagian aku perhatikan, Mas Edgar benar-benar serius ingin kembali dengan Mba. Perilakunya persis seperti dulu ketika selalu mencari-cari perhatian dari Mba. Mba berhak bahagia, si kembar berhak memiliki keluarga utuh, dan Mas Edgar pun berhak diberi kesempatan kedua."


"Jangan ikut campur, Ron. Ini masalahku."


"Nggak bisa Mba, aku harus ikut campur disini. Aku sebagai om Kimi, aku ingin mereka bahagia Mba. Please, lah, jangan terlalu banyak mikir kemungkinan-kemungkinan buruknya aja Mba."


Roni masih terus berusaha untuk menyadarkan Raisa dari keras kepalanya wanita itu.


"Kamu nggak tahu, gimana jadi aku Ron."


"Aku emang nggak tahu gimana jadi Mba. Yang aku tahu, Mba hanya mencoba kuat dan membohongi diri sendiri. Sekali-kali terlihat lemah dan membutuhkan sosok laki-laki, tidak apa-apa Mba. Tolong pikirkan baik-baik Mba. Semua jalan sudah dibuka lebar-lebar. Tinggal Mba aja yang mau jalan kesana atau mundur dan menyesal di kemudian hari."


Setelah mengatakan itu, Roni kembali ke kamarnya dengan meneguk minumannya. Raisa jadi terdiam karena terus memikirkan perkataan-perkataan Roni yang begitu menusuk uluh hatinya.


"Aku ingin jalan kesana, tapi aku masih ragu. Aku juga tak mau mundur dan menyesal tapi ... "


Raisa benar-benar bingung dengan hatinya. Sebenarnya apa yang diinginkannya? Maju belum mau, mundur pun tak mau.


*


*


TBC


Yuk ah komen sebanyak-banyaknya, biar semangat aku nulisnya. Kalau belum kasih kembang tujuh rupa, hahaha.