Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 36


Paginya, selesai sarapan, Roni pamit untuk pergi bekerja dan mengantarkan Kia ke sekolahnya. Seperti biasa selalu ada perdebatan kecil di antara Roni dan Pamela.


"Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya. Awas nanti keponakan kesayanganku terluka."


"Hih, aku juga nggak bakalan biarin dia terluka. Lagi pula aku kan Om terbaik mereka."


"Please! Jangan mulai lagi, bisa?" Raisa benar-benar sudah jengah dengan perdebatan mereka berdua.


"Aku dan Kia berangkat dulu Mba."


Roni memilih untuk segera berangkat daripada urusan semakin runyam. Setelah mobil Roni melaju, Pamela menyuruh Raisa untuk pergi bekerja juga biar Mia menjadi urusannya.


"Mana bisa aku meninggalkan kamu berdua saja dengan Mia. Lagipula kamu juga pekerjaan, La. Kamu terlalu sering membantuku."


"Jangan pikirin itu, orang hari ini aku sengaja minta libur. Kamu kerja aja, biar aku yang urus Mia. Mia mau kan dijaga sama Aunty Lala?"


"Mau Aunty," jawab Mia.


"Tuh, udah sanah pergi kerja aja. Mia akan aman bersamaku."


Mata Raisa menatap ke Mia untuk memastikan jawaban Mia.


"Mami kerja aja, Mia nggak akan nakal sama ngerepotin Aunty kok."


Raisa menghela napasnya lalu merealisasikan keinginan Mia dan Pamela. Ia bersiap-siap untuk berangkat kerja lalu berpamitan ke keduanya.


Kini hanya tinggal Pamela dan Mia di rumah itu. Keduanya tampak asik menonton kartun di televisi.


"Mia, Aunty mau tanya dong, gimana kesan kamu setelah bertemu Papi?"


"Em, apa ya?" jawab Mia sambil berpikir.


"Papi itu ganteng, tinggi dan mirip seperti aku dan Kia."


"Terus gimana setelah bertemu Papi, apa kamu tidak ingin tinggal bersama Mami dan Papi?"


"Sebenarnya aku ingin Aunty, tapi aku sadar kalau Mami dan Papi sudah berpisah. Papi juga memiliki kekasih."


Pamela tampak terdiam, anak sekecil ini sudah tahu masalah orang dewasa dan memahaminya. Dirinya jadi merasa prihatin dan ingin melihat keponakannya bahagia.


"Kalau semisal Mami dan Papi kembali bersama, apa kamu mau?" tanya Pamela lagi.


"Mau banget Aunty. Aku nggak pernah tahu gimana rasanya diantar ke sekolah oleh mami dan papi. Aku juga nggak tahu gimana rasanya tidur bersama mereka dan dibacakan dongeng oleh Papi. Aku ingin merasakan itu semua. Tapi, apa bisa?"


Mendengarkan langsung curahan hati Mia membuat hati Pamela sedih.


"Tenang aja, Aunty akan bantu supaya kalian bersatu."


"Really Aunty?" tanya Mia dengan penuh harap.


Pamela mengangguk.


*


*


Di kantornya, Edgar didatangi oleh Tamara tanpa pemberitahuan. Ia agak terkejut tapi tetap membiarkan Tamara untuk bertemu dengannya meski pekerjaan Edgar yang banyak di hari itu. Tamara dengan sabarnya menunggu Edgar menyelesaikan pekerjaan baru setelah itu bicara hal penting dengan wanita itu.


Sampai ketika pukul 11.00, Edgar sudah menyelesaikan pekerjaannya. Lalu menanyakan hal penting apa yang ingin dibicarakan oleh Tamara.


Sejujurnya Tamara sendiri belum siap untuk mendengarnya fakta yang ada. Tapi dirinya harus siap, daripada terus berasumsi dengan pemikirannya sendiri.


"Apa kamu memiliki anak dengan mantan istri kamu?"


Sontak saja pertanyaan itu langsung membuat Edgar terkejut. Laki-laki itu langsung bertanya-tanya darimana Tamara tahu.


Karena Edgar yang masih diam dan belum menjawab. Tamara mulai mengajukan pertanyaan lagi.


"Apa kamu tidak bisa jujur padaku? Aku tidak apa-apa kalau kamu memang memiliki anak. Lagipula, anak kamu nantinya juga akan jadi anak aku, kan? Sebentar lagi kita kan akan menikah."


"Jelaskan semuanya padaku. Jangan ada yang ditutup-tutupi."


Pada akhirnya Edgar pun menjelaskan semuanya. Tentang dirinya yang baru tahu kalau punya anak setelah bertemu dengan mantan istrinya. Bahkan bukan cuma satu melainkan dua. Tak hanya itu, Edgar pun memperlihatkan wajah anak kembarnya ke Tamara dan menceritakannya dengan wajah yang sumringah.


Tamara yang melihat itu hanya bisa tersenyum kecut. Apa ketika Edgar menceritakan tentang dirinya akan seantusias dan sebahagia ini?


"Bisa pertemukan aku dengan mereka?"


"Mereka? Si kembar maksud kamu?"


Tamara mengangguk.


"Tentu saja, nantinya kan dia juga akan jadi anak-anak aku. Aku harus mendekatkan diri ke mereka."


"Waktunya belum tepat untuk sekarang."


"Atur saja waktu yang tepatnya, aku tunggu," ucap Tamara.


"Baiklah," jawab Edgar.


Selesai bicara dengan Tamara dan wanita itu telah pergi dari ruangannya, Edgar mengacak-acak rambutnya. Ia benar-benar menyalahkan dirinya sendiri karena belum bisa jujur ke Tamara tentang perasaannya yang sebenar-benarnya. Seharusnya tadi ia langsung mengatakannya agar Tamara tak terlalu sakit.


"Arghh!"


"Bagaimana bisa aku menyakiti wanita sebaik Tamara? Tapi ... kalau aku terus melanjutkan ini, dia akan semakin sakit hati. Bodoh! Bodoh! Bodoh!"


Edgar masih terus mengatai dirinya sendiri 'bodoh'. Dia sendiri sadar itu karena memang baru menyadari perasaannya yang sesungguhnya. Kalau jadinya begini, mungkin dia tak akan membiarkan orang lain berada di sisinya daripada harus menyakiti hatinya.


"Maaf, maafkan aku Tam. Aku tak bisa melanjutkan ini semua."


*


*


Sepulang kerja, Edgar tak langsung pulang ke rumahnya. Ia malah berkunjung ke rumah Raisa dan mendapati anak-anaknya sedang bersama Pamela. Sepertinya Raisa belum pulang dari kerjanya. Meski begitu, Edgar tetap masuk ke rumah Raisa untuk menemui anak-anaknya.


Laki-laki itu menanyakan keadaan Mia apakah sudah baikan atau belum juga membawakan makanan kesukaan si kembar yang sengaja ia beli sebelum kesana. Ia juga main-main sebentar dengan si kembar lalu membiarkan si kembar main berdua.


Edgar memilih berbicara dengan Pamela.


"Sebelumnya aku mau mengucapkan terima kasih karena kamu sudah menemani Raisa di masa-masa tersulitnya. Sudah ikut menjaga dan merawat si kembar juga sampai mereka sebesar ini sekarang. Kalau saja aku tahu Raisa sedang mengandung waktu itu, mungkin aku tidak akan mengambil keputusan yang ceroboh."


"Tidak usah mengucapkan terima kasih padaku. Aku sudah menganggap Raisa sebagai saudaraku sendiri, begitu juga si kembar yang sudah aku anggap anak-anakku sendiri. Mengenai keputusan itu, apa kamu kini menyesalinya?"


Edgar terdiam, tapi Pamela tahu jawabannya dari ekspresi wajah Edgar.


"Sebelum semuanya terlambat, lebih baik kamu selesaikan masalahmu. Tanya hatimu sendiri lebih condong kemana. Kalau kamu sudah memutuskan akan memilih yang mana, perjuangkan, dan jangan pernah menyakiti hatinya."


"Sejujurnya, aku sudah tahu mana yang akan aku pilih."


"Bagus kalau begitu. Kamu tinggal memperjuangkannya."


"Masalahnya tidak semudah itu," jawab Edgar dengan wajah yang bersedih.


"Mudah sebenarnya, kamu hanya pikirkan apa yang membuat kamu bahagia dan jangan pikirkan hal selain itu. Dengan begitu, semua rintangan yang ada di depanmu pasti akan kamu hadapi sekuat semampumu. Terkadang kita memang harus egois untuk mendapatkan kebahagiaan. Memang, pasti akan banyak hati yang dikorbankan, tapi itu lebih baik daripada hatimu akan terus tertekan sepanjang waktu."


Ucapan Pamela itu, seolah-olah sudah tahu siapa yang dipilih oleh Edgar padahal Edgar tak mengatakan siapa yang dipilihnya. Tapi, karena ucapan itu juga, Edgar jadi memiliki sedikit keberanian diri untuk memperjuangkan kebahagiaannya.


*


*


TBC


Tinggalkan komentar, supaya aku lebih semangat lagi nulisnya.