Cinta Kita Belum Usai

Cinta Kita Belum Usai
Part 78


Edgar mengetuk pintu kamar mandi karena sudah hampir setengah jam lebih Raisa di dalam.


"Kamu nggak ketiduran di dalam kan, Ca?"


"Nggak kok," jawab Raisa.


"Ya udah, cepet keluar, aku juga mau mandi," pinta Edgar yang membuat Raisa jadi panik sendiri.


Di dalam kamar mandi, Raisa benar-benar dibuat bingung gimana dia keluar dari sana. Pasalnya, gaun yang dipakainya tadi jatuh dan jadi basah. Belum lagi ketika dia ingin keluar, hanya ada handuk kecil yang Baisa untuk mengeringkan rambut saja. Mana bisa untuk menutupi bagian inti di tubuhnya.


"Ca, cepat keluar dong! Aku kebelet pipis nih!"


Raisa benar-benar panik, sampai akhirnya dia pun meminta Edgar untuk membawakan baju ganti dari dalam koper.


Edgar menurut dan memberikan baju ganti ke Raisa, tapi yang Edgar berikan justru lingerie yang sangat seksi.


"Baju yang lain Gar, jangan ini."


"Kenapa emangnya? Toh aku udah pernah liat semuanya, pernah merasakannya juga malahan. Kenapa kamu masih malu aja sih, Ca? Kamu keluar tanpa busana pun nggak masalah. Kan hanya kita berdua."


Dengan entengnya Edgar bilang seperti itu padanya. Ya walaupun memang benar. Tetap saja itukan 8 tahun lebih yang lalu. Sudah sangat lama sekali. Tetap saja Raisa meras malu. Apalagi di dalam perutnya ada bekas strechmark ketika dia mengandung dulu. Dia tidak percaya diri, meskipun bekasnya sudah sedikit memudar.


"Keluar sekarang, atau aku dobrak pintunya!"


Mau tak mau Raisa pun memakai lingerie merah menyala yang diberikan oleh Edgar. Dia merasa risih karena bagian tubuhnya terlalu terekspos dengan mudah.


Raisa membuka pintu kamar mandi dengan membelakangi Edgar. Raisa bahkan berjalan mundur saking tidak maunya Edgar melihat dirinya yang memakai lingerie.


Edgar tersenyum tipis, lalu menarik Raisa sampai wanita itu membalikkan tubuhnya. Refleks Raisa langsung mencoba menutupi dadanya dan **** * nya.


"Udah aku bilang, aku sudah lihat semuanya. Tapi kalau dilihat-lihat lagi yang sekarang lebih berisi ya?"


Mata Raisa langsung terbelalak dan tak sadar langsung memukul lengan Edgar. Tapi Edgar hanya diam saja lalu kemudian menarik tangan Raisa dan membawanya kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Ceklek!


Edgar langsung mengunci pintu kamar mandi itu lalu mengukung Raisa dengan tubuhnya.


"Ed-gar," panggil Raisa dengan rasa gugupnya.


"Kamu buat aku gila, Ca. Aku udah nggak tahan," ucap Edgar yang langsung mencium bibir Raisa.


Awalnya Raisa hanya diam saja tapi lama kelamaan dia terhanyut juga dengan kelembutan yang diberikan Edgar. Ciuman itu terus berlanjut dengan Edgar yang mengecup leher Raisa sampai wanita itu mend*sah. Lalu langkah selanjutnya, Edgar membuka pintu yang terkunci dan menggendong Raisa dan menjatuhkannya di atas ranjang. Merobek lingerie yang dikenakan Raisa sampai tak tersisa satu helai kain pun, begitu juga dengan pakaian yang Edgar kenakan, ia lempar begitu saja.


Hubungan suami istri pun terjadi di malam itu.


*


*


Paginya, Raisa terbangun karena mendengar bunyi ponselnya yang terus berdering. Ia mengambilnya dengan tangannya lalu melihat Mama Ola yang menelpon dengan panggilan video.


Raisa yang masih tak mengenakan apapun, langsung menarik selimut agar menutupi tubuhnya sampai leher lalu menerima panggilan video itu.


"Mami! Mami kemana? Kok nggak ada di rumah?" tanya Mia yang terlihat sedih dengan mata yang sudah sembab.


"Mami ada di hotel sayang, nanti Mami pulang kok," jawab Raisa.


"Mami jahat banget! Kenapa kita nggak diajak nginep di hotel juga?! Padahal aku dan Kia ingin tidur sama Mami dan Papi."


"Bukan gitu, Mami kecapean sayang, kalau pulang ke rumah terlalu jauh. Makanya Mami dan Papi nginep di hotel."


"Bohong!" ucap Kia sambil menunjukkan wajahnya yang ternyata sama seperti Mia yang sudah sembab oleh air mata.


"Pasti Mami mau buang kita ke Oma kan? Karena Mami mau bikin adek baru? Aku denger kok kemarin, Oma bilang, biar Oma yang jaga kami."


"Emang kalian nggak mau punya adik? Punya adik itu seru loh, jadi ada yang dimainin."


"Nggak mau, punya adik satu aja repot, Pi," jawab Kia.


"Aku mau Pi, soalnya Kia nggak satu selera sama aku, susah diajak mainnya. Kali aja kalau aku punya adik, bisa jadi bestie, hehe."


Edgar tersenyum mendengar jawaban dari Mia.


"Papi akan kabulkan tenaga aja."


"Pi ..." Kia memelas dengan wajah sedihnya.


"Papi akan buat adik yang nggak bikin kamu repot sayang. Kasih ponselnya ke Oma, Papi mau bicara sama Oma."


"Halo, Gar, untung aja kalian angkat teleponnya. Soalnya Mama pusing, dari pagi si kembar nangis terus karena kalian berdua nggak ada di rumah. Mereka tuh mikirnya kalian nggak mau bawa mereka."


"Maafin si kembar ya Ma, pasti mama kerepotan deh. Aku dan Edgar akan pulang hari ini kok," ucap Raisa yang merasa Tidka enak pada mama mertuanya.


"Enggak, enggak papa, Mama nggak repot kok, cuma sedih aja lihat mereka nangis. Kalian nikmati aja waktu berduanya. Biar Mama cepet dapat cucu baru. Gimana? Semalam malam pertamanya lancar kan?"


Wajah Raisa langsung memerah kala ditanya seperti itu. Sementara Edgar malah antusias menjawabnya.


"Lancar jaya Mi. Pokoknya tenang aja. cucu baru akan segera launching!"


*


*


Raisa memukul pelan lengan Edgar karena terlalu jujur ke Mama Ola. Dia rasanya malu.


"Udah sih nggak usah malu gitu. Lagipula, Mama juga udah pengalaman. Namanya juga pengantin baru."


Edgar menjawab dengan santai lalu mendapatkan pukulan lagi dari Raisa. Tapi karena tubuh Edgar yang menghindar, Raisa jadi jatuh ke atas tubuh Edgar.


Rasanya tubu Edgar jadi panas dingin setelah merasakan dada Raisa yang mendarat tepat di dada bidangnya. Kejadian semalam seolah ingin ia ulang lagi saat ini.


"Ca, lagi yuk!" pinta Edgar.


"Lagi apa?" tanya Raisa yang tidak paham.


"Jangan pura-pura nggak tahu deh!"


"Apa sih?"


"Itu, aku mau lagi!"


"Ya apa?"


"Kamu!" ucap Edgar yang kemudian merubah posisi jadi Raisa yang di bawahnya.


"Gar, sudah siang!" ucap Raisa yang berharap Edgar tak melakukan kegiatan yang semalam.


"Emang kenapa kalau siang? Emang nggak boleh? Kan nggak ada aturannya."


Edgar langsung mencium Raisa lagi dan melakukan hal seperti semalam. Dia seolah terus merasa candu dengan Raisa. Rasanya dia ingin lagi dan ingin terus. Begitu juga yang dirasakan Raisa. Meski awalnya malu, tapi dia selalu tak bisa menolak sentuhan dari Edgar.


*


*


TBC


Jangan lupa komentar guys.