Bunda untuk El

Bunda untuk El
23. Jatuh Sakit


enam bulan sudah berlalu hubungan Nazra dan Razeel semakin lengket hampir setiap hari Razeel bertemu Nazra bahkan pernah beberapa kali Razeel menginap di kediaman Adhitama saat ayahnya keluar kota


Razeel juga sudah mulai sekolah sejak tiga bulan yang lalu, hari pertama Razeel sekolah dia di antar Shadev dan Nazra yang menjemputnya saat pulang sekolah, saat Razeel menginap di kediaman Adhitama barulah Nazra yang mengantar Razeel


Nazra dan putra keluarga Bagaskara juga sudah akrab, Atha juga sudah mengizinkan jika Nazra pergi entah itu bersama Shadev Dhafi ataupun Rafa asalkan tidak berdua saja


Namun sudah satu minggu ini Nazra tidak bertemu dengan Razeel dikarenakan Nazra tengah sibuk mempersiapkan tempat untuk membuka butik, Nazra sudah mempekerjakan beberapa penjahit dan akan menambah karyawan karena itulah dia membutuhkan tempat yang lebih besar, Nazra akan membuka butik dan di bagian belakang butik barulah terdapat konveksi tempat menjahit


Baju baju yang Nazra desain booming di kalangan remaja membuatnya harus memproduksi lebih banyak lagi, kini Nazra bukan hanya mendesain atasan wanita saja, Nazra juga sudah mendesain gamis.


Hari ini Nazra akan melihat tempat yang akan di jadikan butik dan konveksi yang sudah hampir selesai di renovasi, semua yang Nazra lakukan tentunya mendapatkan bantuan dan dukungan dari Abang dan abinya


Selain sibuk dengan usaha yang tengah di bangunnya Nazra juga sibuk bimbingan skripsi membuat Nazra semakin tidak ada waktu untuk berleha-leha bahkan Nazra sampai lupa makan dan sering tidur larut malam meski Adzam dan Atha sudah sering mengaitkan namun masih saja Nazra bisa lupa dengan dua pesan penting yang tidak pernah lupa diucapkan dari dua laki laki tersayangnya


"Ra muka Lo pucat, Lo sakit ya" ucap Maura karena memang Maura lah yang menemani Nazra saat ini


"iya nih aku sedikit pusing mungkin karena kecapekan" ucap Nazra


"Ya udah kita pulang aja ya biar lo bisa istirahat dulu" ucap Maura


Nazra mengangguk karena pening di kepalanya semakin terasa "Ra Lo udah makan gak" tanya Maura saat mereka sudah berada di dalam mobil


Nazra menggeleng pagi tadi dia tidak sempat sarapan karena buru buru pergi bimbingan setelah bimbingan Nazra mengerjakan revisinya agar tidak lupa bahkan Nazra juga tidak sempat makan siang karena langsung pergi ke tempat konveksi


"Tuh kan Ra kebiasaan Lo kalo udah sibuk pasti lupa makan, jangan bilang Lo tadi malam tidur larutan malam?" tuding Maura yang di jawab Nazra dengan anggukan rasanya dia sudah tidak sanggup berbicara karena pusing di kepalanya semakin menjadi jadi


"Ya Allah Ra kita ke rumah sakit aja ya" ucap Maura namun Nazra menggelengkan kepalanya


"Ke rumah aja" ucap Nazra lemas


mau tidak mau Maura menuruti ucapan Nazra karena Abi Nazra seorang dokter sehingga abinya bisa merawat dari rumah "Iya kita ke rumah" ucap Maura


sesampainya di kediaman Adhitama Maura langsung membantu Nazra keluar, mbok asih yang membuka pintu sontak terkejut melihat Nazra yang lemas "Astaghfirullah neng Ara kenapa?" tanya mbok asih langsung membantu Maura memapah nazra


"Ara demam mbok bantuin mau bawa Ara ke kamarnya dong" ucap Maura


Mbok asih langsung menutup pintu dan membantu Maura membawa Nazra ke kamarnya, mereka dengan susah payah menaiki tangga, kini Nazra sudah berbaring di atas kasurnya


"mbok telpon Abi ya sekalian bawa makanan dan kompres buat Nazra" ucap Maura yang memang memanggil Adzam dengan panggilan Abi sama seperti Nazra dan Atha, bukan hanya Maura Aya pun memanggil Adzam dengan panggilan Abi


Mbok asih mengangguk lalu bergegas turun untuk menelpon Adzam dan menyiapkannya makanan untuk Nazra


.........


Mendengar putrinya sakit Adzam bergegas pulang setelah menelpon putranya lebih dulu, Sesampainya di rumah adzam langsung berjalan menuju kamar putrinya, saat masuk ke dalam kamar Nazra Adzam bisa melihat mbok Asih dan Maura yang turut menemani Nazra


"Gimana mbok Ara sudah makan siang?" tanya Adzam


"Cuman makan sedikit pak habis itu neng Ara langsung tidur" ucap mbok asih


Maura dan mbok asih menjauh saat Adzam mendekati Nazra, Adzam melakukan serangkaian pemeriksaan pada putrinya "Dek bangun dulu ya makan obat" ucap Adzam setelah selesai memeriksa kondisi Nazra lalu membangunkan putrinya


Nazra membuka matanya "Dek makan obatnya dulu ya biar cepat sehat" ucap Adzam lagi


Nazra mengangguk kecil, Adzam membantu Nazra duduk lalu memberikan obat yang sudah dia siapkan Setelah memeriksa kondisi Nazra


Nazra meminum obat yang di berikan Adzam di bantu air putih, setelah minum Nazra kembali tidur, Adzam mengecup kening putrinya lalu memperbaiki selimut Nazra


"Biarin Ara istirahat dulu" ucap Adzam pada mbok asih dan maura sebelum keluar dari kamar putrinya


Tidak berselang lama setelah Adzam keluar Atha masuk ke kamar adiknya "Gimana keadaan Ara mbok?" tanya Atha pada mbok asih


"Neng Ara lagi istirahat habis makan obat den bapak tadi nggak bilang apa apa cuman nyuruh biarin neng Ara istirahat" ucap mbok Asih


Atha mengangguk mengerti mungkin kondisi adiknya akan dia tanyakan pada Abinya langsung "Cepat sembuh adek Abang" ucap Atha mengecup kening adiknya yang terasa panas


Setelah mengecup adiknya Atha keluar di ikuti mbok asih dan Maura agar Nazra bisa beristirahat dengan tenang di kamarnya "Aden sama Neng Maura udah makan siang?" tanya mbok asih saat mereka berada di tangga


Atha dan Maura kompak menggelengkan kepala "Ya udah makan dulu Aden sama Neng Maura sekalian mbok mau tanya bapak udah makan atau belum" ucap mbok asih


"Langsung ke ruang makan aja mau" ucap Atha


Maura tersenyum kikuk hanya di depan Atha dia bisa merasa gugup "Iya bang" ucap Maura mengikuti langkah Atha menuju ruang makan


Sesampainya di ruang makan pun mereka hanya diam diaman sedangkan mbok asih sedang memanggil Adzam, Maura ingin sekali berbicara dengan santai sama Adzam namun melihat pujaan hatinya saja Maura langsung gugup


"Nunggu Abi" jawab Atha "Bi adek gak papa kan?" tanya Atha


Adzam mengangguk "Adek kamu kecapekan maag adek juga kambuh karena telat makan dan dehidrasi" ucap Adzam menjelaskan "Mbok kalau Ara bangun siapin air hangat untuk Ara" ucap Adzam langsung di anggukan mbok asih


"Ya udah mari makam" ucap Adzam


Keempat manusia itupun mulai makan, sebenarnya Maura tidak akan malu jika hanya ada Adzam dan mbok Asih namun di depannya ada Atha sehingga Maura jaga image dan malu malu meong


"Neng Maura makannya dikit banget lagi diet ya neng" ucap Mbok asih yang mengamati makanan Maura


Maura terkekeh "Iya mbok" ucap Maura berbohong mana bisa dia diet dan menahan selera makannya


"Ngapain diet mau kamu gak gemuk loh" ucap Atha membuat Maura jadi senam jantung


Maura terkekeh menghilangkan rasa gugupnya "Buat jaga pola makan aja kok bang bukan diet ekstrim untuk nurunin berat badan" ucap Maura di balas Atha dnegan anggukan mengerti


.........


Di saat Nazra sakit di situlah sifat manjanya akan keluar sejak Nazra bangun soreh tadi dia terus merengek pada Abi atau abangnya "Abang pusing" ucap Nazra


Atha mendekati adiknya untuk memijat pelan kepala Nazra, Tadi siang Nazra sudah kelewat pusing sehingga tidak bisa bersikap manja seperti saat ini yang ada di pikirannya tadi hanya tidur


"Abi adek mual" ucap Nazra saat melihat Abinya datang dengan segelas air hangat


"Ini minum air hangat dulu" ucap Adzam mendekati putrinya, Nazra menerima gelas pemberian Adzam dan meminum airnya setengah


"Adek mau makan?" tanya Adzam


"nggak mau Abi nanti adek muntah" ucap Nazra


"adek harus banyak makan biar cepat sehat" ucap Adzam "Adek pengen makan apa biar Abi suruh mbok asih buat atau adek pengen makanan di luar nanti bang Atha beli" ucap Adzam


"Ara mau martabak telor boleh nggak bi?" tanya Nazra


Adzam mengangguk saja dari pada putrinya tidak makan "Abang beliin adek martabat telor ya" ucap Adzam pada putra sulungnya


Atha mengangguk "Ada yang lain dek, Abi juga pengen makan sesuatu nggak biar Atha beli sekalian" ucap Atha


"Abi jadi pengen martabak manis bang" ucap Adzam


"Abang sekalian bilang mbok Ara pengen makan sup daging" ucap Nazra


"Siap tuan putri, Abang keluar dulu ya" ucap Adzam mengecup kening adiknya "Abi Adzam keluar dulu" ucap Adzam mencium punggung tangan abinya sebelum pergi


Karena Atha pergi Adzam menggantikan posisi Atha sambil memijat pelan kepala Nazra "Lain kali gak boleh sampai telat makan lagi dek, Abi sudah sering bilang sesibuk apapun jangan sampai lupa makan sama istirahat" ucap Adzam


"Iya Abi maafin Ara" ucap Nazra sadar akan kesalahannya


Adzam mengangguk "Abi suka putri Abi sudah belajar mandiri, sudah bisa mencari uang sendiri tapi Abi gak suka kalo putri Abi sampai sakit dan kecapekan karena bekerja, kerja keras boleh tapi kesehatan lebih penting" Nasehat Adzam


Nazra mendengarkan dengan baik nasihat abinya "Iya Abi" ucap Nazra


"Kamu tahu dulu waktu umi hamil adek umi menjadi lebih manja padahal waktu hamil Abang umi jarang sekali bersikap manja sama seperti hari-hari biasa. tapi waktu hamil kamu umi jadi manja dan lebih sensitif" cerita adzam


Nazra menatap abinya dia selalu antusias saat mendengar sosok wanita yang sudah melahirkan dirinya ke dunia ini "Bahkan dulu umi sampai cemburu sama pasien Abi" ucap Adzam lalu terkekeh saat mengenang masa lalunya bersama sang istri


"Kok bisa umi cemburu Abi nakal ya" ucap Nazra


"Umi memang lagi sensitif saat itu hal kecil bisa membuat umi sedih padahal Abi bersiap biasa aja dan memperlakukan sama seperti pasien lain" ucap Adzam


"Dulu abi sama umi sepakat nggak mau tahu jenis kelamin kamu waktu masih dalam kandungan umi, dan saat kamu lahir Abi jadi sadar ternyata sikap manja umi karena lagi hamil anak perempuan yang paling diinginkan umi, bahkan saat hamil Abang kamu umimu sudah mengharapkan anak perempuan" cerita adzam lagi


Nazra menatap abinya dengan mata berkaca-kaca "Adek jadi rindu umi" ucap Nazra


Adzam mengusap pipi putrinya "Kalo adek rindu sama umi adek doakan umi" ucap Adzam


Nazra mengangguk dia memang selalu mendoakan umi dan Abinya setiap sholat dan tidak lupa mengirimkan Al-fatihah untuk uminya, Nazra juga merasa kagum dengan abinya yang menjaga kesetiannya pada sang umi meski uminya sudah tiada sejak lama


"Ara pengen punya suami seperti Abi" batin Nazra menatap Abinya dengan senyuman


...****************...