Bunda untuk El

Bunda untuk El
16. Marah sama Om Afi


Setelah Razeel pergi ke kamarnya dhafi langsung menatap Abang pertamanya "Bang Dev sudah siap cari bunda buat El ya" tanya Dhafi dengan nada menjengkelkannya


Shadev melempar bantal sofa ke arah dhafi, karena tidak siap akhirnya bantal sofa itu mendarat di kepala dhafi "Apaan sih bang gak like banget mainnya lempar lemparan" ucap Dhafi memanyunkan bibirnya


"Sok imut" cibir Rafa yang tadinya hanya diam memainkan ponselnya dan sesekali melihat interaksi Abang dan adiknya


Dhafi menatap ke arah Rafa dengan tatapan sinis "Apa lihat lihat iri bilang" ucap Dhafi pada Rafa


Rafa tak membalas ucapan dhafi dan memilih kembali fokus ke ponselnya karena sedang ada yang ia kerjakan


"Bang Ara kakaknya El tuh terlalu muda loh untuk Abang mending jadi tantenya El aja dari pada jadi bundanya" ucap dhafi karena ia menyukai Nazra pada pandangan pertama belum tahu saja dhafi kalau Nazra itu lebih tua darinya walupun hanya beda satu tahun


Shadev mendengus "Yang mau nikah siapa Dhaf Abang cuman nurutin keinginan El yang awalnya cuman mau nelpon Nazra tapi El malah ngelunjak ngajak Nazra ketemu, dari pada didiemin El lagi jadi Abang turutin aja" ucap Shadev menjelaskan karena tidak ingin adik bungsunya ini mengejeknya apalagi sampai bicara yang tidak tidak di depan putranya nanti


Dhafi menghela nafas lega karena ternyata abangnya belum ada rasa tertarik dengan hadis pujaannya "Tapi bang Nazra cantik kan ya" ucap Dhafi dengan alis naik turun yang tampak semakin menyebalkan di mata Shadev


Shadev memilih tidak meladeni ucapan unfaedah dhafi dan memilih melihat ponselnya, sesekali jarinya bergerak membalas pesan yang tentunya bukan dari wanita melainkan dari klien bisnis shadev


Dhafi mengambil toples berisi cookies milik Razeel "pengen coba ah" ucapnya sambil membuka toples lalu mengambil satu cookies dan memasukkannya ke dalam mulut


Mata dhafi berbinar senang saat merasakan sensasi manis di lidahnya "Enak loh bang raf mau coba gak?" tanya Dhafi pada Rafa


Rafa menggeleng "Itu punya El dhaf awas nanti dia ngambek" ucap Rafa mengingatkan


Dhafi tidak mendengarkan ucapan Abang keduanya yang sudah memberikan peringatan "Nggak kok cuman nyicip aja El nggak akan tahu" ucap dhafi mengambil satu cookies lagi dan kembali memasukkan ke dalam mulutnya


Shadev tidak mendengarkan percakapan kedua adiknya karena terlalu fokus membalas pesan, Shadev beranjak dari duduknya karena dia ingin mandi


"Mau kemana bang?" tanya dhafi


"Mau mandi" ucap Shadev langsung berjalan meninggalkan ruang keluarga


Dhafi tak berbicara lagi tangannya sibuk mengambil cookies dan memasukkannya ke dalam mulut karena merasa enak dhafi jadi keterusan, Rafa sedang fokus pada ponselnya sehingga tidak melihat apa yang di lakukan adik satu satunya


"Idaman banget memang udah cantik pinter penyayang pintar masak pula" ucap dhafi sambil mengusap perutnya yang kenyang


Rafa menoleh mendengar ucapan adiknya "Apa?" tanya Rafa karena tidak mendengar jelas ucapan Rafa


"Apaan bang raf kepo" ucap Dhafi


Rafa mendengus lalu pandangannya jatuh pada toples yang di dalamnya hanya tersisah satu cookies "Mampus kamu Dhaf kena marah bang Adev karna buat anak kesayangannya nangis" ucap Rafa lalu pergi meninggalkan ruang keluarga


Dhafi yang tidak mengerti ucapan Rafa memilih acuh dan mengganti siaran televisi


.........


Setelah selesai mandi Rafa langsung mencari keberadaan cookiesnya "Ayah lihat cookies El nggak" tanya Razeel saat memasuki kamar ayahnya


"bukannya kamu yang megang El ayah nggak lihat" ucap Shadev sambil mengeringkan rambutnya


Razeel keluar dari kamar ayahnya menuju kamar Rafa "Om lihat toples cookies El nggak" tanya Razeel begitu membuka pintu


"Mampus lah kamu Dhaf" batin Rafa karena setelah ini ia akan melihat wajah memelas adiknya yang harus membujuk keponakannya yang marah "Bukannya El taruh di ruang keluarga" ucap Rafa


Razeel menepuk jidatnya "Oh iya El lupa om" ucap Razeel dengan cengirannya


Setelah mengetahui keberadaan cookiesnya Razeel memilih pergi ke ruang keluarga, dia bisa melihat omnya yang paling muda tengah menonton televisi "Om cookies El mana" tanya Razeel


"cookies itu tu" ucap dhafi seraya menunjuk toples cookies, Dhafi langsung membeku saat melihat toples yang kini hanya tersisa satu cookies di dalamnya


Razeel menatap toplesnya dengan mata berkaca-kaca "Cookies El mana kenapa cuman satu" ucap Razeel dengan air matanya yang sudah menetes


"Maaf El tadi om cicip dikit" ucap Dhafi baru merasa bersalah


Brak


Razeel melempar toples itu hingga pecah "Om Dhafi jahat, kenapa di habisin itu punya El" Marah Razeel dengan tangisnya yang semakin menjadi


Dari lantai atas Rafa dan Shadev yang mendengar suara pecahan kaca segara berlari menuju lantai bawah "Dhafi El ada apa ini" ucap Shadev begitu tiba di ruang keluarga


Shadev bingung melihat putranya yang sudah menangis dan marah pada dhafi sedangkan Rafa yang sudah menduga ini akan terjadi langsung mendekati Razeel dan mengangkatnya ke dalam gendongannya


Razeel memberontak "Lepasin om hiks , Ayah hiks" panggil Razeel merentangkan tangannya meminta sang ayah yang menggendongnya


Razeel memeluk leher ayahnya "Ayah hiks om Afi jahat hiks habisin cookies El hiks" adu El pada ayahnya dengan tangis yang semakin menjadi


Shadev mendengarkan ucapan putranya dia tahu bagaimana Razeel begitu menyukai cookiesnya bahkan Shadev saja hanya di beri satu bisa bisanya dhafi menghabiskan semuanya, Shadev menatap tajam adiknya


"Iya iya nanti ayah marahin om afinya sekarang El berhenti nangis ya" ucap Shadev menepuk nepuk punggung Razeel agar putranya berhenti menangis


"Gak mau El mau cookies ayah" ucap Razeel semakin mengeraskan tangisnya


"Raf suruh orang buat bersihin itu dan kamu Dhafi nanti malam temuin Abang di ruang kerja Abang" ucap Shadev sebelum pergi ke kamarnya dengan Razeel yang terus menangis


"Sudah Abang bilang tadi gak dengerin sih" ucap Rafa pada adiknya


"Bang raf bantuin dong, bang Adev pasti marah ni" ucap Dhafi takut karena Shadev jika sudah marah akan menyeramkan


"Tenang aja bang Dev gak bakalan marah besar kok paling uang jajan kamu di setopin" ucap Rafa lalu pergi untuk memanggil Art sedangkan Dhafi terduduk lemas memikirkan apa yanga akan di katakan Shadev


Selain itu Dhafi lebih takut pada keponakannya karena Razeel jika sudah marah akan susah membujuknya, "Gianna cara minta maaf ke El" Batin dhafi merasa bingung


.........


Di kamarnya Shadev terus berusaha menenangkan dan membujuk putranya yang masih menangis sejak satu jam yang lalu "El sudah ya nangisnya nanti kepalanya sakit kalo nangis terus" ucap Shadev dengan lembut


"Ayah cookies El ayah" ucap Razeel terus membicarakan hal yang sama sejak tadi


Shadev mulai lelah mendengarnya "El berhenti menangis atau El mau lihat ayah marah, Nanti kita bisa beli cookies yang banyak sekarang El diam ya" ucap Shadev masih dengan nada bicara yang tenang


"Gak mau El mau cookies dari kak Ara gak mau beli" ucap Razeel


Rasa bahagia Razeel karena bisa menghabiskan waktu dan membuat cookies bersama Nazra membuat Razeel menyayangi cookiesnya bahkan Razeel berusaha tidak memakan banyak banyak cookiesnya karena takut cepat habis selain itu Razeel juga merasakan rasa hangatnya kasih sayang seorang ibu dari Nazra membuatnya jadi menyayangi cookies sebagai pemberian pertama Nazra


"El ayah bilang cukup nangisnya nanti kamu pusing!" ucap Shadev dengan suara yang cukup besar membuat Razeel meringsut menjauh dari ayahnya karena merasa takut


Shadev mengacak rambutnya kasar setelah Razeel tenang Shadev akan memarahi adiknya yang membuat Razeel menangis satu jam lebih "Bang" panggil Rafa


Rafa datang ke kamar abangnya untuk mengajak makan malam, namun yang ia dengar justru abangnya tengah berbicara dengan nada tinggi "Biar Rafa yang tenangin El Abang tenangin diri dulu sana jangan sampai Abang bentak El lagi" ucap Rafa


Shadev tak menolak, dia berjalan mendekati Razeel "berhenti nangis El ayah sayang sama El" ucap Shadev mengecup kepala Razeel


Setelah Shadev pergi Rafa mendekati keponakannya "El" panggil Rafa


Razeel tak menjawab dan terus menangis "Udah ya nangisnya nanti El pusing, kita makan malam dulu yuk" ucap Rafa namun Razeel menggelengkan kepalanya


"El nanti bisa buat cookies lagi sama kak Ara tapi El harus berhenti nangis, kalau kak Ara tau El nangis nanti kak Ara marah loh" ucap Rafa justru membuat Razeel semakin menangis


"Loh El kenapa?" tanya Rafa panik


"El gak mau kak Ara marah om" ucap Razeel


"Iya kak aranya nggak marah kalo El berhenti nangis dan makan sekarang" ucap Rafa


Razeel menggeleng dia mulai mengehentikan tangisnya tapi tidak ingin beranjak dari kasur ayahnya apalagi pergi makan, Rafa masih berusaha membujuk namun Razeel tidak menghiraukan


Karena tidak mendapat respon apapun Rafa membalikkan tubuh Razeel karena memang Razeel membelakanginya sejak tadi "Loh udah tidur pantasan diam" ucap Rafa


Rafa memperbaiki posisi tidur Razeel mengusap sisah air matanya lalu menyelimuti tubuh keponakannya yang akhirnya tertidur karena lelah menangis


Rafa keluar dari kamar abangnya menuju ruang makan karena dia yakin abang dan adiknya masih di sana "El di mana?" tanya Shadev saat melihat kehadiran Rafa tanpa adanya El


"Udah tidur bang, kecapekan kayaknya" ucap Rafa


Shadev mengangguk "Kalian makan aja" ucap Shadev


"Bang maafin dhafi ya" ucap Dhafi setelah lama terdiam bahkan sebelum kedatangan Rafa pun dhafi dan Shadev hanya diam diaman


"Lain kali sebelum melakukan apapun di pikirin dulu, lihat El samapi nangis satu jam lamanya, Abang yakin besok El bakalan demam" ucap Shadev sudah tahu kebiasaan putranya jika kelamaan menangis


"Iya bang Dhafi minta maaf" ucap Dhafi


"Minta maaf aja besok sama El, yang pasti uang jajan kamu dari Abang sampai bulan depan gak bakal Abang kasih" ucap Shadev dan Dhafi hanya bisa mengangguk pasrah dari pada abangnya semakin marah


...****************...