Bunda untuk El

Bunda untuk El
13. Ngambek


"Ayah El gak suka sama Tante yang tadi, awas aja ayah dekat dekat sama Tante itu El gak mau" ucap Razeel begitu mereka masuk ke dalam mobil


Shadev juga tak ingin mendekati wanita yang bukan mahramnya selain karena larangan agama Shadev juga tidak suka dengan sikap karyawannya itu. namun Shadev ingin menjahili putranya


"Emang kenapa el, bukannya Tante miranda baik nanti El bakalan punya adik juga" ucap Shadev


"EL GAK MAU AYAH" pekik Razeel lalu perlahan tangisnya pecah yang awalnya pelan kini semakin kencang


Shadev tak menyangka respon putranya akan melebihi ekspektasinya "Iya El ayah cuman bercanda ayah gak akan menikah sama tante Miranda" ucap Shadev berusaha menarik Razeel ke dalam pelukannya namun Razeel selalu menolak dengan tangisnya yang belum mereda


"Ayah minta maaf El ayah cuman bercanda" ucap Shadev dengan lembut agar putranya berhenti menangis


Razeel menggeleng "El gak mau dekat ayah" ucap Razeel lalu pindah ke kursi belakang masih dengan air matanya yang mengalir


"El jangan ngambek ayah bercanda sayang" ucap Shadev


Razeel membuang muka tak ingin melihat ayahnya, Shadev kini menyesal karena mengusili putranya "Baiklah kita pulang sekarang" ucap Shadev sebelum menjalankan mobilnya, dia akan kembali membujuk Razeel saat tiba di rumah


Sepanjang jalan Razeel hanya diam meski Shadev sudah mengajaknya bicara, saat tiba di rumah pun Razeel langsung keluar dari mobil tanpa menunggu ayahnya, sesampainya di ruang keluarga Razeel menemukan Rafa yang sudah duduk santai pakaian yang digunakannya juga pakaian rumahan


Rafa mengernyitkan dahi heran saat keponakannya datang datang langsung memeluk tubuhnya "El kangen ya sama om Rafa padahal om gak pulang ke rumah baru satu malam loh" ucap Rafa sambil mengangkat tubuh Razeel ke atas pangkuannya


"Nanti malam El mau tidur sama om" ucap Razeel


Rafa kembali di buat bingung karena biasanya El tidak mau tidur dengannya dhafi atau oma dan opanya jika masih ada ayahnya di rumah "Siap komandan" ucap Rafa. meski bingung dia tetap senang karena kapan lagi bisa tidur dengan keponakannya


"El" panggil Shadev yang baru datang


"Udah pulang raf" Shadev ganti menyapa adik keduanya


"Iya bang" ucap Rafa "Ini El kenapa bang. Abang marahin El ya?" tanya Shadev


"Nggak Abang tadi cuman bercanda nggak tau kalo El bakalan marah kayak begini" ucap Shadev berjalan ke dekat Rafa lalu duduk di samping adiknya lebih tepatnya Shadev duduk di dekat Rafa karena ingin membujuk putranya


"El" panggil Shadev lembut


Bukannya menjawab Razeel justru mempererat pelukannya dengan Rafa "El ayahnya lagi ngomong tuh gak boleh diam kalo di panggil orang tua" ucap Rafa menegur pelan


"El marah sama ayah om, ayah mau nikah sama Tante Miranda katanya" ucap Razeel


Rafa menatap abangnya, Shadev menggeleng sebagai pertanda bahwa dia tidak akan menikah dengan wanita bernama miranda "El ayah kan cuman bercanda" ucap Shadev


"Pokoknya El marah sama ayah, karena ayah bilang begitu, dan El gak suka ada anak lain yang manggil ayah dengan sebutan papa karna ayah cuman ayahnya El" ucap Razeel


"Iya ayah cuman ayahnya El sini sama ayah" ucap Shadev namun Razeel menggelengkan kepalanya


"El ngambek sama ayah pokoknya" ucap Razeel lalu memeluk Rafa dengan erat


.........


Razeel benar benar menjalankan aksi ngambeknya pada sang ayah, sejak soreh Razeel tidak mau berbicara dengan ayahnya dan Razeel justru tidak mau berjauhan dengan Rafa


Saat sedang makan malam.oun Razeel masih mendiami ayahnya, dhafi yang mengetahui kalau Razeel sedang ngambek justru menertawakan abangnya "Bercandaan Abang gak lucu soalnya" ucap Dhafi


"lagian kamu ada ada aja Dev" ucap Farhat tak habis fikir dengan putra sulungnya


"Abang tuh udah tau El sensitif jika masalah kamu menikah lagi apalagi ada anak lain malah di bercandain" ucap Amira


Shadev hanya diam mendengarkan ucapan adik mama dan papanya sedangkan Razeel sudah pergi ke kamar Rafa tentunya bersama siempunya kamar karena Razeel sudah mengantuk katanya


"Ya Dev juga gak tau bakal jadi begini ma kalau tahu Dev gak bakalan nahas di depan El" ucap Shadev


"Mangkanya lain kali di pikirin dulu sebelum ngajak El bercanda, Razeel itu udah semakin besar pola pikir Razeel juga lebih dewasa di banding anak seusianya jadi kita yang harus lebih hati hati saat berbicara di hadapan El" ucap Farhat dengan bijak


"Iya pa" ucap Shadev


"Rasain deh bang di jauhin anak kesayang tidur sendiri malam ini" Ejek dhafi


"Uang jajan kamu Abang potong" ucap Shadev membuat raut mengesalkan dhafi langsung berubah seketika


"Bang jangan dong lagi banyak keperluan ini" ucap dhafi "Ma pa lihat nih bang Adev" adu dhafi pada mama dan papanya


"Lagian kamu juga ngapain ngeledek Abang kamu rasain aja sendiri" ucap Amira tak ingin membantu


Dhafi kembali menatap Abang pertamanya dengan wajah memelas "Bang jangan di potong ya kalo bisa di tambahin deh" ucap Dhafi


"Kalo kami bisa buat El gak marah sama abang, uang jajan kamu bakalan Abang tambah" ucap Shadev


Sedangkan di dalam kamar Razeel tengah menonton kartun kesukaannya dari ponsel milik Rafa "Razeel keponakannya Om Afi yang paling ganteng" ucap dhafi langsung masuk ke kamar Rafa tanpa mengetuk lebih dulu


Rafa menatap malas adiknya "Ngapain ke sini" ucap Rafa menatap malas ke arah Dhafi


"Mau ketemu keponakan" ucap dhafi langsung naik ke atas tempat tidur dan ikut rebahan di samping Razeel yang tengah menonton


Rafi hanya menghela nafas melihat tingkah kurang ajar adiknya, begitulah dhafi dia tidak ada takut takutnya pada Rafa berbeda dengan Shadev baru di tatap tajam saja Dhafi sudah menciut


"El" panggil Dhafi sambil menoel noel pipi Razeel


"Om Afi ganggu tau nggak sih sana ah" ucap Razeel turun dari tempat tidur Rafa dan berjalan menghampiri om keduanya yang duduk di sofa meninggalkan dhafi yang kini menatap hampa tempat tidur kosong di sebelahnya karena Razeel pergi, sungguh dramatis banget hidupnya dhafi


"El kok om di tinggalin sih" ucap Dhafi ikut beranjak dari tempat tidur setelah sadar dari tingkah konyolnya


"Om lihat om Afi gangguin El" ucap Razeel mengadu pada Rafa


"Mending kamu keluar dhaf, jangan gangguin Razeel" ucap Rafa


Dhafi menatap sedih pada Razeel "El om kok di cuekin, masak El ikutan ngambek sama om sih" ucap dhafi


"Ommm" rengek Razeel pada Rafa karena dhafi terus mengajaknya berbicara


"Sudah lah dhaf sana keluar" usir rafa, karena tak ingin keponakan semkain ngambek akhirnya Dhafi keluar dari kamar Abang keduanya


.........


Di sebuah kamar bernuansa soft pink terdapat seorang gadis cantik yang tengah fokus mencoret coret kertas dengan pensilnya, gadis itu adalah Nazra dan yang saat ini sedang Nazra lakukan adalah membuat desain baju


Nazra mencoba membuat desain desain baju yang cocok untuk remaja masa kini, Nazra berencana membuka sebuah toko dan akan memasarkannya di e-commerce, karena di semester tujuh nanti Nazra tidak akan aktif ke kampus


"Dek" panggil Atha dari ambang pintu


Nazra menoleh, senyumnya langsung mengembang saat melihat abangnya yang berdiri di ambang pintu "Abang baru pulang?" tanya Nazra


Atha berjalan masuk ke dalam kamar Nazra "Nggak kok Abang udah pulang dari setengah jam yang lalu" ucap Atha yang kini berdiri di samping Nazra


"Lagi ngapain sih?" tanya Atha


"Bang Ara tadi kepikiran mau buka toko kecil Ara akan jual pakaian yang Ara desain di e-commerce menurut Abang gimana?" tanya Nazra


"Bagus itu mulai dari kecil aja dulu" ucap Atha "Emangnya nanti nggak mengganggu kuliah kamu dek?" tanya Atha


"nggak kok bang Ara kan udah mau masuk semester tujuh, anak semester tujuh itu sudah nggak aktif ke kampus paling cuman sesekali ke kampus buat nemuin dosen pembimbing" ucap Nazra


Atha mengangguk mengerti, bagaimana dia bisa lupa fakta itu sedangkan dia baru lulus satu tahu yang lalu "Dek jangan sampai lupa istirahat dan makan" ucap Atha karena dia sudah tahu bagaimana adiknya jika sudah sibuk


Nazra bisa melupakan makan dan istirahat seperti waktu mempersiapkan ujian akhir semester, jika bukan Atha Adzam dan mbok asih yang mengingatkan Nazra tidak akan makan dan selalu telat tidur


"Gimana cafe Abang hari ini" tanya Nazra


"Makin rame dek, besok mungkin Abang akan nambah karyawan karena yang datang semakin banyak setiap harinya


"Alhamdulillah" ucap Nazra "Bang kenapa nggak bukak cabang aja kalo modal Abang gak cukup kan bisa mintak tambahin Abi dulu" ucap Nazra


"In syaa Allah modalnya udah ada dek sekarang Abang lagi cari tempat yang strategis dan untuk membangunnya pasti butuh waktu paling tidak tiga bulan karena Abang berencana membuka cabang yang lebih besar dan nanti Abang akan nambah produk baru" Ucap Atha


Nazra menatap kagum abangnya "Kalau aja umi masih ada pasti umi bangga banget lihat Abang" ucap Nazra dengan suara lirih karena merasa sesak jika mengingat sosok wanita yang berjuang melahirkannya bahkan rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan buah hatinya


Atha langsung menarik adiknya ke dalam pelukannya "Umi pasti lebih bangga lihat anak perempuannya yang tumbuh menjadi anak Sholehah dan cerdas" ucap Atha mengusap kepala adiknya


"Abang makasih banyak ya, kalau bukan karena Abang sama Abi Ara gak mungkin tumbuh sebaik ini, Abang dan Abi yang selalu menjaga nazra" ucap Nazra dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipi dan baju kaos yang Atha kenakan


Atha mengeratkan pelukannya "Dek itu udah kewajiban Abang sama Abi untuk menjaga dan mendidik kamu, karena dosa yang di lakukan kamu itu akan menjadi tanggung jawab Abi sama Abang" ucap Atha


"Ara sayang Abang" ucap Nazra


"Araa" panggil Adzam saat memasuki kamar putrinya "Loh kok pada nangis kenapa nih" tanya Adzam karena melihat putrinya menangis sedangkan Atha tidak menangis hanya matanya yang memerah


"Abiii" ucap Nazra langsung berhambur kepelukan abinya "Ara sayang sama Abi" ucap Nazra


Meski terkejut Adzam tetap membalas pelukan putrinya, Adzam mengusap usap kepala Nazra agar lebih tenang "Kenapa bang kok adeknya nangis" tanya Adzam


Atha tersenyum "Adek lagi terharu dapat Abang ganteng kayak Atha bi" ucap Atha bercanda agar suasana sedih ini segera berlalu


.........