
"Ra Lo dekat sama duda, jadi kemaren Lo beli jaket untuk anak kecil itu" tanya Maura begitu mereka keluar dari restoran
Nazra mendengus "Siapa yang dekat sama duda" ucap Nazra malas
"Lah om om tadi bukannya duda" tanya Maura
Nazra mengangkat bahunya acuh "Gak tau, bisa aja ada istrinya aku juga baru ketemu ayahnya Razeel tadi, Kalo Razeel udah beberapa kali sih" ucap Nazra
"Tapi Ra bapaknya si El ganteng banget udah kayak model. tapi tetap aja bang Atha yang paling ganteng di hati gue" ucap Maura lalu tertawa sendiri mendengar ucapannya
Nazra memutar bola mata malas "Gak boleh ganjen mau" ucap Nazra
bukannya tersinggung Maura justru tertawa "Ra Lo sadar gak gue jadi kalem tadi" ucap maura, Nazra mengangguk karena memang ia menyadari itu, Maura yang bisanya membuat malu tiba tiba menjadi kalem
"Hehehe gue emang gitu kalo ada cowok ganteng di dekat gue, kira kira boleh gak ya punya suami dua ntar bang Atha jadi suami pertama gue trus si duda ganteng jadi suami kedua gue" ucap Maura
Nazra menepuk pelan lengan Maura "Sadar mau kayaknya kamu kesambet setan ganjen deh, lagian kita belum tau mau ayahnya El itu duda atau bukan jadi jangan ngomong sembarangan" ucap Nazra
Terkadang Nazra akan menjadi lebih bijak namun terkadang dia juga menjadi gadis polos yang membuat Maura kesal "Iya deh buk Nazra sekarang kita ke toko kue ya buat pesan kue" ucap Maura lalu membuka pintu mobilnya
Nazra hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah Maura, lalu ikut masuk ke dalam mobil milik Maura
Keduanya segara pergi ke toko kue dan memesan kue ulang tahun untuk acara besok, Maura merupakan anak tengah di memiliki seorang kakak perempuan dan juga seorang adik perempuan
Jika Maura anak tengah dan Nazra anak bungsu maka Aya anak pertama, karena itulah persahabatan ketiganya awet karena mereka saling melengkapi, Aya yang lebih dewasa di bandingkan Nazra dan Maura, Maura yang lebih mandiri dan Nazra yang sedikit manja karena memang Nazra itu di manja Abi dan abangnya bahkan terkadang kedua sahabatnya turut memanjakan Nazra dan memperlakukan Nazra layaknya adik mereka karena memang usia Nazra juga lebih muda di banding kedua sahabatnya meski hanya berbeda bulan lahir, Nazra juga jadi menemukan sosok kakak perempuan pada kedua sahabatnya
Kini Maura dan Nazra sudah tiba di toko kue langganan mereka "Ra kira kira sih Moza mau kue yang mana ya?" tanya Maura
Moza adik Maura yang akan ulang tahun besok "Moza biasanya suka makan apa, atau karakter favorit dia apa?" tanya Nazra
"Gak tau gue, soalnya kalo di rumah gue berantem Mulu" ucap Maura
Nazra tertawa saat mengingat Maura dan Moza jika sudah bertengkar, Maya yang merupakan bunda Maura saja sampai pusing menghadapi pertengkaran kedua anaknya
"Beli rasa coklat aja trus karakternya apa ya" ucap Nazra sambil melihat contoh kue tart yang akan dia pesan
"Mau masak kamu nggak tau karakter kesukaan adik kamu" tanya Nazra
"Karakter kodok aja soalnya kamar dia penuh dengan boneka kodok" ucap Maura
Nazra tertawa mendengar ucapan Maura "Astaghfirullah mau itu namanya keropi" ucap Nazra bahkan karyawan toko kue ikut tertawa mendengar ucapan Maura
"Ya mana gue tau namanya ra, tapi bentuknya emang kayak kodok" ucap Maura
.........
Di perjalanan pulang Shadev dan Razeel tak banyak berbicara, Shadev yang fokus menyetir dan Razeel sibuk melihat Gedung gedung tinggi dari jendela hingga tak terasa merek telah tiba di rumah
Setelah memarkirkan mobilnya di garasi Shadev langsung masuk bersama Razeel lalu menyuruh Razeel duduk di sofa ruang keluarga untuk ia integrasi "Sekarang ayah tanya kenapa El dekat sama orang yang baru di kenal?" tanya Shadev
"Karena kak Ara baik ayah" ucap Razeel
"Walaupun baik, El kan baru kenal gimana kalo ternyata dia ada niat jahat untuk El" ucap Shadev tidak bermaksud menjelek jelekkan Nazra atau menakut nakuti putranya dia hanya khawatir jika putranya terlalu mudah percaya dengan orang baru
Razeel hanya diam dan menundukkan kepalanya saat melihat wajah datar ayahnya, tangan mungilnya memutar mutar kancing bajunya
"Trus kenapa tadi langsung pergi gak izin ke ayah dulu, bukannya ayah sudah pernah bilang kalo di luar rumah jangan pernah pergi pergi sendiri dan tadi El langsung kabur tanpa izin ke ayah" ucap Shadev
"Maaf ayah El lupa" ucap Razeel jujur, karena terlalu bersemangat saat melihat sosok Nazra El jadi lupa izin pada ayahnya
Shadev menghela nafas "Sejak kapan El kenal sama kakak yang tadi dan kenapa gak bilang ke ayah?" tanya Shadev
"El ketemu kak Ara waktu kita pergi ke supermarket ayah dan kenalnya waktu El ke Cafe sama om Afi" ucap El "El gak mau cerita karena takut ayah marah" ucap Razeel dengan suara yang pelan bahkan kepalanya sudah menunduk
Shadev kembali menarik nafas panjang untuk menetralkan emosinya, iya dia kesal karena putranya sudah melakukan beberapa kesalahan hari ini jika itu tak membahayakan sang putra Shadev tidak akan marah namun Razeel lagi lagi pergi tanpa izin darinya
Razeel memberanikan diri mengangkat kepalanya untuk menatap Shadev "Ayah jangan marah" Cicit Razeel karena Shadev hanya diam
"Ayah nggak marah El ayah cuman ngingetin kamu buat gak ngelakuin hal itu lagi, sekali lagi ayah ingatkan kalo El keluar sama ayah om Afi om Rafa Oma atau opa, El harus izin kalau mau pergi jangan seperti tadi gimana kalo ada yang berniat jahat dan nyulik kamu" ucap Shadev dengan lembut karena tidak ingin membuat putranya semakin takut
"Iya ayah" ucap Razeel pelan
Shadev mengangguk "Sekarang kamu harus tidur siang El" ucap Shadev langsung mengangkat Razeel ke dalam gendongannya dan membawa ke kamarnya
Shadev menatap putranya "Ada apa El?" tanya Shadev, Razeel ingin mengatakan sesuatu namun Razeel masih ragu dan dia juga takut untuk mengatakannya meski Shadev tidak pernah marah besar tetap saja Razeel merasa takut, akhirnya Razeel menggeleng tak jadi berbicara
.........
Soreh harinya sesuai permintaan Razeel yang ingin main ke taman akhirnya mereka tiba di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah mereka, Razeel suka ke taman karena ingin membeli Ice crime pinggir jalan yang menurutnya enak
Shadev terus mengikuti kemanapun Razeel pergi, Razeel juga mencoba beberapa permainan anak anak yang ada di taman, dia sangat senang sekarang "Ayah ayo dorong kuat kuat" ucap Razeel saat ini tengah menaiki sebuah ayunan
"Gak boleh El nanti kamu jatuh" ucap Shadev
Razeel tak menjawab dan menikmati angin yang menerpa wajahnya saat ayunan yang dinaikinya terus bergoyang, Shadev ikut senang melihat tawa putranya "Ayah El mau itu" ucap Razeel menunjuk gerobak yang menjual gulali
"El itu manis dari tadi yang kamu makan udah manis semua nanti kamu sakit gigi" ucap Shadev
"Ayah tapi El pengen" ucap Razeel dengan mata berkaca kaca
Akhirnya Shadev mengalah dan menuruti keinginan putra bungsunya "El tunggu di sini biar ayah yang beli ke sana" ucap Shadev namun Razeel menggelang
"El mau ikut ayah" ucap Razeel
Shadev tak menolak ia menggenggam tangan putranya lalu berjalan bersama mendekati penjual gulali "Pak beli satu" ucap Shadev
"Mau warna apa?" tanya kakek penjual dengan ramah, yang menjual seorang laki laki paruh Bayah yang sudah tampak tua
"Mau yang warna biru kek" ucap Razeel
Kakek itu langsung mengambilkan gulali sesuai permintaan Razeel lalu memberikannya "Berapa pak" tanya Shadev
"Lima belas ribu aja" ucap kakek penjual gulali
Shadev mengambil dompetnya dan mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu "Ini kek" ucap Shadev
"Ini kebanyakan nak, harganya cuman lima belas ribu" ucap si kakek mengambil satu lembar uang dan hendak mencari kembalian
Shadev menggelang "Gak papa pak saya ada rezeki lebih untuk bapak saja" ucap Shadev langsung memberikan ke tangan si kakek
"Alhamdulillah terimakasih banyak nak semoga rezeki kamu selalu di lancarkan dan selalu berada dalam perlindungan Allah" Doa si kakek dengan tulus. air mata kakek itu sedikit menetes karena terharu
"Terimakasih atas doanya pak kami pergi dulu" ucap Shadev lalu membawa Razeel menjauh
Razeel dan Shadev kini duduk di salah satu kursi yang ada di taman "Ayah ayo main bola" ucap Razeel saat melihat beberapa anak kecil tengah bermain bola
"Kita gak bawa bola El" ucap Shadev
Razeel mamanyunkan bibirnya karena tidak bisa main bola bersama ayahnya "Nanti kita main di rumah Oma, jangan manyun gitu jadi jelek tau nggak" ucap Shadev
Razeel menatap kesal ayahnya "Kalo El jelek ayah juga jelek karena El anaknya ayah" ucap Razeel
"Kata siapa kamu anak ayah" ucap Shadev jahil
"Ayaaah El bilang Oma ya" ucap Razeel merengek
Tawa Shadev langsung pecah mendengar rengekan putranya "Iya iya El anaknya ayah yang paling ganteng" ucap Shadev sambil menarik Razeel ke dalam pelukannya
"Loh pak Shadev main ke taman juga" ucap seorang wanita yang datang dengan seorang anak perempuan dalam gendongannya, wanita itu tak lain adalah Miranda karyawan Shadev di kantor dan anak dalam gendongannya bernama bela
Shadev menoleh saat ada yang menegurnya "Iya nemenin El" ucap Shadev seadanya
"Wah kebetulan banget pak saya juga lagi nemenin anak saya jalan jalan" ucap miranda dengan senyum manisnya yang justru tidak menarik di mata Shadev apalagi Razeel
Razeel menatap tidak suka ke arah Miranda dan putrinya "Papapapa" ucap bela dalam gendongan miranda sambil merentangkan tangan ke arah Shadev
"Bela dia bukan papa, maaf ya pak bela jadi manggil pak Shadev papa" ucap miranda berpura-pura menegur
Shadev mengangguk "Ayah ayo pulang" ucap Razeel semakin tidak suka karena ada anak lain yang memanggil ayahnya
"Iya El, kalau gitu saya permisi" ucap Shadev langsung pergi bersama putra satu-satunya, Miranda medengaus karena rencana pdkt dengan bosnya gagal, Miranda merupakan seorang janda dua anak dan sejak perceraiannya dengan sang suami ia sering mencuri-curi perhatian Shadev, tapi Shadev tak pernah tertarik pada karyawannya ini
...****************...