
Pukul satu dini hari Razeel terbangun setelah menggeliat tak nyaman, saat matanya terbuka tangis Razeel kembali pecah membuat Shadev yang sudah terlelap di samping Razeel jadi terbangun
"Ayah hiks sakit ayah" ucap Razeel dengan tangisnya
Shadev dengan cepat bangun lalu meletakkan punggung tangannya di dahi putranya "Kamu demam El" ucap Shadev begitu merasakan panas pada kulitnya saat menyentuh dahi Razeel
"Ayah pusing hiks" Razeel terus meracau memanggil ayahnya atau mengatakan sakit dan pusing sambil menangis
Shadev mengusap kening putranya "Iya El ayah di sini nak, ayah panggil om Rafa dulu ya" ucap Shadev namun Razeel menggelengkan kepalanya
"ayah sakit hiks" ucap Razeel terus meracau
Karena tidak ada pilihan lain Shadev segera pergi ke kamar Rafa "Raf" ucap Shadev sambil mengetuk pintu dengan tidak sabar
Rafa membuka pintu kamarnya hingga tampaklah Rafa dengan wajah bantalnya "El demam buruan kamu periksa" ucap Shadev
"Iya bang aku cuci muka dulu sama ambil peralatan" ucap Rafa kembali masuk ke kamarnya sedangkan Shadev sudah kembali ke kamarnya untuk menemani putranya yang terus menangis
Tak butuh waktu lama Rafa datang dengan perlengkapan dokternya, Rafa mengambil termometer dan meletakkan di antara ketiak Razeel lalu melakukan serangkaian pemeriksaan lainnya
Shadev tidak tenang melihat putranya yang terus menangis mengatakan sakit dan juga pusing "Gimana Raf?" tanya Shadev begitu Rafa melepas stetoskop miliknya
"El demam tinggi bang, ini karena perut El kosong di tambah tadi malam dia nangis terus terusan" ucap Rafa lalu mengambil termometer miliknya "39,3 derajat bang" ucap Rafa
Shadev menghela nafa ia mendekati putranya untuk mengecup dahi putranya "El sabar ya nanti om afa kasih obat, sekarang berhenti nangis ya nanti El tambah pusing" ucap Shadev begitu lembut
Meski tidak menjawab Razeel menuruti perkataan ayahnya karena kini tangis Razeel sudah berhenti "El om pakaikan ini ya biar panasnya turun" ucap Rafa
Razeel hanya mengangguk kecil, Rafa memasang bye bye fever ke kening Razeel agar panasnya cepat turun "El mau makan?" Tanya Rafa
Razeel menggelengkan kepalanya tanda dia tidak ingin makan "Makan sedikit aja biar bisa makan obat El mau kan" ucap Rafa kembali membujuk namun hasilnya tetap sama saja
"El makan ya nak biar ayah suapin" ucap Shadev, Razeel tetap menggelengkan kepala, mendengar kata makan perut Razeel menjadi mual
Huek Huek
Razeel akhirnya muntah karena perutnya kosong Razeel hanya memuntahkan cairan kuning yang membuatnya merasa sakit "Ayah sakit hiks" tangis Razeel kembali pecah setelah muntah
Shadev memijat pelan tengkuk Razeel, setelah rasa mual Razeel hilang Shadev mengangkat tubuh putranya ke dalam gendongannya karena selimut dan baju Razeel terkena muntahnya
"Raf ambilin baju El" ucap Shadev
Rafa tidak menolak dia mengambil baju baru untuk Razeel di kamarnya, setelah mengganti pakaiannya Shadev memberikan Razeel air minum "Bang El makan obat ini aja dulu karena perutnya masih kosong" ucap Rafa memberikan butir obat pada Shadev
"El minum obat ya nak biar cepat sembuh" ucap Shadev
Razeel menggelengkan kepalanya, Rafa dan Shadev menghela nafas, seharusnya mereka sudah bisa memikirkan jika Razeel tidak akan makan obat dengan mudah
Akhirnya mereka memakai cara paksa walau Razeel memberontak namun tidak ada apa apanya dibandingkan tenaga ayahnya dan pada akhirnya obat itu masuk ke tubuh Razeel menyisahkan tangis Razeel yang semakin menjadi
.........
Stelah drama minum obat dini hari tadi Razeel baru bisa tidur saat waktu menunjukkan pukul empat mau tidak mau Shadev harus menemani putranya sampai tertidur
Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi namun Razeel tak kunjung bangun "El bangun dulu, kamu harus makan biar perut kamu ada isinya" ucap Shadev
"Kak Ara El mau kak Ara" ucap Razeel mengigau dalam tidurnya
"El" panggil Shadev lagi agar putranya segara bangun karena waktu sarapan sudah hampir lewat
Perlahan Razeel membuka matanya "Ayah hiks hiks" tangis Razeel langsung pecah begitu melihat ayahnya
"Iya El ayah di sini" ucap Shadev mengusap usap punggung putranya agar berhenti menangis, Shadev kembali mengecek suhu tubuh putranya yang masih terasa panas
"El makan dulu ya" ucap Shadev saat tangis Razeel mulai mereda
Razeel menggelengkan kepalanya "Ayah mau kak Ara" ucap Razeel
"El kak Ara gak bisa ke sini" ucap Shadev karena tidak ingin mengganggu Nazra
Razeel terus meminta Nazra dan saat di suruh makan Razeel selalu menggelengkan kepalanya membuat Shadev merasa kesabarannya di uji oleh sang putra "Ayah mau kak Ara" ucap Razeel semakin pelan karena tak lama ia tertidur kembali
Rafa masuk ke kemar abangnya untuk mengecek keadaan keponakannya kembali "Gimana El bang udah mau makan?" tanya Rafa
Shadev menggeleng "Satu suap pun gak ada, waktu bangun El cuman minta Nazra sampe tidur lagi" ucap Shadev
Rafa mengecek kondisi Razeel "Ya udah bawa aja Nazranya ke sini bang dari pada El gak mau makan bisa bisa el di infus dan di rawat di rumah sakit" ucap Rafa
Shadev kembali menghela nafas namun dia harus melakukan ini demi putranya "Kamu temani El dulu" ucap Shadev
Shadev keluar dari kamarnya setelah mengambil ponselnya lalu mendial nomor dengan nama kak Ara di kontaknya tak butuh waktu lama telpon langsung tersambung
"Wa'alaikumussalam maaf ini ayahnya El bukan El" ucap Shadev
"Oh om maaf saya kira El" ucap Nazra
Shadev berdehem "El lagi demam sejak tadi dia manggil nama kamu, saya mau minta tolong apa bisa kamu ke sini untuk menemui Razeel sebentar saja karena sejak tadi malam El tidak mau makan" ucap Shadev
Nazra terdiam "El demam kenapa om, iya iya nanti saya ke sana saya harus izin dulu" ucap Nazra
"Mau saya jemput saja karena saya tidak enak merepotkan kamu" ucap Shadev
"Gak perlu om gak bakal di kasih izin juga jadi mending om kirim alamatnya aja nanti saya ke sana" ucap Nazra
"Baiklah kalau begitu, assalamualaikum" ucap Shadev
"Wa'alaikumussalam" jawab Nazra lalu sambungan telpon Keduanya terputus, Shadev menatap nomor yang ada di ponselnya, karena putranya dia harus rela di panggil om padahal kemaren dia sempat membantah Nazra yang memanggilnya om
Shadev berjalan ke kamarnya "Udah bangun?" tanya Shadev dan Rafa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban
"Gimana bang Nazranya bisa ke sini?" tanya Rafa
"Iya tunggu aja kalo emang datang" ucap Shadev berjalan ke samping putranya untuk mengamati wajah Razeel yang pucat bahkan rona kemerahan di pipinya kini hilang, bibirnya yang berwarna pink muda kini tampak memucat
"cepat sembuh anak ayah" ucap Shadev mengecup rambut Razeel karena keningnya tertutup bye bye fever
.........
Setelah mendapat telpon tidak terduga dari ayahnya El Nazra langsung bersiap siap karena tadinya dia hanya menggunakan baju rumahannya, Nazra mengambil ponselnya karena dia hampir lupa meminta izin pada abangnya, sedangkan pada abinya Nazra bisa meminta izin secara langsung karena Adzam berada di rumah saat ini
Nazra menelpon abangnya, meski dia mendapat izin dari abinya izin dari Atha lah yang paling penting karena laki laki itu akan tetap marah jika Nazra tidak izin padanya
"Assalamualaikum dek ada apa?" tanya Shadev begitu telpon tersambung
"Wa'alaikumussalam bang Ara mau izin keluar" ucap Nazra
"Mau ke mana? sama siapa?" tanya Atha
"Ara mau ke rumahnya El bang dia sakit kata ayahnya El terus nyebut nama Ara, dan Ara pergi di antar supir" ucap Nazra
"biar Abang yang antar" ucap Atha
"Tapi Abang kan lagi sibuk, Ara gak mau ganggu waktu Abang" ucap Nazra
"Kamu lebih penting dari pekerjaan Abang jangan pergi sebelum Abang datang" ucap Atha dengan tegas
"iya Abang, Ara tunggu di rumah Abang hati hati ya jangan ngebut bawa mobilnya" ucap Nazra mengingatkan takut abangnya mengendarai mobil dengan buru buru
"Iya dek, Abang tutup ya assalamualaikum" ucap Atha
"Wa'alaikumussalam" jawab Nazra lalu mematikan sambungan telponnya, karena menunggu Atha tiba di rumah akan memakan waktu hampir setengah jam Nazra memutuskan membuat bubur untuk El
Nazra berjalan menuju dapur dan mulai menyiapkan bahan bahannya. Nazra mulai memasak dengan cepat karena yang ia buat cukup simpel hanya bubur ayam. Nazra sudah menaruh buburnya ke dalam wadah untuk ia bawa
Bahkan Nazra sudah selesai memasak Atha tak kunjung kelihatan, Nazra pergi ke taman belakang di mana abinya berada "Abi" panggil Nazra membuat laki laki setengah bayah yang tengah membaca buku itu menoleh
"Ada apa dek?" tanya Adzam
"Abi Ara izin keluar ya. mau jenguk El katanya dia demam" ucap Nazra
"pergi sama siapa dek?" tanya Adzam
"Sama bang Atha kok bi" ucap Nazra
Adzam mengangguk jika putrinya pergi bersama putranya Adzam tidak perlu khawatir karena Atha akan menjaga adiknya dengan baik "Hati hati di jalan ya dek" ucap Adzam
"Iya Abi" ucap Nazra lalu mengambil tangan abinya untuk ia salim, sebelum pergi Nazra juga menyempatkan mencium pipi abinya
Sesampainya di teras rumah Nazra bisa melihat mobil Atha yang baru datang "Mau langsung berangkat dek?" tanya Atha dari dalam mobil
Nazra mengangguk sambil berjalan mendekati mobil lalu masuk ke dalam mobil "Emangnya El gak punya keluarga apa dek kok kamu yang repot begini" ucap Atha
"Ada kayaknya bang tapi Ara juga khawatir waktu dengar El demam, apalgi kata ayahnya El selalu nyebut nyebut nama Ara" ucap Nazra
"nanti Abang bakal tungguin kamu" ucap Atha, dia tidak akan tenang sebelum memastikan lingkungan keluarga Razeel jika kebanyakan laki laki atha akan menunggu adiknya terus
Biarlah orang mengatakannya terlalu posesif karena begitulah cara Atha menjaga adiknya perempuan satu satunya dan menjadi peninggalan uminya yang paling dia sayangi
"iya abang" ucap Nazra menurut dari pada abangnya berubah pikiran dan tidak mengizinkannya datang lebih baik Nazra menuruti ucapan Atha
...****************...