Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua
AGKK Bab 66 - Hadiah Paling Indah


Dua bulan kemudian.


Sekitar satu bulan yang lalu Haris telah mengumumkan pernikahan dengan Anindya, juga mengumumkan dengan bangga bahwa dia telah memiliki anak secantik dan sehebat Alena.


Kabar mengejutkan itu tentu sesaat jadi pembicara semua orang, namun lambat laun kabar menepi di bawa oleh waktu.


Hari ini adalah hari Minggu, jadi Haris tetap berada di rumah untuk berkumpul bersama keluarganya.


Selesai sarapan bersama Haris berencana untuk mengajak Alena bermain seperti di komplek perumahan. Tapi belum sempat mereka keluar tapi sudah terdengar ada suara pintu yang diketuk, menandakan jika mereka kedatangan tamu.


Dan jika ada Tamu itu artinya mereka tak bisa bermain dulu.


"Aahh itu siapa yang datang?" tanya Alena, dia sedang memakai sepatu dibantu oleh sang mama.


"Biar aku yang buka Bi," kata Haris pula saat seorang pelayan hendak bergegas ke depan dan melihat siapa yang datang.


"Baik Pak," jawab pelayan tersebut dengan patuh.


Haris kemudian menuju pintu utama setelah mengelus lembut puncak kepala sang anak. Dia buka pintu tersebut dan melihat siapa yang datang.


Reyhan.


"Assalamualaikum Om, apa Alenanya ada?" tanya Reyhan lalu menelan ludahnya sendiri dengan kasar, dia sangat berharap yang membuka pintu adalah Tante Anindya, tapi yang keluar malah om Haris.


"Ada, untuk apa kamu cari Alena?"


"A-aku, aku ingin mengajaknya bermain bersama," balas Reyhan, sungguh Dia benar-benar merasa gugup tiap kali berhadapan dengan pria dewasa berwajah dingin ini. Padahal Alena sangat cantik tapi bagaimana bisa dia memiliki seseorang ayah yang sangat mengerikan.


"Bermain bersama? Apa benar bermain bersama? Bagaimana jika nanti kamu mengolok-oloknya lagi."


"Maafkan aku Om, aku benar-benar merasa bersalah tentang hal itu. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, aku berjanji mulai sekarang akan melindungi Alena."


"Banyak sekali janjimu, setelah pulang nanti kamu pasti akan melupakan semua janji itu."


"Tidak Om, Aku tidak akan pernah lupa dengan janjiku sendiri."


Haris terdiam sesaat, dia menatap Reyhan dengan lekat. Memang Haris pun telah Melihat kesungguhan Reyhan untuk meminta maaf. Sebenarnya Haris pun telah memaafkannya juga, hanya saja kadang masih kesel tiap ingat bocah ini pernah meledek anaknya. Jadi Haris terlalu menunjukkan wajahnya yang dingin seperti ini tiap kali di hadapan bocah tersebut.


"Aku dan Alena akan bermain sepeda keliling komplek, Jika kamu ingin ikut ambil dulu sepedamu," kata Haris kemudian.


Reyhan langsung tersenyum lebar ketika mendengar perintah tersebut, tanpa pikir panjang dia langsung mematuhinya "Siap Om," jawabnya dengan antusias.


Reyhan juga langsung berlari untuk pulang dan mengambil sepeda, sementara Haris kembali masuk untuk menjemput sang anak, tapi dia tidak menutup pintu rumahnya. Agar Reyhan tau bahwa dia masih ditunggu.


"Siapa Pa?" tanya Alena.


"Reyhan, dia masih pulang lagi untuk mengambil sepedanya."


Alena hanya tersenyum lebar, tidak menjawab apapun lagi.


Anin yang ada di sana juga tersenyum, sedikit menatap dengan tatapan meledek sang suami yang sudah bisa menerima Reyhan untuk jadi temannya Alena.


Sampai Anin tertawa dan kegelian.


"Iih geli Mas!" balas Anindya.


Tak lama kemudian mas Haris, Alena dan Reyhan pergi untuk bermain sepeda. Dan setelah anak dan suaminya pergi Anin tiba-tiba merasa mual, sampai membuatnya ingin muntah.


"Huwek!"


"Loh Nin! kamu kenapa?" tanya ibu Husna dengan cemas.


"Tidak tahu Bu, kok tiba-tiba mual."


"Apa masuk angin?"


"Tidak, aku tidak merasa pusing."


"Jangan-jangan hamil. Kamu sudah beli testpack kan? Coba pakai sekarang," titah ibu Husna pula dan Anindya tak punya alasan untuk menolak hal tersebut.


Di dampingi oleh sang ibu Anindya memeriksakan kehamilannya sendiri, sampai akhirnya terlihat dua garis merah di dalam testpack tersebut.


"Alhamdulillah," ucap ibu Husna seraya memeluk Anin dengan erat. Kini banyak sekali keberkahan yang mereka dapatkan dari sang kuasa.


Jam 9 pagi akhirnya Mas Haris dan Alena pulang. Langsung disambut dengan Anindya yang kedua matanya berbinar penuh kebahagiaan.


"Kenapa? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Haris langsung.


"Mama tersenyum tapi sepertinya ingin menangis," celetuk Alena pula.


"Mama punya hadiah untuk Papa dan Alena," ucap Anindya kemudian.


"Hadiah apa?" tanya Alena.


Haris tidak bertanya apapun, hanya menatap sang istri dengan lekat.


Sampai akhirnya Anindya menunjukkan sebuah testpack lengkap dengan dua garis merahnya, dua garis merah yang menandakan bahwa Anindyanya tengah hamil.


Hadiah yang dimaksud oleh Anindya ternyata hadiah yang paling indah untuk Haris.


"Mama hamil, nanti Alena akan memiliki seorang adik," ucap Anin.


"Yee!!" pekik Alena kegirangan, bahkan melompat-lompat saking riangnya. Kini jantung Alena makin kuat, dia bisa menunjukkan kebahagiaan tanpa takut sakit.


Sementara Haris tidak bicara sepatah katapun, hanya terus menatap kedua mata sang istri dengan lekat, dari tatapan itu mereka sama-sama mengucapkan kata syukur, Alhamdulillah. Juga kata cinta yang tersirat dengan jelas.


'Aku mencintaimu Mas.'


'Aku mencintaimu Anindya.'


...TAMAT...