
"Mbak Anin, ayo keluar. Sudah mau ijab kabul," ucap Dara yang datang ke kamar menghampiri aku.
Panggilannya membuat jantungku berdegup, gugup sekali. Sementara ibu tersenyum senang. "Ayo," sambut ibu pula. Jadi aku pun segera berdiri, di dampingi ibu dan Dara aku keluar dari kamar ini.
Kata para perias ku tadi baju yang aku kenakan sekarang adalah baju yang paling sederhana. Kebaya putih panjang dengan bawahan kain. Tapi sungguh, bagiku kebaya ini sangat mewah dan indah. Belum lagi rambutku di sanggul rapi. Kadang aku merasa ini bukanlah aku, tapi orang lain.
Dan dengan penampilan seperti ini, rasanya jadi malu untuk menunjukkan diri di hadapan semua orang.
Apalagi Mas Haris.
Saat pintu telah terbuka dan aku keluar, tatapan semua orang sontak tertuju ke arahku. Sesaat riuh lalu jadi hening, aku tidak bisa tau siapa saja tamu yang datang, sebab yang ku lihat hanyalah mas Haris yang memangku Alena di kursi ijab kabul.
Mas Haris yang juga terus menatap ke arahku tidak berkedip.
Ya Allah aku gugup sekali.
Rasanya kaki ku sampai gemetar untuk melangkah, namun untunglah aku bisa tiba di meja ijab kabul dengan selamat.
Kami melakukan pernikahan ini di ruang tengah.
"Alena sayang, ayo bersama nenek dulu. Papa dan Mama akan segera menikah," ucap ibu Farah, dia bicara di samping mas Haris sana. Ibu Farah juga tadi melihat ku sekilas, tapi masih menatap dengan sorot mata yang dingin, sama seperti Mas Haris jika sedang marah.
"Baik, Nek," jawab Alena patuh. Gadis cantik yang sudah memakai baju senada dengan semua keluarga itu pun turun dari pangkuan Mas Haris, lalu bergandengan dengan ibu Farah dan duduk di kursi yang lain.
Pak penghulu yang duduk di hadapanku dan Mas Haris mulai mengambil kendali acara ini, beliau memberi wejangan tentang apa itu pernikahan, sebagai bentuk salah satu ibadah dan banyak keutamaannya.
Sampai tiba di saat Mas Haris untuk mengucapkan janji suci ijab kabul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Anindya Putri binti almarhum Agung Riyadi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!!"
"Sah?"
"SAH!!"
Aku tak bisa menahan diri, akhirnya air mata ini jatuh juga, namun aku berusaha sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara, namun jadinya tenggorokanku begitu tercekat.
Ini bukanlah tangis kesedihan, melainkan tangis bahagia dan haru sekaligus. Tidak menyangka aku akan berada di titik ini bersama Mas Haris.
Sekitar 1 jam lamanya akhirnya serangkaian acara pernikahan ini pun usai, jam 8an tamu-tamu mulai pulang. Ibu Farah, pak Emran, Dara dan ibu sendirilah yang menyerahkan semua bingkisan-bingkisan itu, sementara aku dan mas Haris salaman menerima ucapan selamat atas pernikahan kami.
Terasa ada yang kurang, karena Namira tidak ada di sini. Sungguh, di dalam hatiku aku akan selalu mendoakan untuk kebahagiaan Namira.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai," ucap ibu Farah, kami semua telah duduk bersama di ruang tengah.
"Ma, malam ini kita menginap di sini saja ya? Aku bisa tidur di kamar Alena," kata Dara. "Iya kan Alena?" tanya Dara pula pada gadis kecil tersebut.
"Iya!" sahut Alena dengan suara tunggi.
"Haduh, Mama lelah sekali, jika kamu ingin menginap tidak apa-apa, tapi mama dan papa akan pulang," jawab ibu Farah.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menginap," putus Dara dengan bibir tersenyum lebar. Dara baru saja lulus kuliah, dari cerita yang ku dengar dari Mas Haris dia belum mau bekerja dulu, masih ingin menikmati liburan. Bertemu Alena keduanya cocok sekali, malah terlihat seperti sama-sama anak kecil.
"Haris, Anin, kalian juga istirahat lah, Alena sudah ada pengasuhnya si Dara," kata ibu Farah kemudian.
"Iya Bu, maaf, iya Ma," jawabku gelagapan.
Ku dengar ibu dan Dara malah terkekeh, sementara pak Emran tersenyum melihatku yang gugup. Aku tidak mau melihat wajah Mas Haris, entah raut wajah seperti apa yang dia tunjukkan saat ini.
"Sana masuklah kalian ke dalam kamar, mama dan Papa mungkin pulang sekitar 15 menitan lagi," titah mama Farah pula, ya sebenarnya sejak kemarin aku sudah diminta memangilnya mama, tapi lidahku kelu.
"Iya Ma." Bukan aku yang menjawab ini, tapi Mas Haris.
Saat Mas Haris bangkit dari duduknya, aku sontak mengikuti. Mau tidak mau akhirnya kami menuju kamarku, kamar yang akan jadi kamar kami.
Ya Allah, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? aku gugup.