Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua
AGKK Bab 61 - 100 Detik


Haris dan Anindya keluar dengan baju yang sudah ganti lagi, tapi mereka tidak sempat mandi sebab takut keburu waktu semakin siang.


Saat keluar dari rumah mereka melihat Alena yang asik bermain dengan Mbah Putri.


"Mama!" panggil Alena, memanggil sang ibu untuk pertam kali, lalu disusul memanggil Papanya.


"Lama sekali sih?" tanya Alena kemudian.


"Iya Al, mama mu lama sekali memilih baju. Sekarang kami jadi buru-buru," jawab Haris, harus ada yang disalahkan agar semuanya nampak normal di mata gadis kecilnya tersebut.


"O, tapi sekarang Mama terlihat cantik sekali memakai baju itu," puji Alena pula dan membuat semua orang tersenyum, ya, hari ini mama Anin memang lebih cantik dari sebelum-sebelumnya, kini wajahnya terlihat lebih segar dan nampak berseri.


Entahlah, mungkin efek bahagia.


"Mama dan Papa pergi sekarang ya Al, insyaallah siang nanti sudah pulang," ucap Anin.


"Iya Ma, tadi Tante Dara sudah menelpon Mbah Putri, katanya jam 10an Tante akan ke sini," celoteh Alena.


Sebelum berpisah mereka saling peluk dan cium, dan kini mobil milik Haris akhirnya mulai melaju memasuki jalan raya. Anin berulang kali mencari posisi duduk yang pas. Tapi sayangnya yang nyaman adalah kakinya sedikit mengangkang, namun malu untuk berpose seperti itu.


"Bukalah kakimu, duduk yang nyaman," kata Haris, dia adalah pria paling peka jika menyangkut Anindyanya.


Haris bahkan menyentuh paha sang istri dan ditarik agar kedua kaki itu terbuka.


Anin akhirnya tak bisa menolak, hanya mampu mengigit bibir bawahnya sendiri sebab merasa malu.


"Jangan sungkan lagi padaku Anindya, sekarang aku adalah suamimu," kata Haris, dia menoleh ke arah Anindya sesaat lalu kembali menatap jalanan dan fokus mengemudi.


"Iya Mas," jawab Anin singkat.


"Apa boleh aku bertanya sesuatu Mas?" tanya Anin lagi.


"Kenapa Mas selalu memanggil ku Anindya? Padahal yang lain memanggilku Anin saja," tanya Anin, hanya Mas Haris yang memanggil dengan nama lengkap. Awalnya Anin tak begitu peduli, tapi sekarang dia semakin sering mendengar suaminya memanggil dengan cara seperti itu.


Dan bukannya langsung menjawab, Haris justru terpantau langsung tersenyum sendiri. Memang ada alasan kenapa memanggil mama sang istri dengan lengkap seperti itu.


"Karena aku merindukanmu saat jadi sekretaris ku," balas Haris gamblang, tanpa basa basi.


Jawaban yang membuat Anin seketika merah merona pipinya. Sebesar itu cinta mas Haris padanya.


"Kamu tidak suka?"


"Suka, Mas," balas Anin dengan cepat.


"Apapun yang Mas Haris ucapkan, terdengar menyenangkan di telingaku," timpal Anin lagi dan membuat Haris tersenyum semakin lebar.


Kini Anindyanya sudah berani menggoda.


Mobil berhenti di lampu merah selama 100 detik. Haris langsung melepaskan kemudi dan menggenggam erat tangan istrinya.


Sesaat mereka saling tatap, sampai merasakan ada magnet yang menarik. Hingga keduanya sama-sama mengikis jarak dan kembali saling memagut mesra. Bawaannya rindu saja, selalu ingin bersama.


Saking gemasnya Haris bahkan sampai mengigit pelan bibir sang istri.


"Mas," ucap Anin, malu sendiri dengan kelakuan mereka. Berciuman di lampu merah.


"10 detik lagi lampunya hijau," kata Anin kemudian, coba mengalihkan kegugupannya sendiri.


"Iya Sayang," balas Haris, dan justru membuat Anin makin gugup tak karuan.


Tiap detik di lampu merah ini selalu membuat hatinya berdebar.