
Selesai mas Haris merapikan rambutku, dia pun kembali membenahi semua baju-baju itu. Membuatku de Javu, setelah malam kami bersama, saat pagi pun mas Haris yang membereskan semua barang-barang kami untuk kembali ke Jakarta.
Memang benar saat itu pun mas Haris bersedia untuk bertanggung jawab. Tapi ya sudahlah, sekarang semuanya sudah jadi seperti ini.
*
*
Jam 3 sore setelah semua urusan selesai di rumah sakit, akhirnya kami pulang ke apartemen. Keluar dari rumah sakit Alena senang sekali meski hanya melihat jalanan. "Papa, jalannya pelan-pelan saja, aku suka melihat jalanan ini," pinta Alena.
"Baiklah sayangku," jawab mas Haris, dia tersenyum dan membuatku tersenyum juga. Tiap kali melihat interaksi keduanya selalu mampu membuatku tersenyum.
"Bu, ibu mau pulang ke rumah atau tidak?" tanya mas Haris kemudian. "Sekarang kondisi Alena sudah semakin membaik, Anindya juga tidak sendiri karena ada yang akan menemaninya. Jadi lebih baik ibu istirahat di rumah," timpal mas Haris.
Kalimat panjang lebar yang membuatku melebarkan mata, namun aku pun tak bisa sembarangan memotong ucapan mereka. Terlebih saat ini aku sedang menemani Alena melihat jalanan, sesekali Alena menunjuk mobil yang banyak warnanya, menunjuk gedung yang menjulang tinggi.
"Di apartemen nanti juga ada pelayan yang akan tinggal, tidak hanya aku, Anin dan Alena," kata mas Haris lagi, sebab ibu hanya diam dan seolah mas Haris tau tentang kecemasan ibu tersebut.
"Bagaimana Nin?" tanya ibu kemudian, Alhamdulillah ibu bertanya padaku. Namun belum sempat aku menjawab agar ibu tetap tinggal, tapi mas Haris sudah lebih dulu menyahut.
"Anin pasti setuju, selama ini ibu sudah berjuang untuk kesembuhan Alena. Sudah saatnya ibu pulang dan istirahat, nanti aku juga akan mengirim pelayan ke rumah ibu. Jadi ibu cukup istirahat dan bertemu dengan para tetangga. Tidak perlu mengurus rumah," jelas mas Haris panjang lebar.
Ku lihat ibu tersenyum saat mendengar penjelasan itu, ibu pasti juga sangat bersyukur karena mas Haris pun memperhatikannya. Bukan semerta-merta karena Alena.
Jika sudah seperti ini aku tak bisa membantahnya lagi.
Tiba di apartemen Alena makin bahagia, dia seperti menghirup udara segar. Dua pelayan menyambut kedatangan kami dan langsung membereskan semua barang.
Ibu masih menemani Alena berkeliling dan melihat-lihat apartemen ini. Sementara aku memutuskan untuk bicara dengan mas Haris.
"Mas," panggilku, kami kembali berada di dalam kamar Alena, hanya berdua.
"Jika ibu pulang bagaimana dengan Namira? Dia pasti merasa tidak nyaman jika kita tinggal berdua," kataku ketika sudah berada di hadapan mas Haris.
"Namira pasti akan mengerti, sudah waktunya ibu istirahat di rumahnya sendiri. Kamu tidak ingin ibu istirahat?"
"Bukan seperti itu maksudku, Mas."
"Lalu bagaimana? Dulu kamu yang datang padaku, sekarang pun aku tidak akan mendekat jika bukan kamu yang meminta," balas mas Haris ambigu.
Membuatku kesulitan untuk menjawab apa.
"Tentang Namira itu urusan ku, kamu tidak perlu ikut campur terlalu dalam," timpal mas Haris, malah bicara dengan nada penuh penekanan. Padahal aku hanya ingin mengajak untuk berdiskusi.
"Tapi nanti Namira yang akan jadi ibu sambung Alena, Mas. Jelas aku harus memiliki hubungan yang baik dengannya," Jawab ku, belum menyerah.
Ku lihat mas Haris membuang nafas dengan kasar, "Baiklah, sekarang coba kirim pesan pada Namira. Katakan jika ibu akan pulang dia setuju atau tidak. Kita akan ikuti keputusan Namira," jawab mas Haris, sepertinya dia tidak ingin berdebat terlalu lama denganku.
Mas Haris terdiam, menatapku dengan tatapan yang entah. Namun kemudian dia merogoh ponselnya di saku celana dan menghubungi seseorang. Mungkin itu Namira jadi ku putuskan untuk keluar.
Tapi mas Haris justru menahan tanganku.
"Assalamualaikum, Namira," ucap mas Haris.
Deg! Jantungku seketika berdenyut.
"Tentang ibu Husna, aku memintanya untuk pulang ke rumah. Tidak perlu tinggal di apartemen, di sini banyak pelayan yang bisa menemani Anin, Alena juga keadaannya semakin membaik. Bagaimana?" tanya mas Haris, setelah menjelaskan persis seperti yang dijelaskannya pada ibu. Tidak dia tambah-tambahi.
"Baiklah, tapi sepertinya Anindya tidak setuju dengan ideku. Nanti coba bicaralah dengannya," kata mas Haris hingga membuatku menurutkan pandangan, karena aku tau setelah dia bicara seperti itu dia menatap tajam ke arahku.
Setelah panggilan telepon itu terputus barulah mas Haris melepaskan cekalannya pada pergelangan tanganku. Lalu kudengar ponselku di atas ranjang Alena bergetar.
"Itu pasti Namira, bicaralah dengannya," kata mas Haris, dia pilih untuk keluar dari dalam kamar ini. Jadi segera ku ambil ponselku dan benar saja melihat nama Namira di sana.
"Assalamualaikum, Nami," kataku dengan suara yang terasa canggung sekali.
"Waalaikumsalam Mbak, mas Haris tadi telepon aku. Katanya dia ingin ibu Husna pulang saja, tapi mbak Anin malah cemas tentang aku," kata Namira, meski tak bisa melihat wajahnya tapi aku merasa kini dia bicara dengan bibir yang tersenyum.
"Aku tidak apa-apa Mbak, aku percaya pada mbak Anin dan mas Haris," timpal Namira lagi.
Dan kini membuat ku tersenyum malu, karena pikiran ku terlalu jauh melalang buana.
Namira bukanlah wanita seperti aku, dia hidup dengan baik dan kepercayaan diri yang baik pula. Melihat aku sekarang tentu Namira tak akan berpikir yang bukan-bukan.
"Terima kasih Nami," jawabku setelah cukup lama diam.
"Iya Mbak, jika ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi aku."
"Iya, oh iya Nami. Kalau kamu pergi ke rumah sakit tempat mu bekerja lewat apartemen mas Haris atau tidak?" tanyaku.
"Tidak Mbak, arahnya berlawanan. Kenapa?" tanya Namira pula.
"Hem, padahal aku ingin menyiapkanmu bekal."
"Kalau begitu aku akan datang, besok aku kesana jam 8 pagi," jawab Namira, suaranya terdengar antusias sekali.
"Benarkah?"
"Iya, aku akan menilai masakan mamanya Alena," kata Namira, dia terkekeh pelan dan membuatku tersenyum.
Namira sebaik ini, bagaimana mungkin aku bisa menyakitinya?
Bahkan tiap kali aku bicara dengannya, aku merasakan kebahagiaan tersendiri. Seperti mendapatkan saudara perempuan.