Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua
AGKK Bab 23 - Foto Alena


Jam 5 sore ibu akhirnya pulang, mas Haris yang mengantarnya secara langsung. Alena belum boleh ikut, karena jika pulang pasti bertemu dengan banyak orang. Sementara saat ini Alena masih dibatasi untuk berinteraksi dengan orang lain.


Karena Alena tidak ikut, jadi aku juga tidak.


"Nanti aku juga ingin pulang ke rumah," kata Alena setelah kami menutup pintu dan masuk.


"Benarkah? Padahal di sini rumahnya sangat bagus, berbeda dengan rumah Alena yang dulu," jawabku, Alena belum melihat rumah baru kami setelah direnovasi, setahu dia juga dibenahi hanya teras dan dapurnya saja. Tidak dibangun baru seperti itu.


"Iya sih, di sini memang lebih bagus, lebih bersih, lebih luas. Tapi ... Aku juga tidak tahu, aku hanya ingin pulang saja. Karena itu adalah rumah kita yang sesungguhnya," jawab bocah tersebut.


Ya Allah, tiap kali melihat Alena bersikap dewasa seperti ini selalu berhasil membuatku terenyuh. Kadang lupa bahwa Alena masih berusia 5 tahun.


Aku tersenyum dan mensejajarkan tinggi kami, ku peluk Alena erat.


"Iya sayang, nanti kita juga akan pulang. Maafkan Mama ya, selama ini Mama belum bisa jadi Mama yang baik untuk Alena. Mama sayang sekali dengan Alena."


"Aku juga sangat menyayangi Mama, sangaat sayang," balas Alena, dia bahkan memelukku lebih erat seolah gemas sendiri.


Aku dan Alena memutuskan untuk pergi ke balkon yang ada di apartemen ini, menyaksikan matahari tenggelam di tempat yang terasa lebih luas. Bukan dari jendel rumah sakit.


Alena merasa bahagia sekali, kedua matanya terus menatap berniat ke arah matahari tersebut. "Indah sekali, Ma," kata Alena.


"Benar sayang, pemandangan indah itu adalah salah satu nikmat dari Allah. Jadi kita harus pandai-pandai bersyukur," kataku, "Tiap kali melihat keindahan Allah, kita ucapkan apa?"


"Subhanallah, eh salah salah! Masyaallah maksudku Ma," jawab Alena dengan penuh semangat, tubuhnya sampai nyaris melompat namun buru-buru ku tahan.


"Tidak lompat-lompat ah," kataku dan Alena jadi terkekeh.


"Iya Ma, maaf," cicit Alena dan aku balas dengan pelukan erat.


"Ayo masuk, sebentar lagi magrib," ajakku dan Alena mengangguk.


*


*


Hingga jam 7 malam mas Haris belum juga pulang, padahal tadi pamitnya hanya pergi mengantar ibu. Membuat ku dan Alena jadi menunggu-nunggu, kenapa hingga kini pria itu belum juga tiba di apartemen.


Entah pikiranku yang terlalu berlebihan atau bagaimana, tapi kini isi kepalaku jadi penuh dengan mas Haris. Mungkinkah mas Haris lebih dulu menemui Namira sebelum pulang ke apartemen? Mungkinkah mungkinkah dan mungkinkah.


Drt drt drt suara ponselku di atas meja nakas bergetar. Ku lihat ternyata ada pesan masuk dari mas Haris.


Entah kebetulan atau apa, beberapa detik lalu aku memikirkannya dan sekarang tiba-tiba pesannya masuk.


Jika bicara langsung dia sepertinya jarang sekali bicara panjang lebar begini, tapi jika di pesan singkat, mas Haris nampak begitu perhatian.


Kata-katanya yang ingin makan berdua dengan ibu bahkan berhasil membuatku tersenyum. Aku bersyukur saat mas Haris memperlakukan Alena dan ibu dengan baik seperti ini.


"Siapa Ma? Apa itu pesan dari Papa?" tanya Alena pula, kami masih sama-sama menggunakan mukena, masih berada di dalam kamar setelah shalat magrib bersama.


Dan belum sempat aku menjawab pertanyaan Alena itu, tiba-tiba ponselku di tangan kembali bergetar. Namun kini bukan karena ada pesan masuk, melainkan sebuah panggilan video call.


Deg! Jantungku seketika berdegup, ini adalah panggilan video call ku yang pertama kali dengan mas Haris. Bahkan dulu saat masih menjadi sekretarisnya kami tidak pernah melakukan panggilan video call seperti ini.


"Itu telepon Ma? Kenapa tidak dijawab?" tanya Alena lagi dan akhirnya membuat kegugupanku sendiri buyar.


"I-iya sayang," jawabku gagap, "Mama akan angkat telepon ini," timpal ku pula seraya buru-buru menggeser tanda menerima panggilan dalam ponsel tersebut.


Dalam sekejap panggilan kami pun terhubung, cepat-cepat aku arahkan kamera depan ke wajah Alena. "Ini Papa," kataku dengan berbisik.


"Papa!" panggil Alena, antusias sekali saat dia memanggil mas Haris seperti itu.


"Masyaallah, anak Papa cantik sekali memakai mukenah seperti itu," ucap mas Haris. "Apa Alena tadi shalat bersama mama?" Tanya mas Haris juga.


"Iya dong, lain kali ayo kita shalat sama-sama. Aku, mama dan Papa."


"Tentu sayang, tapi malam ini Papa mungkin pulang larut malam. Nanti Alena tidur saja lebih dulu, ya?"


"Kenapa Papa lama sekali?" Tanya Alena, ku lihat wajahnya ditekuk.


"Papa masih bersama Mbah Putri, lihatlah ini, Papa bahkan masih berada di supermarket," jelas mas Haris, entah apa yang sedang dia tunjukkan pada Alena, aku tidak mampu melihatnya, hanya mampu mendengarkan.


"Mbah Putri!" Panggil Alena, setelahnya ku dengar juga ada suara ibu di dalam panggilan telepon ini.


Mungkin sekitar 10 menit panggilan ini terhubung, sebelum akhirnya ditutup dengan Alena yang mengucapkan salam.


Mas Haris juga meminta padaku melalui pesan singkat untuk mengirimkan foto Alena ketika sedang memakai mukenah seperti ini.


5 foto Alena ku kirim dan salah satunya langsung dia jadikan foto profilnya di WhatsAppp.


Membuat bibirku tersenyum lebar.


Alhamdulillah, entahlah aku hanya mampu mengucapkan kata syukur.