
Jam 5 sore mas Haris pulang, langsung memeluk Alena dengan erat dan menggendongnya.
"Papa kangen," kata mas Haris, malah pria itu yang begitu manja dengan anak gadisnya. Alena terkekeh-kekeh melihat papanya yang memelas menahan rindu, padahal baru 8 jam mereka tidak bertemu. Padahal tiap jam pun mereka selalu bertukar kabar melalui aku. Tiap kali mas Haris menanyai Alena, aku pun mengatakannya langsung pada anakku.
Melihat kemesraan itu kuputuskan untuk menepi, menyingkir dari keduanya sebab Namira menelpon.
"Assalamualaikum, Nami," jawabku setelah berada di dapur. Alena dan mas Haris masih berada di ruang tengah, entah kini apa yang dilakukan oleh keduanya di sana.
"Waalaikumsalam Mbak, mas Haris sudah tiba di apartemen?" tanya Namira.
"Iya, baru saja tiba. Dia sekarang sedang bersama Alena."
"Mbak, aku mau tanya tentang Alena. Tiap malam saat tidur apa dia sering mengeluarkan keringat?" tanyanya pula.
"Dulu iya, tapi sekarang tidak lagi Nami. Setelah operasi itu keadaannya benar-benar membaik."
"Pola makannya sesuai yang dianjurkan dokter Anton kan ya?"
"Iya, aku juga tidak berani memberinya makanan sembarangan. Jika ada yang ragu aku langsung tanya pada dokter Anton."
Cukup lama kamu membahas tentang kesehatan Alena. Awalnya ku pikir Namira akan mempertanyakan tentang mas Haris, tapi ternyata tidak. Semua pembicaraan kami didominasi oleh Alena.
Namira juga mengatakan bahwa sekarang dia dan dokter Anton bekerja sama untuk menangani tentang Alena, karena itulah Namira pun akan mengambil bagian penting dalam perawatan gadis kecil tersebut.
Aku sangat bersyukur tentang hal ini, aku benar-benar bisa merasakan ketulusan Namira. Bukan hanya sebagai dokter tapi juga sebagai calon ibu sambung.
"Nami, boleh mbak bertanya sesuatu padamu?" tanyaku setelah selesai pembicaraan kami tentang Alena.
"Tanya apa Mbak? tidak perlu sungkan seperti ini."
"Sekarang kan keadaan Alena sudah semakin membaik, kapan kamu dan mas Haris kembali merencanakan tentang pernikahan?" tanyaku pula. Sungguh, saat mempertanyakan tentang hal ini hatiku langsung berdegup.
Tapi aku juga tidak ingin kami semua terlalu lama di dalam hubungan yang ambigu. Kadang aku selalu merasa mas Haris selalu memberiku perhatian yang berlebih.
Aku tidak ingin semakin jatuh pada pria itu, karena itulah, untuk menghentikan ini semua Namira dan mas Haris harus segera menikah. Lagipula kini keadaan Alena sudah membaik, harusnya tak ada lagi yang menghalangi Kebahagiaan mereka.
"Mas Haris belum membicarakan lagi tentang hal ini padaku Mbak, kalau aku ya ikut maunya dia bagaimana," jawab Namira, suaranya terdengar tak begitu antusias.
"Mbak minta maaf Nami, mbak dan Alena datang di waktu yang tidak tepat untuk kalian."
"Tidak apa-apa Mbak, aku juga bersyukur mbak Anin segera menemui mas Haris. Karena jika ditunda lagi kita tidak akan tau nasib seperti apa yang akan Alena alami."
Aku sampai ingin menangis mendengar ucapan Namira tersebut. "Apa boleh jika aku mempertanyakan tentang hal ini pada mas Haris? Aku akan tanya kapan kalian kembali merencanakan tentang pernikahan itu."
"Mbak Anin bersedia mempertanyakannya? Terima kasih Mbak, biar mas Haris tau juga jika aku selalu menunggu," jawab Nami, ku dengar dia tertawa kecil.
Membuatku juga ikut tersenyum.
"Ma, aku mau mandi dulu," ucap Mas Haris yang datang ke dapur bersama Alena, mereka berjalan dengan tangan saling menggandeng.
"Iya Mas, aku akan menjaga Alena," jawabku.
"Siapa yang menelpon mu tadi?" tanya Mas Haris lagi, dengan tatapan yang lebih intens.
"Mama Namira," jawabku, coba ku balas tatapannya saat ku sebut nama ini. Ingin melihat reaksi seperti apa yang akan dia tunjukkan.
Dan ku lihat mas Haris hanya mengangguk kecil, lalu pergi meninggalkan aku dan Alena berdua.
Ya Allah, batinku seraya menghela nafas berat. Entah hanya perasaan ku saja atau bagaiman, tapi aku selalu merasa mas Haris begitu acuh jika kami membahas tentang Namira.
Atau mungkin dia hanya sedang menjaga perasaan ku saja? Tapi untuk apa? Perasaanku tidak perlu di jaga.
Ya Allah. Hati dan pikiranku kini sedang beradu, ku harap pikiranku lah yang akan menang.
Nanti malam aku akan bicarakan tentang hal ini dengan mas Haris, kapan dia akan menikahi Namira?
"Ma," panggil Alena dan berhasil membuyarkan semua lamunanku.
"Iya sayang, kenapa?" tanyaku pula, ku angkat Alena hingga duduk di atas pangkuanku. Kami duduk di meja makan.
"Kenapa mama Namira menelpon mama?" tanya Alena kemudian.
"Mama Namira mempertanyakan tentang keadaan Alena, apa Alena tidurnya nyenyak? Apa Alena makannya banyak? Apa Alena bahagia?" jelasku.
"Lalu Mama jawab apa?"
"Mama jawab Alena tidurnya nyenyak, makannya habis banyak dan Alena sangat bahagia apalagi setelah bertemu dengan Papa," jawabku pula seraya memeluknya erat, membuat Alena jadi tertawa.
"Saat kita pulang ke rumah nanti, apa papa akan ikut tinggal di rumah kita Ma?" tanya Alena.
Aku tak bisa langsung menjawabnya, masih memikirkan jawaban yang tepat.
"Sepertinya tidak sayang, Papa akan tinggal di rumahnya sendiri. Tapi Alena bisa berkunjung ke rumah Papa kapanpun Alena mau. Meski kita tinggal di rumah yang terpisah, tapi kita akan tetap bersama," jelasku, pelan-pelan saat aku sampaikan tentang hal ini pada Alena. Tapi selembut apapun aku menjelaskan, tetap saja membuat senyumnya pudar.
"Alena sayang, kita harus pandai-pandai bersyukur Nak. Dulu tidak ada Papa dan sekarang sudah ada Papa, jadi kita tidak boleh serakah dan menginginkan lebih dari ini. Ya?"
Kulihat Alena mengangguk, dia membalas pelukanku juga. Bagaimana Alena tak berpikir dewasa, sekecil ini dia harus bisa memahami banyak hal.
Maafkan Mama sayang. Maaf.
Pada akhirnya kami saling memeluk berdua.