
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Alena akhirnya tiba juga, dimana Alena akan melihat pemandangan diluar sana. Setelah cukup lama gadis kecil itu terkurung di rumah sakit.
Berbagai perlengkapan telah aku dan mas Haris persiapan, mulai dari tikar piknik, bahkan banyak jika sewaktu-waktu Alena ingin tidur-tidur di taman nanti. Obat serangga juga kami bawa untuk jaga-jaga, jaket Alena, kaos kaki, sepatu dan sandal.
Kami berdua sibuk mempersiapkan semua kebutuhan gadis kecil tersebut. Sementara untuk makanannya telah dipersiapkan oleh para pelayan. Disusun rapi dalam kotak makanan berukuran cukup besar.
Jam 7 tepat akhirnya kami pergi meninggalkan Apartemen.
"Ye ye ye ye! Kita akan pergi piknik!" ucap Alena dengan bersenandung, supir dan salah satu pelayan bersama kami untuk membawa semua barang-barang. Hanya pergi ke taman tapi seperti hendak pindah rumah.
Namun aku pun tersenyum, antusias juga dengan kepergian kami kali ini. Menciptakan rasa bahagia yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.
Sesaat ku lirik Mas Haris, dan dia pun tersenyum juga seraya terus menatap Alena.
Ya Allah, aku bahagia sekali. Batinku.
"Dadah Mbak, aku pergi dulu ya?" pamit Alena pada sang pelayan, mbak Umi hanya mengantarkan kami sampai basement apartemen. Aku, Mas Haris dan Alena duduk di kursi belakang, sementara mobil dikemudikan oleh supir-Pak Budiman.
"Dadah Alena! Selamat bersenang-senang," sahut mbak Umi tak kalah antusias. Aku juga menundukkan kepala kecil padanya sebagai tanda pamit.
Mobil akhirnya melaju dan kami keluar dari area apartemen tersebut. Alena duduk di atas pangkuan Mas Haris dan melihat jalanan yang kami lewati.
"Pa, apa boleh jendelanya dibuka?" tanya Alena.
"Tidak boleh Sayang, nanti dingin, nanti Alena malah masuk angin, ini masih pagi Nak," jawab Mas Haris.
"Nanti kan di taman banyak udara segar, jadi sekarang tidak usah buka jendela mobil, ya?" tanya Mas Haris lagi, banyak sekali bicaranya seolah tak ingin Alena sampai marah.
"Iya Pa," jawab Alena patuh, mereka saling memeluk dan melihat jalanan lagi.
Meski di sini aku seperti obat nyamuk, tapi aku bahagia sekali. Sejak tadi aku bahkan terus tersenyum-senyum sendiri.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit akhirnya kami tiba di tempat di tujuan, taman kota yang nampak sepi sebab ini bukanlah hari libur, masih masuk hari kerja. Tapi seperti ini juga bagus, rasanya malah jadi taman pribadi untuk kami.
"Huwaa indahnya, aku mau bermain gelembung di lapangan itu," ucap Alena ketika kami mulai memasuki area taman.
"Iya sayang, kita cari tempat untuk duduk dulu." Mas Haris yang menjawab, sementara aku hanya bisa diam dan mengekor.
Alena sudah berlari-lari kecil di sekitar sana, memunguti dedaunan yang jatuh dan melemparkannya ke atas hingga seperti di musim gugur.
"Anindya, tikarnya sudah selesai. Duduk lah di sini, aku akan bermain dengan Alena lebih dulu," kata Mas Haris.
"Iya Mas," jawabku dengan bibir yang tersenyum, namun Mas Haris tidak tersenyum juga, hanya menatapku dengan tatapan yang entah.
Membuatku jadi kikuk sendiri.
"Bu, saya akan tunggu di mobil," pamit pak Budiman setelah Mas Haris menghampiri Alena.
"Iya Pak, di depan tadi juga ada warung. Bapak tunggu di sana saja. Nanti kalau sudah mau pulang aku telepon," jawabku.
"Baik Bu." Pak Budiman akhirnya pergi.
Aku duduk sendirian di tikar tersebut, memperhatikan Alena dan Mas Haris dengan bibir yang terus tersenyum lebar. Tawa Alena bahkan sampai mampu ku dengar dari sini.
Diam-diam ku ambil foto mereka melalui ponselku, mengambil beberapa video juga.
"Mama! Sini!" panggil Alena.
Aku langsung bangkit hendak mendekat.
"Tolong bawa bubble Gun-nya," ucap Mas Haris kemudian, jadi membuat langkahku terjeda.
Ku ambil bubble Gun yang tadi sempat kami beli, balon air otomatis yang ingin dimainkan oleh Alena jika pergi ke taman.
Tiba di hadapan keduanya, Mas Haris mengambil bubble Gun ini dan langsung dia tembakan.
"Aa!!" pekik Alena kegirangan, sementara aku kaget dan berlari kecil untuk menghindar.
Namun lambat Laun jadi ingin menangkap gelembung-gelembung itu.
Sungguh, hari ini sangat indah. Kami menikmati waktu kebersamaan ini.