Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua
AGKK Bab 56 - Cemburu


"Mama Nami!" panggil Alena ketika melihat Namira baru saja turun dari dalam mobilnya. Mas Haris juga langsung menurunkan Alena agar bisa menyambut kedatangan Namira.


Sesaat hatiku memang berdenyut nyeri, sebab rasa bersalah ini kembali menyelimuti hati.


Tapi tiap kali ingat ucapan Mas Haris, membuatku langsung mengukirkan senyum. Terus merasa bersalah juga hanya akan membuat Namira merasa tidak nyaman, satu-satunya jalan yang harus kami tempuh adalah tetap menjalankan hidup dengan lebih baik. Dengan kebahagiaan yang jangan sampai pudar.


"Assalamualaikum," ucap Namira, dia melihat ke arah Mas Haris sekilas lalu menatap ke arahku.


"Waalaikumsalam," balas kami semua.


Namira juga langsung memeluk Alena dan bahkan menggendongnya, dia telihat kesulitan sebab membawa sesuatu juga di tangan kirinya.


"Sudah lama sekali tidak bertemu dengan Mama Nami," kata Alena.


"Maaf sayang, akhir-akhir ini Mama sibuk sekali," balas Namira, "Mbak Anin ... Mas Haris, selamat untuk pernikahan kalian berdua," timpal Namira kemudian, dia tersenyum saat mengucapkan kalimat tersebut.


"Terima kasih Namira," jawabku, sementara Mas Haris hanya diam saja. Malah melangkah ke arahku dan membuat jarak kami dekat sekali.


"Ini ada kado untuk mbak Anin, semoga mbak Anin suka," ucap Namira, dia menyerahkan paper bag yang dia bawa dan aku menerimanya tanpa banyak tanya, juga kembali mengucapkan terima kasih.


Belum sempat aku mempersilahkan Namira masuk, sudah ada dua mobil lagi yang memasuki halaman rumah ini. Ada dokter Anton dan juga Jodi yang akan mengurus semua surat-surat pernikahanku dengan mas Haris, agar sah secara hukum.


Ya ampun, kenapa Jodi pun ikut datang di saat seperti ini.


Akhirnya kami semua masuk, aku dan Namira duduk di ruang tengah, sementara Mas Haris dan ibu menemani Alena yang sedang diperiksa oleh dokter Anton.


"Kenapa Jodi pagi-pagi sudah ke sini Mbak?" tanya Namira, lolos juga pertanyaan yang sejak tadi aku pikirkan.


"Tidak tau Nami, mungkin ada urusan dengan Mas Haris tentang pekerjaan," jawabku bohong, lidahku kelu untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Kamu kenapa repot-repot membawa kado segala, padahal datang ya datang saja, tidak perlu membawa kado-kado seperti ini," timpalku coba mengalihkan pembicaraan, aku juga berencana untuk membuka hadiah Namira saat ini juga, namun dengan cepat dia menahannya.


"Jangan dibuka sekarang, nanti saja," cegah Namira, dia bahkan menyentuh tanganku juga.


"Memangnya ini isinya apa? Gerak-gerik mu mencurigakan," balasku dan Namira malah terkekeh.


"Pokoknya nanti saja," balas Namira dengan kukuh.


Sungguh, melihat tawanya itu hatiku jadi lega sekali. Bersyukur meski aku telah menikah dengan Mas Haris hubungan kami masih baik-baik saja, meski beberapa waktu terakhir kamu tidak pernah saling bertukar kabar melalui telepon, tapi Alhamdulillah, saat bertemu seperti ini tak ada jarak diantara kami berdua.


Kami masih saling bicara dan jadi terjeda saat melihat dokter Anton keluar, disusul mas Haris yang menggendong Alena, lalu ibu. Pemeriksaan Alena telah selesai.


Namira juga langsung bangkit dari duduknya saat melihat semua orang datang, membuatku pun mengikuti pergerakannya juga.


"Mbak Anin, ibu, aku pamit ya, harus segera datang di rumah sakit," pamit Namira, tiba-tiba dia izin untuk pulang. Dan lagi-lagi ku lihat Namira melihat ke arah Mas Haris sekilas. Hubungan canggung diantara mereka berdua nampak jelas.


Dan ternyata cukup membuatku merasa tak nyaman, mungkin inilah yang namanya cemburu.