
Tidak sampai 15 menit, dokter Anton telah tiba di apartemen. Inilah kemudahan yang bisa kami dapatkan ketika memutuskan untuk tinggal di sini. Alena akan mudah untuk mendapatkan penanganan jika ada sesuatu hal yang terjadi.
Dokter Anton bahkan tidak datang sendiri, dia datang bersama 2 asistennya dan membawa alat untuk memeriksa detak jantung Alena.
Selama pemeriksaan itu berlangsung, mas Haris terus memeluk pundakku, sesekali mengelus puncak kepalaku dengan lembut. Aku tau, dia begini agar aku tetap tenang. Mas Haris juga mengatakan bahwa Alena telah ditangani oleh ahlinya, jadi aku tidak boleh merasa cemas yang berlebihan.
"Detak jantung Alena normal, ini hanya demam biasa, cukup beri air kelapa muda, tidak perlu mengkonsumsi obat-obatan," jelas dokter Anton. Katanya badan Alena hanya hangat, tidak panas yang membutuhkan penanganan obat-obatan.
"Benarkah Dok?" tanyaku, memperjelas ini semua.
"Iya Bu, Alena baik-baik saja," jelas Dokter Anton dengan bibir yang tersenyum. Membuatku akhirnya bisa membuang nafas lega.
"Minta pak Budiman untuk mencari kelapa muda, ya?" pinta Mas Haris padaku dan aku langsung mengangguk patuh.
Aku melangkah cepat untuk keluar dan memanggil pak Budiman. Meminta tolong untuk dicarikan kelapa muda tersebut. Harus kelapa sungguhan, bukan minuman botol yang tersedia di minimarket.
Selesai meminta tolong pak Budiman, aku ingin kembali ke kamar Alena. Tapi kemudian berpapasan dengan dokter Anton dan mas Haris di ruang tengah.
"Ibu Anin, saya akan pergi sekarang," pamit dokter Anton.
"Baik Dok, terima kasih karena sudah datang dengan cepat," jawabku.
Ku lihat dokter Anton mengangguk, "Sekarang sudah ada Pak Haris bersama Anda, jadi jangan merasa cemas sendiri. Jika Anda tetap tenang itu juga akan mempercepat proses kesembuhan Alena," ucap dokter Anton kemudian.
Aku tak bisa menjawab apapun, hanya bisa melirik Mas Haris sekilas. Mas Haris yang langsung pindah berdiri di samping ku dan kembali memeluk pundakku lembut.
"Saya permisi Pak, Bu," pamit dokter Anton lagi.
"Baik Dok," Jawabku dengan cepat, sementara Mas Haris hanya mengangguk kecil, mengiyakan.
Setelah dokter Anton tak nampak lagi, tangan Mas Haris di pundak ku turun dan ganti menggenggam tanganku. Dia ajak aku untuk mendatangi kamar Alena. "Kata dokter Anton kita bangunkan saja Alena, minta dia untuk minum air kelapa dan makan," jelas mas Haris.
"Iya Mas," jawabku patuh.
Kami sudah seperti sepasang suami istri sungguhan, bahkan sering memberi sentuhan intim seperti ini.
"Alena sayang, ayo bangun Nak," ucapku, coba membangunkan Alena. Mas Haris pun terus mengelus kepala Alena dengan lembut.
"Alena," panggilku sekali lagi, sampai Alena menggeliat dan perlahan membuka kedua matanya.
"Ma," ucap Alena lirih, kedua matanya berulang kali berkedip hendak terbuka.
Dulu hanya aku yang selalu menggendong Alena tiap kali Alena merasa sakit. Alena hanya mau aku yang menggendongnya, bahkan menolak Mbah Putri. Tapi sekarang ada Mas Haris yang bisa membantuku, menggantikan aku, menemani aku dalam merawat Alena, dan yang lebih utama, Alena selalu bersedia jika bersama dengan papanya.
Alena langsung bangun dan kini berada di gendongan mas Haris.
Kami keluar dan menuju ruang tengah, salah satu pelayan juga membuka pintu balkon hingga ada udara segar yang masuk.
Aku ambilkan Alena makanan, buah-buahan dan juga segelas air putih. Dengan dipangku mas Haris Alena bersedia memakan itu semua.
Dan terakhir pak Budiman datang dengan membawa banyak kelapa muda. Pak Budiman membukanya di dapur dan langsung disajikan untuk Alena.
Melihat ini semua hatiku begitu terenyuh, sadar dengan adanya mas Haris telah memudahkan semuanya. Kesehatan Alena yang jadi semakin terjamin.
Saking harunya aku sampai ingin menangis, tapi ku tahan hingga tenggorokan ku jadi terasa tercekat.
"Alhamdulillah, aku kenyang Pa," kata Alena dengan suaranya yang terdengar ceria.
"Alhamdulillah, satu jam lagi minum air kelapa lagi ya?"
"Siap," balas Alena patuh.
Aku yang sejak tadi duduk di hadapan mereka, kini mulai bangkit dan berpindah. Ku putuskan untuk duduk di samping mas Haris yang masih memangku Alena.
"Terima kasih, Mas," ucapku lirih.
"Terima kasih untuk apa Ma?" Alena yang menyahut.
Tapi mas Haris sepertinya paham apa maksud ku, jadi dia hanya mengangguk dan mengelus puncak kepalaku lembut.
Akhirnya aku tak mampu menahan air mata ini, akhirnya aku menangis dengan bibir tersenyum lebar. Juga buru-buru menghapusnya.
"Terima kasih karena sekarang Papa bersama kita," jawabku pada Alena.
"Kalau begitu ayo berpelukan," pinta Alena kemudian.
Dan tanpa pikir panjang aku dan mas Haris mengabulkannya. Kami bertiga saling memeluk dengan erat.
Sampai ku rasakan mas Haris pun mencium keningku sekilas.