
Aku mana bisa menanggapi ucapanya mas Haris, yang ada aku hanya terdiam dengan keterkejutan yang luar biasa. Telingaku masih mampu mendengar dengan jelas apa yang dia ucapkan. Meski nafas ini pun masih terengah. Tentang cinta yang dulu hingga sekarang.
Pikiranku seketika de Javu, seperti pernah mengalami keadaan seperti ini di masa lalu, tentang mas Haris yang mengatakan cintanya setelah kami melewati malam terlarang itu.
Tapi dulu aku begitu naif, aku tidak bisa mempercayai ucapannya, aku selalu merasa bahwa kata-kata itu hanyalah sebuah kebohongan agar dia bisa bertanggung jawab. Sementara aku tak ingin memiliki pernikahan yang saling menyakiti. Aku tidak ingin merenggut kebahagiaan mas Haris hanya Karana kata tanggung jawab, Karena itulah aku pilih untuk pergi.
Tapi sekarang rasanya sangat berbeda, sebab hatiku mulai membisikkan semua sikapnya padaku selama ini. Perhatiannya, tentang ketulusannya, yang bahkan bukan hanya tercurahkan untuk Alena, tapi untukku juga.
"Maaf karena baru bisa mengatakannya sekarang, tapi aku melakukannya agar kamu tidak pergi lagi," kata mas Haris. Dia lantas bangun dari tidurnya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang masih terbuka.
Setelahnya dia kembali menindih setengah tubuh ku hingga tatapan kami saling bertemu. Di ruangan ini pencahayaan sangat minim, namun aku mampu melihat dengan jelas kedua matanya yang menatapku dengan begitu dalam.
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku Anindya, aku mencintaimu bukan karena hanya ingin bertanggung jawab, bukan hanya karena Alena, tapi untuk diriku sendiri," jelas mas Haris, dan entah kenapa mendengar kalimatnya kali ini membuatku ingin menangis. Aku seperti bisa merasakan tentang cintanya yang begitu dalam, namun aku selalu salah paham.
"Aku tidak bisa menahannya lagi Anin, aku ingin kamu tau bahwa aku benar-benar mencintai kamu. Kamu tidak akan pergi lagi kan?" tanya Mas Haris, suaranya lirih sekali. Sebuah pertanyaan yang juga terdengar seperti permohonan di telinga ku.
Wajahnya yang sendu justru membuat daddaku terasa sesak, ternyata aku pun tak sanggup melihat dia yang tersiksa. Pada akhirnya justru aku yang menangis lebih dulu.
Aku tidak akan mempertanyakan apapun, bahkan tentang Namira. Semua itu hanyalah masa lalu yang kamu punya. Malam ini aku pun akan mengatakan tentang cinta yang aku punya. Tak ingin lagi menutupinya.
Mas Haris harus tau bahwa aku pun sangat mencintai dia, sangat berterima kasih karena telah bersedia menerima ku dan Alena dengan begitu mudah, bahkan tanpa meminta dilakukan tes DNA.
"Maafkan aku Mas, aku tidak tau harus bicara apa. Tapi terima kasih karena telah menerimaku dan Alena, aku ... Aku juga sangat mencintai mas Haris," balasku, bicara dengan tenggorokan yang tercekat sebab menahan tangis.
"Jangan bohong, apa benar kamu mencintai aku?" tanyanya, malah Mas Haris yang tidak percaya. Padahal harusnya akulah yang diposisi itu, benarkah seorang Haris Pratama mencintai aku dengan begitu dalam.
"Mas Haris tidak percaya?" balasku pula.
"Sejak kapan?" tanyanya, bertanya dengan antusias, bahkan memeluk tubuh ku semakin erat.
"Tidak tahu, tapi yang jelas setelah kita bertemu lagi," jawabku apa adanya.
Dan di balas langsung dengan ciuman oleh mas Haris. Jika tadi aku masih malu-malu, tapi sekarang tidak lagi. Aku bahkan memberanikan diri untuk membalas ciumannya.