
Tepat 1 bulan kami tinggal di apartemen, akhirnya dokter Anton memberi izin untuk Alena pulang ke rumah.
Ya Allah, saat mendengar keputusan itu aku sangat bersyukur. Tak henti-hentinya aku mengucap Alhamdulillah dan Allahuakbar.
Hari ini akhirnya kami bersiap untuk pulang.
"Tidak usah membereskan apapun, biar dikerjakan oleh pelayan. Lebih baik sekarang kamu telepon ibu," ucap Mas Haris, dia tau saja jika aku sudah hendak mengemas semua baju kami, aku, Alena dan Mas Haris.
Tapi ucapannya itu pun benar juga, pasalnya aku belum menghubungi ibu tentang hal ini. Aku dengan bibir tersenyum aku mengangguk padanya, "Baik, Mas," jawabku kemudian.
Aku masuk ke dalam kemar sebab ponselku ada di dalam sana. Alena dan mas Haris berada di ruang tengah dan masih menonton televisi. Sementara para pelayan mulai mengemasi barang-barang kami.
"Assalamualaikum, Bu," ucapku saat panggilan ini terhubung.
"Waalaikumsalam Nduk, ada apa ini? Sepertinya suara mu bahagia sekali," balas ibu. Jawaban yang membuatku makin tersenyum lebar.
"Alena sudah boleh pulang, Bu. Hari ini kami akan pulang ke rumah," jelasku.
"Alhamdulillah ya Allah, Alhamdulillah," balas ibu dengan haru, bahkan hanya mendengar suaranya aku sudah bisa tau bahwa ibu langsung menangis. Sangat bersyukur tentang hal ini, penantian yang selama ini kami harap-harapkan.
Dulu tiap malam ketika Alena dirawat di rumah sakit, kami selalu meyakinkan diri bahwa Alena pasti pulang, bahwa Alena pasti sembuh, bahwa Allah pasti akan memberi pertolongan pada kami semua.
Dan Ya Allah, Alhamdulillah, kini semua itu benar-benar terwujud.
Sama seperti ibu akhirnya aku menangis juga.
"Ya sudah sana bersiap-siaplah, jangan lama-lama, cepat pulang, ibu akan menunggu."
"Iya Bu," jawabku, "Oh iya Bu, Mas Haris juga akan pulang ke rumah. Dia akan tinggal bersama kita."
"Tidak apa-apa, ibu memahami kalian. Ibu justru semakin bahagia mendengarnya. Kita harus memperlakukan Haris dengan baik."
"Terima kasih, Bu," ucapku lagi, tak tau harus bicara apa untuk mengutarakan kebahagiaan dan rasa lega ini.
"Iya sayang, cepatlah pulang, ibu rindu kalian semua."
"Iya," ucapku dengan mengangguk, padahal ibu tak akan bisa melihat pergerakan kepala ku ini.
Setelah sambungan teleponku dengan ibu terputus, aku coba menghubungi Namira. Ingin menyampaikan kabar bahagia ini juga.
Tapi panggilan ku ternyata tidak mendapatkan jawaban. Pesan terakhir ku 2 hari lalu pun belum di jawabnya juga.
Menyadari akan hal itu, seketika aku terdiam. Baru sadar jika akhir-akhir ini Namira sulit sekali untuk ku hubungi. Namira berubah saat kami semua pergi ke taman.
Astaghfirullahaladzim, batinku. Karena terlalu bahagia hubungan ku, Alena dan Mas Haris semakin membaik, aku jadi mengabaikan tentang Namira.
Ku coba untuk meneleponnya sekali lagi, dan sekarang malah nomornya tidak aktif. "Astaghfirullahaladzim," ucapku lirih.
Akhirnya ku putuskan untuk mengirim pesan saja.
'Assalamualaikum Namira, hari ini kami akan pulang ke rumah. Dokter Anton telah mengizinkannya. Aku akan mengirim alamat rumah kami, datanglah kesana jika tidak sibuk.' tulisku.
Namun ku hapus lagi beberapa kata, juga ku tambahi sebagai.
'Assalamualaikum Mama Namira, hari ini Alena akan pulang ke rumah. Nanti mama main ya ke rumah Alena.' tulisku, lalu kirim.
"Anindya," panggil Mas Haris dari arah pintu, aku yang sedikit terkejut langsung menatap ke arahnya.
"Mas," balasku pula seraya bangkit dari tepi ranjang dan menghampiri dia. Mas Haris hanya selalu berdiri di ambang pintu, dia tak ingin masuk ke dalam kamarku. Aku bisa memahaminya, aku pun akan canggung jika dia sampai masuk.
Kini kami telah sama-sama berdiri di ambang pintu kamar ini.
"Kenapa lama sekali, bukannya hanya menghubungi ibu?" tanya Mas Haris.
"Aku juga coba menghubungi Namira, tapi nomornya tidak aktif," jawabku jujur. "Aku merasa dia menghindari aku Mas, sejak kita semua pergi ke taman waktu itu." timpalku lagi dengan suara yang lirih.
"Itu akan bagus untuk Namira, menjauhi hal-hal yang mungkin membuatnya sakit hati. Melihat kita bersama jelas bukan hal yang mudah untuknya, jadi lebih baik memang harus memberi jarak lebih dulu," balas Mas Haris, lengkap dengan tatapannya yang intens.
Aku mengangguk kecil, kenapa tidak peka tentang seperti ini? Aku justru selalu menghubungi Namira lebih dulu. Ku pikir dengan begitu Namira tak akan terlalu merasa sakit, tapi ternyata tindakan ku lagi-lagi salah.
Nyatanya dengan terus menghubunginya seperti ini, justru membuat Namira makin merasa sakit.
Ya Allah, batinku lirih seraya membuang nafas berat.
Bodoh, batinku pula. Membodohi diri sendiri.
"Sekarang jika Namira tidak menghubungi kamu, tidak usah menghubunginya lebih dulu. Ya?" tanya Mas Haris dan aku mengangguk kecil.
"Pintar," balas Mas Haris seraya mengelus puncak kepalaku dengan lembut.
Selama ini aku adalah wanita yang kuat, wanita yang sangat mandiri. Tapi kenapa dihadapannya aku seperti wanita kecil yang tak berdaya.
Seperti kucing kecil yang patuh pada tuannya.