Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua
AGKK Bab 60 - Keceplosan


POV Author 💋


*


"Mbah Putri, kenapa Mama dan Papa lama sekali bersiap-siapnya, coba aku lihat ya?" tanya Alena, sudah hampir 20 menit dua orang tuanya itu berada di dalam kamar untuk bersiap-siap pergi ke rumah nenek Farah, tapi hingga sekarang belum juga terlihat akan keluar.


Entah apa yang sedang dipersiapkan oleh kedua orang tuanya tersebut, membuat Alena jadi merasa penasaran dan ingin tahu. Bocah kecil berusia 5 tahun itu pun meletakkan boneka Barbienya di atas karpet, ingin segera menuju kamar Sang mama.


"Eh, tidak usah sayang, biarkan saja mama dan papa bersiap-siap. Nanti kalau Alena masuk malah tambah lama, nenek Farah sudah menunggu," balas Mbah Putri. Haduh, seketika mendadak cemas ketika melihat cucunya ingin mendatangi kamar kedua orang tuanya.


Sementara ibu Husna sudah sangat tahu apa yang terjadi di dalam sana, Ya namanya juga pengantin baru. Bisa gawat jika Alena tiba-tiba Alena mengganggu. "Kita main di luar saja yuk, Alena kan punya sepeda baru, belum lihat kan? Ayo Mbah tunjukkan," ajak Mbah Putri dengan antusias, demi kembali menarik perhatian Alena padanya.


Dan untunglah usaha ibu Husna berhasil. "Ayo Mbah, sepeda yang dibeliin Papa ya? Kemarin papa sudah bilang, tapi aku belum lihat," balas Alena yang sudah kembali semangat untuk bermain.


Bu Husna tersenyum lebar, dia pun senang sekali menghabiskan waktunya bersama Alena seperti ini. Bu Husna tidak perlu repot memikirkan tentang rumah dan dapur, karena sudah ada pelayan yang mengurus semuanya, jadi di masa tuanya benar-benar dilewati dengan bahagia dan hanya fokus kepada sang cucu.


Sungguh, hingga detik ini Bu Husna juga masih tidak percaya bahwa kehidupannya akan berubah 180 derajat seperti ini. Dari orang miskin yang serba kekurangan, tiba-tiba berlimpah dengan kemewahan.


Bu Husna tidak henti-hentinya mengucapkan syukur.


Jadi setelah bersepakat untuk bermain sepeda, akhirnya mereka berdua pun keluar, sepeda itu sudah terparkir sempurna di garasi. Dan ternyata mainan Alena bukan hanya ada sepeda saja, bahkan ada mobil listrik pula, juga skuter. Dari semua mainan itu akhirnya Alena memutuskan untuk bermain mobil listrik. Dibantu oleh pak supir mereka bermain di halaman rumah.


Alena melihat di jalan sana Mas Reyhan sudah rapi menggunakan seragam sekolahnya, naik sepeda menuju sekolah. Di jam seperti ini mas Reyhan baru pergi, pasti sekolahnya masuk di jam siang. Sesaat mereka saling pandang meski jaraknya cukup jauh.


"Iya sayang, tahun depan Alena insyaallah sudah bisa sekolah," jawab Mbah Putri.


Dan Alena senang sekali.


Disaat Alena sibuk bermain, di dalam rumah akhirnya sepasang pengantin baru itu melepaskan penyatuan mereka. Namun menyisahkan desir yang begitu nyata.


"Apa kita tunda saja ke rumah mamanya?" tanya Haris, dia menatapi Anindya yang coba memasang bra-nya kembali. Sementara Haris tidak berniat untuk membantu, dia suka melihat semua pemandangan di depan matanya ini. Rasanya Haris bahkan ingin menghentikan pergerakan tangan sang istri, tak rela kedua gunung indah itu kembali ditutupi.


"Jangan Mas, aku kan belum pernah ke sana. Jadi lebih baik jangan ditunda lagi, tidak sopan,"' balas Anin.


"Memangnya jalanmu tidak sakit?" tanya Haris lagi.


Pertanyaan yang tentu membuat Anindya jadi malu. Sebab tadi dia keceplosan bilang sakit karena Mas Haris terlalu perkasa.


"Kita tunda saja ya?"


"Aku akan jalan pelan-pelan," balas Anin dengan cepat.


Haris tersenyum kecil, mau tidak mau pada akhirnya dia membantu sang istri untuk memakai bra tersebut. Lalu menggendong Anindya untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi.


Bersiap lagi dan akhirnya benar-benar pergi.