Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua
AGKK Bab 30 - Terasa Begitu Hangat


Saat pagi menjelang, sehabis subuh mas Haris sudah mengetuk pintu kamarku. Dia datang untuk menagih janji tentang semalam.


"Datanglah ke kamar Alena sekarang, katakan padanya bahwa kamu berubah pikiran. Aku akan ikut kalian pulang dan kita akan menikah," ucap mas Haris, nyaris saja aku merasa pembicaraan kami semalam seperti mimpi. Tapi sekarang mas Haris kembali membuatnya jadi nyata.


Bahwa kami akan menikah.


Sesaat ku tepikan pikiran tentang Namira, coba ku fokuskan hati dan otakku pada Alena saja. Meski tak bisa ku pungkiri bahwa hatiku pun berdebar tentang hal ini.


Ya Allah, akhirnya aku benar-benar jadi orang ketiga.


"Iya Mas," jawabku seperti wanita tak punya malu, jelas-jelas mas Haris akan menikah dengan Namira namun kini aku hadir diantara keduanya, seperti orang bodoh dan menikmati hari yang berdegup.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya mas Haris tiba-tiba, aku bahkan tidak tau kemana arah pembicaraannya kali ini.


"Wajahmu nampak jelas jika sedang bingung, apa kamu memikirkan tentang Namira?" tanyanya lagi.


"Maaf Mas, aku sudah berusaha. Tapi tetap saja rasanya sulit. Aku merasa telah jadi orang ketiga untuk kalian," jawabku pula, tak sanggup lagi menyimpan perasaan ini sendirian, jadi ku utarakan pada Mas Haris.


"Tidak apa-apa, wajar jika kamu merasa seperti ini. Tapi ku mohon jangan mundur lagi, ya?" tanyanya dan aku hanya bisa mengangguk.


Mas Haris mengantarku sampai ke depan pintu kamar Alena, setelahnya dia pergi dan memberi waktu padaku untuk menjelaskan semuanya pada gadis kecil tersebut.


Saat aku masuk, Alena belum bangun. Dia masih tertidur dengan nyenyaknya.


"Sayang," panggilku dengan suara lembut.


Butuh waktu sekitar 5 menit sampai akhirnya Alena benar-benar terbangun. "Dimana Papa, Ma?" tanya Alena, langsung tentang papanya yang dia tanyakan.


"Papa ada di depan, ayo kita mandi dulu baru temui Papa," ajakku dan Alena mengangguk antusias.


Jam 6 pagi Alena sudah cantik dan rapi, rambutnya pun ku ikat ekor kuda hingga terlihat begitu indah. Sebelum keluar aku lebih dulu bicara seperti yang diperintahkan oleh Mas Haris.


"Alena," panggilku dengan nada serius.


"Iya Ma, ada apa?" balas Alena pula, dia seolah tau jika ada yang ingin aku bicarakan.


"Nanti saat kita pulang ke rumah, Papa juga akan ikut dengan kita," ucapku.


"Ha? Benarkah? Kata Mama papa akan pulang ke rumahnya sendiri?!" tanya Alena bertubi, suara pun terdengar menggebu-gebu.


"Tadi malam Mama dan Papa sudah banyak bicara, kesimpulannya Papa akan ikut kita pulang."


"Hem, Mama tidak bohong."


"Apa Mama dan Papa akan menikah lagi?"


Aku mengangguk.


"Bagaimana dengan Mama Namira? Apa Papa juga akan tetap menikahinya?"


Aku terdiam sesaat, ku elus puncak kepala Alena dengan lembut. "Mama juga tidak tahu, biarkan itu jadi urusan Papa, ya?" balasku akhirnya dan Alena kembali mengangguk dengan antusias.


Sepertinya dia sudah sangat bahagia mengetahui Papanya akan ikut pulang, jadi tidak begitu memperdulikan hal yang lainnya lagi.


"Ayo kita keluar Ma, aku ingin bertemu Papa," kata Alena.


Kami keluar bersama dan langsung menuju ruang tengah, di sana Mas Haris sudah menyambut dengan tangan yang direntangkan, ingin Alena segera masuk ke dalam pelukannya.


Wajah Alena ceria sekali, semangatnya seperti bertambah berkali-kali lipat.


"Ye! Nanti Papa akan ikut pulang ke rumah!" kata Alena langsung setelah berada di dalam pelukan Papanya.


Ku lihat Mas Haris pun tersenyum lalu tertawa kecil. "Tentu sayang, dimana ada Alena disitu akan ada Papa," jawab Mas Haris.


Mas Haris kemudian memberiku isyarat untuk mendekat, aku pun menurut hingga berdiri di hadapannya yang kini menggendong Alena. Tidak ku sangka dia menarik pinggangku untuk dipeluknya erat. Sampai jantungku seperti hendak terlepas. Aku ingin melepaskan diri, namun urung saat mendengar Alena bicara ...


"Aku bahagia sekali," ucap Alena dengan kedua mata yang berseri. Tak perlu dijelaskan dengan kata-kata, kebahagiaan itu benar-benar terpancar jelas di kedua matanya.


Ya Allah, batinku. Ini adalah kali pertama Alena mengakui kebahagiaan seperti ini.


"Papa juga bahagia sekali sayang, kalau Mama bagaimana?" tanya mas Haris, seraya memeluk pinggangku makin erat. Sebuah pertanyaan yang membuat Alena pun langsung menatap ke arahku juga.


"Mama juga sangat bahagia, sayang" balasku pada Alena.


Dan membuat suasana pagi kami jadi terasa begitu hangat. Sesaat aku benar-benar lupa tentang Namira. Sesaat benar-benar menginginkan Keutuhan keluarga yang seperti ini.


Mas Haris lalu mencium pipi Alena dengan penuh kasih sayang, setelahnya melepaskan pelukan dipinggang dan mengelus pipiku lembut.


Aku tidak tahu bagaimana rupa wajahku sakarang, namun aku merasa wajahku jadi panas.