Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua
AGKK Bab 39 - Langit dan Rindu


Sebenarnya ingin sekali ku sentuh bibirku yang terasa kebas, tapi karena malu jadi hanya mampu ku kullum sendiri.


Ya Allah, mau ditaruh dimana mukaku sekarang. Rasanya ingin tiba-tiba menghilang.


"Habiskan makananmu, Sayang. Setelah itu istirahat sebentar lalu kita pulang," ucap mas Haris, dia bicara pada Alena dengan santainya, seolah tak ada insiden yang baru saja terjadi.


Jantungku masih berdegup tidak karuan, namun dia sudah kembali bersikap seperti biasa.


Apa ciuman itu tidak membuatnya canggung?


Apa ciuman itu tidak berarti untuknya?


Arght!! Kenapa pikiranku jadi penuh dengan ciuman tersebut, bahkan lembabnya bibir Mas Haris seperti masih bisa ku rasakan dengan jelas.


Astaghfirullahaladzim, otakku sudah konslet.


Dan makin tak karuan saat Mas Haris meletakkan makanan di dalam piringku. Ya Allah kenapa Mas Haris selalu memperlakukanku dengan penuh perhatian seperti ini? Apa iya semua karena Alena?


"Mama kok melamun terus, ayo cepat makan," ucap Alena.


"Mungkin Mama masih malu gara-gara ciuman tadi," kata Mas Haris pula, malah menjadikannya candaan.


"Kan tidak sengaja Ma, jadi tidak apa-apa, tidak berdosa," balas Alena, lalu terkekeh kecil.


"Benar sayang, kalau tidak sengaja tidak apa-apa," tambah Mas Haris pula dan membuatku seperti terpojok oleh kelakuan dua orang tersebut.


"Mungkin Mama ingin Papa suapi," celetuk Alena lagi, nyaris saja aku tersedak dibuatnya.


Kedua mataku makin mendelik saat Mas Haris harus mengarahkan sendoknya padaku.


"A," kata Mas Haris, memintaku untuk buka mulut.


"Ti-tidak usah Mas, aku bisa makan sendiri."


"A," katanya sekali lagi dan aku tidak bisa menolak. Dengan canggung sekali akhirnya ku terima suapan darinya tersebut.


Mas Haris bahkan membersihkan bibirku yang mungkin ada noda, entahlah aku tidak bisa lihat. Tapi sentuhan kecilnya tersebut membuatku makin gugup tak terkendali.


Selesai makan yang penuh debar, kembali ku periksa ponselku untuk melihat adakah balasan pesan dari Namira dan ternyata memang benar ada.


'Maaf Mbak Anin, ternyata aku tidak bisa datang. Banyak pasien yang harus aku tangani,' tulis Namira dalam pesan singkatnya.


Membaca pesan itu hatiku jadi berdesir sendiri, kecewa juga, merasa bersalah juga, sebab kami semua pergi bukan dihari jadwal yang sebelumnya telah ditetapkan.


"Alena, Mama Namira tidak bisa datang. Karena banyak pasien yang harus dia tangani," ucapku pada Alena.


"Yah, padahal akan lebih seru jika ada mama Nami," balas Alena.


Mas Haris hanya diam saja diantara pembicaraan kami ini.


"Alena kirim pesan voice ya, katakan jika kita bisa pergi lain waktu," pintaku.


"Iya Ma," jawab Alena patuh. Ku dekatkan ponselku pada Alena, ku tekan tanda speaker dan kemudian Alena bicara.


Aku tersenyum lalu mengelus puncak kepala Alena dengan lembut, meski Namira tidak akan jadi ibu sambungnya, tapi aku ingin Alena tetap bersikap baik pada Namira.


Entah Alena sadar atau tidak, tapi kami memang telah mengusik kebahagiaannya. Jadi jangan hanya memastikan tentang kebahagiaan kami sendiri, kami juga harus memastikan bahwa Namira bahagia dan baik-baik saja.


Selesai pesan itu terkirim, kembali ku simpan ponselku di dalam tas. Dan tatapan mas Haris langsung menyambutku tanpa aba-aba.


Selalu saja, jika menyangkut Namira wajahnya akan berubah jadi menyebalkan seperti itu. Entah bagaimana lagi caranya aku membicarakan ini dengan Mas Haris.


Kenapa kami selalu tidak sepaham jika tentang Namira.


Demi menghindari tatapannya itu, jadi ku sibukkan diri untuk membereskan semua barang-barang, karena setelah kami pun akan pulang.


"Ma, duduk di sini, di dekat Papa," pinta Alena.


"Iya sayang, sebentar lagi," jawabku, setelah ku tutup tas bekal makanan aku mendekati keduanya. Inginya aku duduk di samping Alena, tapi mas Haris lebih dulu menahan tanganku dan menarik agar duduk di sampingnya.


Sekarang Alena tidur-tiduran di kaki papanya.


"Jangan tidur dulu sayang, kan habis makan," ucapku, mengingkatkan.


"Oh iya ya, Alena lupa," jawab bocah tersebut, kini dia bangun dan langsung duduk dipangkuan ayahnya.


Kami melihat suasana taman yang nampak tenang, hijau dan udara yang segar.


"Duh, aku jadi ngantuk," kata Alena pula.


"Kalau begitu ayo kita pulang sekarang," ajakku.


"Tapi aku ingin tidur di sini Ma," jawab Alena.


"Ya sudah tidurlah, kita masih akan di sini sampai jam setengah 10, baru setelahnya pulang," ucap Mas Haris, menengahi perdebatanku dengan Alena.


"Terima kasih, Papa," jawab Alena, dia memeluk papanya erat.


Beberapa saat kami hanya saling diam, hanya menikmati pemandangan indah ini. Sampai ku lihat Alena benar-benar terlelap di atas pangkuan Mas Haris.


"Alena sudah tidur, Mas," kataku dengan suara yang pelan.


"Hem," jawab Mas Haris singkat, ternyata dia sedang menatap langit cerah di atas sana. Menatap dengan intens seolah ada rasa yang berbeda.


Aku jadi diam, tidak berani menganggu konsentrasinya. Aku jadi mengikuti arah pandangnya tersebut, menatap langit biru dengan beberapa awan putih yang berserak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Secuil POV Mas Haris.


Di langit yang kutatap, ada rindu yang kutitip untukmu.


Lantas kutatap rindu itu yang kini duduk di sampingku, Anindya.