
"Hari ini juga aku akan mengatakan pada Namira tentang keputusanku," ucap mas Haris disaat dia hendak pamit pergi bekerja. Alena sudah masuk lebih dulu sebab gadis kecil itu sedang mendapatkan telepon dari Mbah Putrinya.
"Apa tidak terlalu terburu-buru, Mas? bagaimana jika setelah hari minggu," tawarku, kemarin Namira begitu antusias ketika mengajak Alena untuk pergi piknik ke taman, entah bagaimana jadinya jika hari ini mas Haris mengatakan tentang keputusan mereka.
Namira pasti akan sangat hancur, aku bahkan tak sanggup untuk membayangkannya.
"Semakin lama Namira tau, dia pun akan semakin berharap pada hubungan kami," jawab mas Haris, jawaban yang membuatku menghela nafas perlahan, tak bisa ku pungkiri aku pun membenarkan ucapannya tersebut.
"Baiklah kalau begitu, tapi aku mohon Mas, pilihlah kalimat yang bagus ketika bicara dengan Namira. Jangan hanya gunakan Alena sebagai alasan, tapi meminta maaflah dengan sungguh-sungguh," pintaku pula, aku sadar aku tidak akan bisa jadi obat untuk Namira, yang mampu membuat Namira sembuh adalah mas Haris sendiri.
Karena tiap kali aku mulai ikut campur dalam hubungan mereka, yang ada malah semakin hancur.
Mas Haris pun menganggukkan kepalanya, dia tidak menjawab apapun untuk kata-kata ku tersebut.
"Aku pamit dulu," kata mas Haris kemudian dan kini giliran aku yang mengangguk. Ku pandangi punggungnya yang menjauh, memandang dengan hati yang berkecamuk.
Ya Allah, batinku. Entah takdir seperti apa yang akan kami jalani, tapi alur hidup ini terasa begitu luar biasa. Seseorang yang selama ini hanya mampu ku pandang dari bawah, kini akan selalu berada di sampingku.
"Astaghfirullahaladzim," gumamku pula, saat hati hendak bersorak diatas penderitaan Namira.
Setelah mas Haris tak terlihat lagi, aku pun menutup pintu dan masuk. Menghampiri Alena yang sedang asik bicara dengan ibu.
"Bu," panggilku, ikut bergabung dengan Alena dalam sambungan video call tersebut.
"Anin, Haris sudah pergi?" tanya ibu di ujung sana.
"Ma, pegang dulu HPnya, aku mau ambil boneka di kamar," kata Alena pula, seraya buru-buru menyerahkan ponsel ini padaku.
"Alena bilang kalian akan kembali menikah, apa iya?" tanya ibu, kini suaranya terdengar serius.
Sementara aku hanya mampu menjawabnya dengan anggukan kepala yang nampak lesu. "Aku tau aku salah Bu, tapi bagaimana? Aku juga bingung," ucapku.
"Serahkan semuanya pada Allah Nin, jika kalian berjodoh tak akan ada yang bisa menghalangi. Begitu pun sebaliknya, jika Haris dan Namira berjodoh, maka tak akan ada yang bisa memisahkan mereka."
Aku terdiam sesaat, lalu kembali mengajukan pertanyaan. "Bagaimana caranya aku menghadapi Namira, Bu?" tanyaku, aku sungguh bingung.
"Hadapi saja, katakan maaf dengan tulus. Akan lebih menyakitkan bagi Namira jika kamu pura-pura tidak tahu semuanya."
Sungguh, saat ini aku justru ingin menangis. Entah karena apa tapi hatiku sedih sekali. Seolah demi kebahagiaan ku sendiri, aku sampai menghancurkan orang lain.
"Sudah, jangan menangis lagi. Sudah ibu bilang serahkan semuanya pada Allah, berserah saja, ikuti takdir yang sudah Allah susun untukmu. Sama seperti selama ini, disaat kita berjuang untuk Alena. Kelak, waktu lah yang akan menjawab semuanya," ucap ibu, kalimat yang seperti petunjuk untuk hatiku yang kehilangan arah.
Ketika sedang bicara dengan ibu hatiku memang cukup tenang, namun selepas panggilan telepon itu terputus hatiku kembali gundah.
Aku terus melihat ke arah jam, menerka-nerka sudahlah mas Haris mengatakan semuanya pada Namira.
Menjelang sore aku pun terus menatap ponselku, berulang kali melihat adakah pesan atau panggilan dari Namira. Namun hingga mas Haris pulang, sekali pun Namira tidak memberiku kabar. Padahal selama ini tak pernah sekalipun kami tidak saling bertukar kabar.
"Bagaimana Mas?" tanyaku langsung saat menyambut pria ini, ku tatap mas Haris yang wajahnya begitu datar. Membuatku makin kalut dalam rasa bimbang.
Namun belum sempat mas Haris menjawab, ponsel di tanganku sudah lebih dulu bergetar. Panggilan masuk dari Namira.
Deg!