Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua
AGKK Bab 59 - Ku Ulangi Lagi


"Jangan!" cegah Anindya dengan cepat, dia bahkan menutup mulutku menggunakan kedua tangannya yang terasa dingin.


Sementara dua pipinya kembali merah merona. Sumpah, aku ingin tertawa melihat wajahnya yang malu-malu seperti ini. Sudah ku duga jika Anindya akan menolak, dia pasti malu jika ingat tentang masa lalu.


Sebab sebelum aku menyatakan cinta, kami melewati malam bersama.


Perlahan aku melepaskan tangan Anindya yang membekap mulutku, jadi ku genggam tangan itu dengan erat.


"Kenapa? Padahal aku akan dengan suka rela mengulangi semua kisah kita di masa lalu," ucapku.


"Mas, jangan menggodaku terus," pinta Anindya dan terdengar seperti rengekan yang menggemaskan di telingaku.


Aku diam sesaat, hanya ku pandangi wajah Anindya yang memohon. Hari ini masih pagi dan rencana kami adalah pergi ke rumah mama Farah. Jadi memang belum memungkinkan untuk mengulang semua kenangan itu.


"Jangan menatapku seperti itu, ayo kita bersiap dan pergi," ajak Anindya.


Aku masih diam, belum ingin beranjak dari pelukan yang menenangkan ini. Justru ingin mencium bibirnya lebih dulu.


"Mas," kata Anindya lagi, kedua matanya berkedip dengan cepat, seolah hendak menghindari tatapanku yang intens.


Aku memang cukup sulit untuk bicara, aku lebih nyaman menunjukkannya secara langsung melalui tindakan. Jadi bukannya melepaskan pelukan, aku justru mengangkat tubuh Anindya lalu ku dudukan di meja riasnya.


Paper bag hadiah dari Namira sampai tergeser oleh tubuh Anin.


Sebelum Anindya sempat bicara untuk protes, aku lebih dulu memagut bibirnya dengan cepat, menelusupkan lidahku dan memeluknya erat.


Ternyata aku tidak tahan, ternyata aku justru ingin mengulang malam perttama kami di Bali 6 tahun lalu.


"Ah Mas!" pekik Anindya dengan suara yang tertahan, nafasnya pasti habis sebab aku menciumnya dengan penuh hasrat.


"Apa kamu ingat? Saat pertama kita melakukannya, aku bukan ingin menolongmu saja, tapi karena aku juga sangat menginginkanmu Anindya," ucapku, benar-benar ku kulik semua masa lalu kami, masa lalu yang seolah selama ini terkubur rapat, kini aku ingin membukanya dan menjadikan kenangan yang indah.


Anindya tidak langsung menjawab ucapan ku tersebut. Entah dia ingat atau tidak, namun sungguh, aku sangat ingin dia mengingatnya.


Dan karena keinginan itu aku jadi seperti kehilangan kendali. Ku remaas dada istriku dengan cukup kuat. Sampai Anin mengeluarkan suara desahnya yang manja.


"Mass, aku mengingatnya," lirih Anin, bicara diantara kedua matanya yang terpejam. Saat ini juga kembali ku lahap bibirnya dengan lembut, lalu berangsur jadi rakus.


Saat masuk tadi pintu sudah ku kunci, jadi akhirnya di atas meja ini aku kembali menguasai istriku, Anindya ku. Di ujung pelepasan kami, aku dan Anin sama-sama mengucapkan kata cinta. Lengkap dengan pelukan erat yang tak ingin pisah.


Aku yakin, setelah ini Anindya tak akan pernah lagi bicara tentang Namira. Karena sungguh, Namira hanya lewat di dalam hidupku, tak pernah sedikitpun singgah di dalam hati.


"Kamu wanita yang mandiri, pekerjaan keras, cantik dan penuh semangat. Kamu memang awalnya ceroboh, selalu membuatku marah. Tapi kamu selalu belajar untuk jadi lebih baik. Sejak itu aku mulai melihatmu, dan tidak pernah lagi bisa perpaling."


Anindya sontak memeluk ku erat saat ku ulangi kalimat itu lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kalimat itu adalah kalimat yang Haris ucapkan di awal dia menyatakan cinta pada Anin.


Selanjutnya mulai pakai POV author ya 💋