Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua
AGKK Bab 32 - Sekali Saja


"Siapa yang menelponmu? Kenapa terkejut seperti itu?" tanya mas Haris dan membuat semua pikiran gamangku jadi buyar.


Mas Haris juga mendekat seolah hendak mengambil ponsel di tanganku, sementara aku otomatis mundur untuk menciptakan jarak aman. Disaat seperti ini mana bisa aku berdekat-dekatan dengan mas Haris. Karena hatiku jadi makin bersama bersalah.


"Namira, Mas. Ini telepon dari Namira," jawabku kemudian, mas Haris sontak menghentikan langkah.


"Kenapa tidak dijawab? Kamu ingin aku yang menjawabnya?"


"Tidak!" balasku dengan cepat, bahkan tanpa sadar aku bicara dengan nada yang tinggi.


"Maaf Mas, biar aku yang jawab_"


"Aku sudah mengatakan semuanya pada Namira," ucap mas Haris, dia sampai memotong ucapanku demi bicara seperti itu. Kalimat yang membuatku jadi lemas, luruh sudah semua tenaga yang aku punya, rasanya sampai tak kuat untuk berdiri.


Jika Mas Haris sudah mengatakan semuanya pada Namira, jelas panggilan telepon ini adalah wujud kekecewaan Namira padaku.


Ya Allah, batinku lirih. Tiap kali gundah kembali menguasai hati, aku hanya mampu menyebut nama Allah untuk menenangkan diri.


"Jawablah, loudspeaker agar aku bisa mendengar apa yang akan dia katakan padamu."


"Tidak Mas, aku akan bicara berdua dengan Namira saja," jawabku pula, dan membuat mas Haris langsung menatap tajam padaku.


Tapi bagaimana lagi, aku merasa ada hal yang memang harus ku selesaikan berdua dengan Namira. Tanpa mas Haris.


Kebetulan saat itu Alena datang menyambut mas Haris, jadi aku hanya mampu menatapnya dengan sendu, sebelum akhirnya pilih untuk masuk ke dalam kamar dan menjawab panggilan telepon ini.


"Assalamualaikum Nami, maaf Mbak terlalu lama menjawab telepon mu," kataku, ku tutup pintu kamar ini dan bahkan menguncinya.


"Waalaikumsalam Mbak," jawab Namira akhirnya, ku dengar jelas suaranya yang lirih. Nafasnya yang memburu pun mampu ku dengar juga, seolah Namira baru saja menangis.


Aku terduduk dengan lesu di tepi ranjang.


"Maafkan Mbak, Namira. Mbak benar-benar meminta maaf padamu," kataku langsung, aku tak ingin pura-pura tidak mengetahui semuanya. Aku tak ingin seperti orang bodoh yang menari di atas penderitaan orang lain.


Jika Namira marah aku pantas mendapatkannya.


Namun yang ku dengar bukan caci makian, justru tangis yang membuat hatiku makin teriris.


"Mas Haris ingin membatalkan pernikahan kami Mbak, apa yang aku takutkan akhirnya benar-benar terjadi," kata Namira, bicara diantara Isak tangis yang ku dengar jelas.


"Maafkan Mbak, Namira. Mbak yang salah."


"Tidak Mbak, sejak awal mas Haris tau tentang Alena dia sudah ingin mengakhiri rencana pernikahan kami. Tapi aku yang meminta waktu, aku yang bersikukuh bahwa kita tetap bisa bersama, aku yang meminta untuk dikenalkan pada Alena dan mbak Anin," jelas Namira, dia mengambil nafas panjang sebelum kembali melanjutkan ucapan ...


"Tapi semua rencanaku seperti tak sejalan dengan takdir yang digariskan oleh Allah, karena Alena tidak ingin memiliki dua Mama. Dia hanya butuh mbak Anin dan mas Haris," jelasnya dan membuat ku tanpa sadar ikut menjatuhkan air mata.


"Untuk yang terakhir kalinya Mbak, boleh aku meminta sesuatu?" tanya Namira kemudian.


"Apa Nami? katakan lah," jawabku dengan cepat.


"Minggu besok, izinkan kami pergi bertiga saja. Sekali saja aku ingin memiliki Mas Haris dan Alena."