Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua
AGKK Bab 35 - Tidak Bisa Aku Tebak


Dengan wajah yang ditekuk, akhirnya aku melangkah cepat menyusul Mas Haris. Kami berdua masuk ke dalam kamar Alena yang sedang beristirahat.


Saat Magrib datang Mas Haris mengajak kami shalat berjamaah. Kekesalan yang ku rasakan beberapa saat lalu kini seketika sirna saat melihat mas Haris jadi imam.


Hatiku justru melunak dan lebih banyak berdebar.


Selesai shalat, Mas Haris pun menciumi pipi Alena dengan penuh kasih sayang.


"Mama tidak dicium juga, Pa?" tanya Alena dengan gamblangnya. Membuatku tersentak dan nyaris tersedak ludah sendiri.


"Sekarang Mama belum boleh dicium dulu sayang, nanti setelah Mama dan Papa menikah baru Papa boleh mencium Mama," terang mas Haris.


"Kalau begitu kenapa tidak menikah sekarang? Biar Papa bisa mencium Mama," jawab Alena, seolah kukuh sekali dia ingin mas Haris agar mencium ku.


Astaghfirullahaladzim, hanya membayangkannya saja sudah berhasil membuatku merinding.


"Nanti setelah kita pulang, Papa akan langsung menikahi Mama," balas Mas Haris, dia bicara dengan suaranya yang terdengar penuh keyakinan. Membuatku tak bisa menolak apalagi membantah, apapun keputusannya aku hanya mampu mengikuti.


"Alhamdulillah, itu tidak akan lama. Karena aku yakin, sebentar lagi kita akan pulang," kata Alena tak kalah yakin dengan ayahnya.


Membuatku tersenyum penuh haru sendiri. Sepertinya aku memang harus bersikap egois, bersikap seolah tak tau diri. Sebab hanya dengan bersama mas Haris lah aku bisa benar-benar bisa memberikan kebahagiaan yang hakiki untuk Alena.


Ku alihkan pandangan ku, yang awalnya tertuju pada Alena kini kuubah ke arah mas Haris. Menatap wajahnya yang terduh dengan hatiku yang bergemuruh.


Ya Allah, semoga memang benar bahwa mas Haris adalah jodohku. Jodoh sampai maut memisahkan kami, bukan hanya jodoh sementara karena adanya Alena. Batinku penuh harap.


Meski semuanya demi Alena, tapi aku juga tidak ingin pernikahan ini nanti berujung jadi ladang penderitaan untuk kami berdua. Aku juga ingin memiliki pernikahan yang sesungguhnya.


Maaf ya Allah, maafkan aku jika begitu egois.


Karena sekarang aku pun berharap, nanti, suatu saat nanti Mas Haris bisa mencintai aku juga.


Dan betapa terkejutnya aku saat dalam sekejap, mas Haris membalas tatapan ku ini.


Deg! aku yang gugup dan malu sontak menunduk demi menghindari tatapannya.


Deg deg! Deg deg! Ya Allah kini jantungku seperti ingin meledak.


Dan aku langsung membuang nafas lega.


"Siap Pa!" jawab Alena penuh semangat, dia bahkan melepaskan mukenahnya sendiri dengan buru-buru. Sementara aku masih merapikan sajadah kami dan barulah melepas mukenah ini.


"Aku duluan," kata mas Haris, dia menyentuh lenganku sebagai tanda pamit.


Ya Allah, bagaimana bisa tiba-tiba Mas Haris bersikap lembut seperti ini. Sungguh, tentang mas Haris tidak pernah bisa aku tebak apa isi kepalanya.


"Iya Mas," jawabku pula.


Kulihat Mas Haris dan Alena keluar bersamaan, meninggalkan aku yang belum melipat mukenah.


Sekarang aku sadar, aku memang telah menusuk Namira dari belakang. Sebab bagiku, ini semua bukan tentang Alena, tapi juga tentang hatiku sendiri. Tak bisa ku pungkiri, aku menikmatinya, hati yang berdebar-debar.


Satu-satunya cara agar aku tidak terlalu merasa bersalah pada Namira adalah dengan cara memperlakukannya dengan baik.


Ya, seperti itu.


Jam 8 malam Dokter Anton benar-benar datang, dia melakukan serangkaian pemeriksaan pada Alena, sampai membuat keputusan tentang rencana kami besok.


"Oke, Alena boleh pergi ke taman," putus dokter Anton.


"Ye! Alhamdulillah," kata Alena dengan lucunya.


"Tapi_"


"Tapi apa Dokter?" tanya Alena dengan cepat, sampai memotong ucapan sang dokter.


"Tapi cukup pergi selama 3 jam, mulai dari jam 7 dan pulang di jam 10, ya?"


"Siap!" jawab Alena, hampir saja dia murung.


Aku melirik Mas Haris dan ternyata dia sedang menatapku.


Deg!