
"Mama lapar sekali, ayo kita sarapan sekarang," jawabku kemudian, karena tidak tau harus menjawab apa pertanyaan Alena jadi aku mengalihkan perhatiannya dengan cara seperti ini.
Meski sebenarnya tentang aku yang lapar juga adalah sebuah kebenaran. Semalaman bersama dengan Mas Haris ternyata sangat menguras tenagaku.
"Iya Papa juga lapar," timpal Mas Haris kemudian, tumben sekali kini dia berada di pihakku.
Ibu dan Dara pun coba untuk menghentikan tawa mereka masing-masing.
"Ya sudah, ayo kita makan," putus Alena pula, Mas Haris langsung berjongkok untuk menggendong gadis kecil kami.
"Nanti dokter Anton akan datang ke sini untuk memeriksa Alena, ya?" ucap Mas Haris.
"Siap Pa," jawab Alena patuh. Dan aku selalu tersenyum tiap kali melihat interaksi keduanya seperti itu. Sejak kemarin Alena aktif sekali, untuk berjaga-jaga jadi Mas Haris telah meminta dokter Anton untuk datang.
Mas Haris bahkan berencana untuk menyiapkan perawat atau dokter pribadi untuk Alena, jadi jika ada gejala kecil saja kita semua bisa langsung menanganinya.
Aku tidak bisa menolak semua keputusannya tersebut, aku juga tidak berencana membantah. Karena semua dilakukan demi Alena.
Selesai sarapan Dara pamit untuk pulang, Alena sampai merengek menahan agar Dara tidak pergi. Mereka berdua cepat sekali akrabnya.
"Pagi ini Tante pergi dulu sebentar, nanti malam Tante menginap lagi," putus Dara agar Alena tidak menangis.
"Benar? janji ya?" balas Alena, dia mengulurkan jari kelingkingnya yang masih kecil.
"Iya Janji," balas Dara, bukan hanya menuatkan jari kelingking. Namun Dara juga memeluk dan menciumi wajah sang keponakan.
"Yah, Tante Dara pergi. Aku tidak punya teman bermain," keluh bocah berusia 5 tahun tersebut. 5 bulan lagi Alena akan berusia 6 tahun, entah bagaiman nanti, bolehkah Alena mulai sekolah atau homeschooling. Tentang hal ini pun sudah mulai terpikir di otakku, tapi tentu saja yang utama adalah kesehatan Alena lebih dulu.
"Kenapa bicara seperti itu, kan ada Papa yang bisa jadi teman bermain Alena?" balas Mas Haris, dia seperti tidak terima atas ucapan Alena barusan. Ku lihat mas Haris jadi seperti ingin bersaing dengan Dara untuk mendapatkan perhatian Alena.
"Ya beda dong Pa, Tante Dara kan lucu," balas Alena, kini dia sudah berada di gendongan Mas Haris dengan bibir mengerucut.
"Memangnya Papa tidak lucu?" tanya Mas Haris lagi.
"Lucu sih, tapi cuma sedikiiit," balas Alena, aku sampai tertawa saat mendengar jawabannya itu, daripada mas Haris dan Dara, Alena adalah yang paling lucu.
"Ayo masuk," ajakku, keduanya malah berdebat di sini.
"Baiklah kalau begitu, Papa akan berusaha untuk membuatkan Alena adik, jadi nanti jika Tante Dara tidak di sini Alena akan punya teman bermain yang lucu," ucap Mas Haris kemudian, setelah aku dan dia melangkah hendak masuk ke dalam rumah.
Ucapannya itu membuatku nyaris tersedak ludahku sendiri, sebab bayangan semalam jadi teringat jelas di ingatan.
"Adik?" tanya Alena pula dan mas Haris mengangguk antusias.
Ya ampun, aku tidak sanggup berada di tengah pembicaraan ini. Membuatku tersipu malu. Langkah kami jadi terjeda ketika mendengar sebuah mobil memasuki halaman rumah ini. Kami jadi urung membuka pintu dan kembali berbalik melihat siapa yang datang.
Kami kira itu dokter Anton, tapi ternyata bukan. Itu adalah Namira.