
"Ayo kita istirahat dulu," ajak Mas Haris setelah cukup lama kami bermain bubble Gun tersebut. Mas Haris kemudian menyerahkan tembakkan gelembung itu padaku dan dia mengendong Alena.
Satu yang tak ku duga, mas Haris pun menggandeng tanganku saat dia mulai berjalan menuju tikar kami.
Deg!
"Aku bahagia sekali," kata Alena, ucapan yang membuatku tak sempat merasa terkejut. Langsung ikut berjalan mengimbangi langkah Mas Haris.
"Mama bahagia tidak?" tanya Mas Haris, dia menatapku lalu di susul oleh Alena.
"I-iya, Mama sangat bahagia," jawabku yang mendadak gagap. Tangan Mas Haris terasa hangat sekali, namun membuatku jadi mengeluarkan keringat dingin.
Mas Haris sudah mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Namira, dia juga telah mengambil keputusan untuk menikahi aku setelah kami pulang ke rumah. Dan Namira mengetahui keputusannya itu, juga iklas melihat kami bersama.
Jadi sekarang tidak ada alasan untuk aku mengambil langkah mundur, meski gugup luar biasa, namun aku beranikan diri untuk ikut membalas genggaman Mas Haris tersebut. Sampai akhirnya kami jadi saling menggenggam.
Ketika aku mulai membalas genggamannya, Mas Haris menoleh ke arahku sejenak. Dia pasti memahami gerak tubuhku tersebut. Tapi setelahnya dia malah melepaskan genggaman tangan kami dan ganti memeluk pundakku hingga jadi dekat sekali.
Alena juga langsung memeluk Mas Haris erat.
Deg! Ya Allah, jantungku benar-benar berdegup. Aku hanya membalas sedikit genggaman tangannya dan kini Mas Haris malah memelukku.
Untunglah jarak tikar kami tidak terlalu jauh, tiba di sana mas Haris melepaskan pelukannya dan menurunkan Alena.
"Alena, cuci tangan dulu ya," ucap Mas Haris kemudian.
Dia mengambil sebotol air mineral dan mulai mencuci tangan Alena.
"Ma, sini," kata Mas Haris kemudian, ternyata dia hendak mencuci tanganku juga.
"A-aku bisa melakukannya sendiri Mas," tolakku dengan gugup.
Dan langsung dijawab dengan Tatapannya yang dingin, padahal tadi wajahnya nampak begitu teduh. Tapi hanya butuh 1 detik raut wajahnya langsung berubah.
Tapi kini aku jadi sadar akan satu hal, jika wajahnya dingin seperti itu berarti dia tidak setuju dengan ucapanku. Itu artinya aku tidak boleh menolak, harus menuruti kemauannya.
"Ta-tapi mendadak aku malas cuci tangan sendiri," ucapku seperti orang bodoh, lalu mulai mengulurkan kedua tangan dan Mas Haris mencucinya.
Kulihat Mas Haris dan dia kembali tersenyum kecil.
Apalagi saat merasa gugup, tiba-tiba pikiranku jadi buntu.
Selesai cuci tangan kami akhirnya duduk bertiga di tikar, saat itu waktu masih menunjukkan jam setengah 9 dan kami mulai menyantap makanan yang kami bawa.
Sesekali ku liat ponsel menunggu adakah pesan atau panggilan dari Namira, tapi ternyata tidak ada. Karena gelisah menunggu, jadi ku putuskan untuk mengirim pesan lebih dulu.
'Nami, jadi datang tidak? Kami sudah berada di taman,' tulisku dalam pesan singkat tersebut.
"Ma, ayo ambil foto kita bertiga," ajak Alena tiba-tiba, jadi langsung ku tutup WhatsAppp dan membuka kamera.
"Baik sayang," jawabku pula.
"Biar aku yang ambil," ucap Mas Haris, lalu mengambil ponselku begitu saja. Jika sudah seperti itu aku hanya bisa menurut.
Klik! Satu foto telah terambil.
"Aku ingin Mama dan Papa menciumku," pinta Alena.
Glek! Aku menelan ludah.
"Oke," jawab mas Haris antusias. Jadi dengan kikut kami berdua mencium Alena.
Klik! foto itu akhirnya terambil.
"Lagi!!" kata Alena, dia riang sekali.
Aku dan Mas Haris hanya mampu menuruti. Tapi entah keturunan siapa, tiba-tiba Alena berubah jadi nakal. Karena tanpa aba-aba Alena mundur hingga aku mencium bibir Mas Haris.
Cup!
Klik!
"Yee!!" pekik Alena lalu tertawa bahagia. Sementara mas Haris terkekeh dan mengelus puncak kepala Alena lembut.
Sedangkan aku? sudah membatu.