Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua
AGKK Bab 44 - Percayalah Padaku


Jam 2 siang setelah semuanya beres akhirnya aku, Alena dan mas Haris pulang ke rumah. Alena akan sangat terkejut dan senang saat melihat rumah barunya nanti.


Sebab selama ini hanya mampu melihat melalui panggilan videonya dengan Mbah Putri.


Mas Haris dan Alena bernyanyi bersama, kadang menyanyikan lagu cicak-cicak di dinding, kadang menyanyikan lagu laba-laba kecil. Kami akan pulang ke rumah, tapi rasanya seperti hendak berlibur ke puncak.


"La la la la la," kata Alena yang sengaja merubah nada, Mas Haris yang gemas pun mencium leher Alena hingga bocah tersebut tertawa kegelian.


"Ampun Pa, Ampunn," kata Alena di sisa-sisa tawa yang dia punya.


"Baiklah, Papa ampuni," balas Mas Haris.


Alena lantas menatap ke arahku, seolah ada yang ingin dibicarakan. Jadi aku langsung menanyakannya, "Kenapa sayang?" tanyaku.


"Aku tidak ingin bertemu dengan Reyhan dan yang lainnya," kata Alena. Reyhan adalah anak-anak yang ada di sekitar rumah. Dulu Alena selalu jadi bahan olok-olok, sebab selalu berada di rumah dan tak pernah bermain di luar.


"Kenapa? Reyhan kan sudah meminta maaf pada Alena, dia mengaku salah karena selama ini menganggu Alena," jelasku pula, bagaimana pun Alena butuh bersosialisasi dengan lingkungannya.


Reyhan sebenarnya adalah anak yang baik, hanya perlu bimbingan orang tua saja.


"Siapa Reyhan? Apa dia menganggu Alena?" tanya Mas Haris pula, malah wajahnya yang nampak lebih menyeramkan. Langsung menunjukkan amarah di pembicaraan kami kali ini.


"Bukan begitu Mas, namanya juga anak-anak," balasku coba menengahi.


"Pokoknya aku tetap tidak mau bertemu dengan Rayhan lagi," kata Alena, seolah sudah mengambil keputusan.


"Benar, kalau Reyhan Reyhan itu nakal tidak usah ditemui lagi!" tambah Mas Haris, malah jadi kompor.


Astaghfirullahaladzim, batinku. Kenapa mendadak aku seperti memiliki dua anak, satu anak perempuan yang suka ngembek, dan satu anak pria yang suka marah-marah.


Padahal Reyhan dan ibunya bahkan sudah meminta maaf langsung padanya, saat Alena masih di rawat di rumah sakit dulu.


Tapi melihat kekompakan keduanya aku tidak bisa berbuat apa-apa, tak mungkin juga menyalahkan keduanya. Yang ada aku makin dikucilkan oleh kedua orang tersebut.


"Ya sudah, kalau tidak mau bertemu juga tidak apa-apa. Tapi Alena jangan membenci Reyhan, tiap orang pernah melakukan kesalahan, tapi dia juga berhak mendapatkan kesempatan kedua," jelasku.


"Oke Ma, tapi tiap Reyhan datang ke rumah, Papa akan selalu mendampingi Alena. Jadi bocah nakal itu tidak akan berani lagi menganggu anakku." Mas Haris yang menjawab dan ku lihat Alena bahagia sekali mendengar jawabannya itu.


"Setuju," kata Alena.


Keduanya kembali saling berpelukan.


Sebab di teras rumah sudah ada satu mobil mewah yang terparkir.


Mobil siapa itu?


Ibu pun tidak mengatakan apapun padanya.


"Ini rumah siapa, Pa?" tanya Alena, dia bertanya sebab mobil kami berhenti di sini.


"Ini adalah rumah kita sayang, rumah yang dulu sudah Papa renovasi."


"Benarkah?"


"Iya."


"Huwaa!!" Alena bahagia sekali, tapi pembicaraan itu tidak menjawab pertanyaan di dalam kepalaku.


Mobil itu milik siapa?


Kami semua akhirnya turun.


"Mas, apa kamu tau itu mobil milik siapa?" tanyaku pada Mas Haris, akhirnya aku tanyakan padanya, padahal ini rumahku sendiri.


"Itu mobil kedua orang tuaku," balas Mas Haris.


Aku sontak mendelik, "Kenapa Mas tidak bilang jika mereka akan datang?"


"Aku juga tidak tau, aku tau karena sekarang melihat mobil itu di sini."


Aku terdiam.


"Tidak akan ada hal buruk yang terjadi, percayalah padaku," timpal Mas Haris.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai hai hai, aku punya cerita baru jika berkenan silahkan mampir ya


Judul : Secret Agreement