Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua
AGKK Bab 52 - Untuk Kedua Kali


Deg deg! Deg deg! Aku sampai mampu mendengar suara detak jantungku sendiri. Detak yang makin jelas saat ku lihat Mas Haris mulai melangkah untuk mendekat.


Wajahnya nampak lebih segar dari beberapa saat lalu, namun wajah segar itu malah semakin membuatku takut. Untunglah mas Haris keluar dengan menggunakan pakaian lengkap, tidak hanya mengunakan handuk seperti yang ada di dalam bayanganku.


Melihat mas Haris yang mulai melangkah, aku pun langsung bangkit dari duduk dan menyambut kedatangannya. Canggung sekali jika kita sama-sama naik ke atas ranjang dalam keadaan seperti ini. Meski sudah sejak lama saling menerima, tapi tetap saja aku begitu canggung.


Sudah berdiri di hadapanku, mas Haris kemudian mengambil tanganku untuk dia sentuh. "Kamu gugup?"


"Iya Mas," jawabku dengan cepat, jawaban yang justru membuatku semakin merasa malu.


"Kamu tidak ingin melakukannya?" tanya dia lagi.


"Bukan seperti itu Mas, hanya saja..." aku mengambil jeda, sebab mendadak bingung bagaimana menjelaskannya. Malah tiba-tiba satu tangan Mas Haris naik dan menyentuh wajahku.


Nyes! Darrahku jadi seperti mengalir lebih deras, mendadak merasa panas.


"Apa yang membuatmu ragu?" tanya Mas Haris. "Bukannya kita sudah menikah? Kita juga bukan remaja lagi," timpalnya kemudian dan membuatku tak bisa menjawab apapun.


Hanya mampu menelan ludah dengan kasar, sampai rasanya gerak leherku terlihat jelas.


"Aku akan bertanya padamu sekali saja, apa kamu bersedia melakukannya?" tanya mas Haris, di telingaku kalimat ini terasa seperti bukan pertanyaan, melainkan perintah yang tak bisa aku tolak. Jika aku menjawab tidak, entah kekecewaan seperti apa yang akan dia tunjukkan.


Jadi akhirnya aku mengangguk, "Iya Mas, aku bersedia," jawabku.


Mas Haris kemudian mengikis jarak, dalam keadaan ini aku tau dia hendak mencium ku, jadi yang bisa ku lakukan hanyalah memejamkan mata dan menerima apapun yang akan dia lakukan padaku.


Entah bagaimana caranya, tapi kini kami sudah sama-sama berbaring di atas ranjang, mas Haris juga sudah menindih ku, menguasai semua yang ada pada tubuhku.


"Mas, apa boleh lampunya dimatikan?" pintaku hingga menghentikan gerak tangannya yang hendak melepaskan bajuku.


"Baiklah," jawab Mas Haris singkat, dia akhirnya turun dan membuat lampu utama kamar ini matti. Yang tersisa hanyalah lampu temaram yang ada di sudut ruangan..


Setelahnya Mas Haris kembali menghampiri aku dan berada di posisinya semua, duduk diantara kedua kakiku yang sudah dia buka. Tanpa banyak kata dia pun melepaskan bajunya sendiri, meski samar-samar namun aku bisa melihat jelas tubuhnya tersebut. Membuatku makin gugup. Selesai dengan dirinya sendiri, mas Haris pun melepaskan bajuku juga.


Ku tepis semua rasa malu dan membiarkan mas Haris melihat semuanya.


Malam ini akhirnya kami menyatu untuk yang kedua kali, di awal rasanya sangat sakit, namun lambat Laun aku menemukan kenikmatan yang tak terkira.


Dulu aku tidak sempat mengingat bagaimana rasanya penyatuan seperti ini, tapi sekarang aku seolah tak bisa melupakannya.


Bukan hanya Mas Haris, tapi aku juga sampai mengeluarkan keringat.


Entah di jam berapa akhirnya kami berhenti, menikmati nafas yang sama-sama terengah.


Diantara sunyinya kamar ini, tiba-tiba ku dengar kata yang membuatku tergugu.


"Aku mencintaimu Anindya, sejak dulu hingga sekarang," kata Mas Haris.