Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
6 : Asih


Asih masih belum bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi. Karena tak jauh dari jembatan Sungai Merah dan diketahui masyarakat setempat, dijaga oleh hantu wanita bergamis merah, ada kerajaan ikan yang benar-benar sulit ia mengerti. Lebih sulit dimengerti lagi, Asih merupakan generasi terakhir dari pimpinan yang sebelumnya.


Suasana di sana sangatlah indah. Benar-benar indah meski Asih sudah beberapa kali mengerjapkan matanya, atau malah menab*ok pipinya sendiri. Sempat berharap semuanya hanya mimpi, tapi pada kenyataannya, apa yang Asih alami memang nyata. Kini, ia tengah didandani, memakai mahkota berikut sederet perlengkapan layaknya perhiasan, hingga wujudnya layaknya ratu ikan. Iya, tubuh bagian bawahnya memang ikan, tapi wajahnya benar-benar cantik. Saking cantiknya, Asih sempat tidak mengenali wajahnya sendiri.


Di cermin besar dengan ukiran kayu berwarna keemasan, Asih terdiam mematut pantulan bayangannya. Sesekali, wujud lamanya hadir dan ia sungguh rindu masa-masa itu. Sebab meski ia hanya seorang pembantu, Asih sangat menikmati hidupnya itu. Belum lagi, berbeda dari kebanyakan, Asih masih bisa menjalani aktifitas normal layaknya manusia bebas pada kebanyakan. Semacam sekolah, kuliah, dan acara lain termasuk mengaji dan beribadah, masih bisa Asih jalani, asal Asih tetap menjalankan tugasnya.


Semua biaya itu dibiayai oleh keluarga Aqwa, termasuk biaya hidup Asih lainnya. Hanya saja, Asih tipikal orang yang tahu diri dan tidak pernah berfoya-foya. Sementara ketika mengurus pengambilan rapot, jika memang orang tua maupun kakek nenek Aqwa sedang di kampung, mereka lah yang akan mengambilkannya untuk Asih. Atau malah jika hanya Aqwa yang sempat, justru Aqwa yang akan melakukannya karena hubungan mereka memang sedekat itu.


“Kamu tahu kamu hampir mati? Berurusan dengan hantu penunggu sungai ini membuatmu nyaris mati termasuk sekarang ini. Sementara sehebat-hebatnya kamu, kamu hanya manusia biasa jika kamu sudah berurusan dengan air,” ucap pria yang dari awal sudah terlalu banyak bicara kepada Asih. Ia merupakan panglima di kerajaan sana, dan selama Asih tidak di sana, berperan menjadi pemimpin sementara.


Bukannya fokus pada panglima yang sedang berbicara dengannya, di tengah keadaannya yang tidak berdaya, Aqwa justru terusik pada kehadiran sosok cantik yang dikawal oleh banyak pasukan mirip ikan maupun duyung.


“Sebenarnya ini aku di mana? Kenapa dia ... wanita itu ... dia tidak asing. Dia mirip seseorang. Ini nyata, atau memang aku sudah ... mati?” pikir Aqwa menatap serius. Aqwa merasa tak berdaya, sangat tersiksa. Sekujur tubuhnya terasa sakit semua. Namun ketika Aqwa mengawasi sekitar, ia menyaksikan banyak air sekaligus gelembung. Ia seolah berada di aquarium berukuran sangat besar. Meski setelah Aqwa mengawasi suasana dengan lebih saksama, di sana mirip sebuah istana.


“Mah ... Pah ... Kek ... ya Allah ... rasanya aku sudah enggak sanggup. Sesakit ini, sesesak ini ...,” batin Aqwa yang kemudian berpikir, apakah kini dirinya tengah menghadap ajal.


Menyaksikan Aqwa yang perlahan meringkuk, pemuda itu kesakitan, tubuhnya gemetaran dan perlahan menggeliat, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Asih. Asih segera menghampiri, merengkuhnya dan lagi-lagi memangku Aqwa. “Kalian apakah dia?!” Asih benar-benar marah.


“Dia akan mati karena memang sudah seharusnya dia mati!” yakin panglima.


Mendengar itu, ketakutan Asih membuncah. Asih menggeleng, menepis anggapan sang panglima. “Biarkan kami pergi. Dia butuh pengobatan medis!”


“Dia harus menikah denganmu. Untuk yang terakhir kalinya, pilih dia mati dan dia akan lenya*p dari hadapanmu. Atau, menikahinya dan dia akan tetap hidup, selain dia yang tetap bisa kembali ke dunianya dengan selamat!” ucap sang panglima.


Pilihan yang Asih dapat, masih saja membuatnya gamang. Padahal sebelumnya, ia sudah dihadapkan pada pilihan yang intinya nyaris sama. “Apa jaminannya? Apa yang bisa kamu berikan agar aku bisa percaya!”


“Apa itu? Katakan padaku. Aku benar-benar ingin tahu itu!” sergah Asih benar-benar tak sabar. Apalagi di pangkuannya dan sampai ia dekap, Aqwa makin tak berdaya.


“Biarkan dia menikah dengan putri saya!” tegas sang panglima.


Tak berselang lama, seorang wanita cantik dan kiranya sebaya dengan Asih, mendadak muncul dari balik punggung sang panglima. Tak beda dengan Asih, wanita setengah ikan itu juga cantik, meski dandanan si wanita tak lebih berkelas dari Asih. Sosok itu tak sampai memakai mahkota. Tak ada juga perhiasan mencolok yang menghiasi penampilannya. Tak kalah mencolok, siripnya juga tak sampai bercahaya keemasan layaknya Asih. Karena dari semuanya, penampilan Asih memang paling berbeda. Seolah, Asih memang memiliki kuasa sekaligus tahta jauh lebih tinggi dari mereka yang ada di sana.


“Mas, ... buka mata Mas. Menikahlah denganku, agar Mas bisa pulang ke keluarga Mas. Agar Mas bisa kembali hidup normal. Anggap saja aku sangat mencintai Mas. Iya, aku bersumpah akan melakukan apa pun asal Mas baik-baik saja!” sergah Asih lirih tak mau Aqwa justru dinikahkan dengan wanita lain yang bahkan belum ia ketahui arah tujuan apalagi maksudnya.


Andai memang sampai harus terjadi hal di luar nalar lainnya, Asih merasa lebih baik dirinya lah yang terlibat secara langsung.


“Biarkan aku mati saja, asal kamu kembalikan Asih ke daratan. Biarkan dia pulang karena alasanku ke sini juga karenanya,” ucap Aqwa yang sekadar membuka matanya saja sudah tidak sanggup.


Hati Asih sudah langsung terenyuh hanya karena mendengar jawaban Aqwa. Bukan semata karena menjadi setengah ikan, membuatnya memiliki rasa cinta kepada Aqwa. Melainkan karena pemuda itu malah lebih mementingkan keselamatannya. Aqwa mementingkan keselamatan Asih!


“Bukan maksudku melukaimu, tapi pada kenyataannya, dunia kita berbeda. Jika kamu menginginkan nyawa sekaligus jiwaku untuk keabadian dirimu ... ambil saja. Aku ikhlas. Namun sebelum itu, pastikan, kembalikan Asih ke daratan. Pastikan juga dia tidak diganggu hantu penunggu jembatan lagi!” tegas Aqwa.


Butiran emas selaku hasil dari mata Asih, silih berganti berjatuhan. Semuanya menatap kebersamaan Asih dan Aqwa dengan tatapan tak percaya. Keduanya layaknya sepasang kekasih yang sangat saling mencintai. Hanya saja, meski beberapa dari mereka sampai menitikkan air mata, air mata mereka hanya berupa batu kerikil biasa.


“Semoga, calon ratu tidak mau menikah dengan pemuda sangat tampan ini,” doa Lumut, putri dari sang panglima yang memang sudah jatuh cinta kepada Aqwa. Kenyataannya yang tidak memiliki kemampuan sekaligus kekuatan istimewa, membuatnya tidak bisa mendengar obrolan lirih antara Asih dan Aqwa. Lain dengan Asih yang bisa mendengar isi hatinya.


Bahkan karena isi hati Lumut juga, Asih yang tak mau Aqwa diapa-apakan oleh wanita lain, berkata kepada Aqwa. “Anggap saja aku sangat mencintai Mas. Aku akan melakukan apa pun untuk Mas, termasuk mengembalikan Asih ke daratan, asal Mas menikah denganku sekarang juga. Mas beneran enggak boleh mati karena orang tua dan keluarga Mas, termasuk juga, Asih, sudah menunggu Mas. Bahkan Asih juga akan mati, jika Mas memilih mati!”


“Wanita ini ...?” batin Aqwa yang perlahan menatap Asih. Ia menemukan bayang-bayang wajah Asih yang berkerudung, di wajah sosok ikan cantik yang tengah mengajaknya bernegosiasi.