
Sssrrrrpppp!
Darah segar mengalir dari pinggang kanan Asih, tak lama setelah mata pedang Rajaraksa menyayat bagian sana.
Detik itu juga, kehidupan seolah berhenti berputar, mati. Semuanya terkejut khawatir sekaligus takut, kecuali Rajaraksa yang seketika tersenyum puas penuh ketenangan.
Kedua mata Rajaraksa menatap penuh kemenangan darah segar yang mengalir dari pinggang kanan Asih. Dan ketika akhirnya waktu kembali berputar, ketakutan Asih benar-benar menjadi nyata.
“Darah keabadian!” ucap Rajaraksa menatap antusias sisa darah Asih yang menghiasi pedangnya.
Asih menggeleng tegas di tengah ketakutan yang membuatnya gelisah. “J-jangan sampai dia mengonsumsi bahkan sekadar mencicipi darahku!” batinnya ketar-ketir.
Kenyataan Rajaraksa yang berusaha menj*ilat secara langsung darah Asih di pedangnya, membuat Asih maupun Aqwa sekeluarga berputar lebih lambat.
Di tengah ketakutannya, Asih masih berusaha melakukan pencegahan agar sang raja gadungan itu tak sampai sekadar mencicipi darahnya. “Bantu Mamah!” batinnya sambil mengusap perutnya yang memang jadi tenang.
Asih juga heran, kenapa yang di perutnya jadi diam. Kenyataan diam yang juga jadi tidak membantunya dalam segi kekuatan.
“Bismillahirrahmanirrahim ...!” lirih Asih yang kemudian mengeluarkan busur panah dari kedu puluh satu tangannya.
Masing-masing tangan Asih bekerja sama, membuat satu persatu anak panah yang mengobarkan api, menyerb*u Rajaraksa yang masih memamerkan keberhasilannya mendapatkan darah Asih.
Namun, selain Rajaraksa yang menghindari setiap anak panah dengan sangat santai, darah Asih yang ada di pedang silu*man ular itu sudah berhasil dicicipi! Rajaraksa melakukannya secara langsung dengan lidahnya, menjil*atnya penuh kemenangan.
“Hahahahahaha!” Tawa Rajaraksa menggema dan terdengar sangat menakutkan, mengalahkan suara para anji*ng di pinggir jembatan.
Suara anj*ing yang makin tak terkendali bersama tubuh Rajaraksa yang membesar jadi tiga kali lipat dari ukuran normalnya.
“Akhirnya, yang dinanti-nantikan. Setelah sekian lama, berpuluh-puluh tahun menunggu, akhirnya aku mendapatkan keabadian. Bukan hanya dari Raja dan Ratu beserta putri ikan, tapi juga dari keturunan putri ikan yang sakti! Hahaha!” ucap Rajaraksa menggema.
“Hanya karena mencicipi sedikit darahku, dia bisa mendapatkan semua kekuatan, bahkan keistimewaan dalam diriku?” pikir Asih menatap tak percaya Rajaraksa. Kemudian, tatapannya turun pada luka di pinggang kanannya.
Asih sudah mengusap luka di pinggang kanannya, tapi mungkin efek Rajaraksa sudah menyerap sebagian besar kekuatan sekaligus keistimewaan dalam diri Asih, luka tersebut tetap tidak ada perubahan. Tak kalah mencolok, bagian di sana juga terasa sangat sakit. Selain itu, Asih juga heran, kenapa janin di perutnya mendadak tenang. Meskipun masih beberapa kali menendang, itu hanya tendangan wajar.
“Sudah, Yut! Dilepas saja! Sebelum semuanya benar-benar fatal!” sergah opa Helios tak sabar. Ia ketakutan, dan segera memegangi sebelah tangan Awqa, yang punggungnya juga sudah turut ia rangkul.
“Apanya yang dilepas ...?” lirih Aqwa kebingungan. Ia menatap wajah khususnya setia mata keluarganya di sana, penuh tanya. Semuanya menatapnya iba. Hanya orang tuanya yang tampak sangat ketakutan mengkhawatirkannya.
Terakhir, tatapan Aqwa berhenti kepada kedua mata sang kakek buyut. Pria itu kembali meraih tangan kanannya, kemudian memijatnya. Detik itu juga, tubuh Aqwa seolah dipanggang. Buih keringat menjadi sibuk bermunculan dari sekujur tubuhnya. Selain itu, Aqwa juga merasa lemas luar biasa.
Lagi-lagi ibu Ryuna menangis. Ibu Ryuna meronta-ronta kepada suaminya. “Itu anakku diapain, Pah!” Ibu Ryuna terlalu takut putranya kenapa-kenapa.
“Mas Aqwa ... apa yang terjadi dengan Mas Aqwa?” batin Asih sangat khawatir. Dadanya bergemuruh karena terlalu mengkhawatirkan sang suami.
Aqwa merasa, seolah ada yang ditarik paksa dari tubuhnya dan itu perlahan menghasilkan cahaya terang yang seketika terhubung ke perut Asih. Namun, keadaan tersebut sampai membuatnya sulit membedakan antara kenyataan maupun halusinasi. Aqwa merasa nyaris pingsan bahkan sekarat.
Bersama cahaya dari tubuh Aqwa yang terhubung ke perut Asih, perut Asih yang jadi ikut bercahaya juga seolah menjadi pusara yang menyedot cahaya dari tubuh Aqwa. Selain itu, jabang bayi di perut Asih juga kembali sibuk menendang. Tubuh Asih sampai melesat ke depan, hingga Asih berakhir di hadapan Rajaraksa. Jarak mereka kembali dekat, tak ada dua meter.
Lama-lama, tubuh Asih menjadi memancarkan cahaya. Cahaya sangat terang yang perlahan menjadi kobaran api. Selain itu, Asih juga menyadari ukuran tubuhnya yang makin lama makin besar. Besarnya hampir sama bahkan akhirnya lebih besar dari tubuh Rajaraksa.
“Apa ini ...?” lirih Rajaraksa belum apa-apa sudah ketakutan. Awalnya, ia hanya merasa silau, lama-lama sangat silau, dan perlahan ia juga merasa sangat panas.
“Ini ... ini luar biasa ....” Asih mengawasi perubahan dirinya. Ia menjadi sangat menakjubkan. Tubuhnya memang mengobarkan api, tapi penampilannya benar-benar cantik. Mirip ratu pantai fenomenal.
“Aduh ...,” refleks Asih kewalahan menahan tendangan dari yang ada di dalam perutnya. Selain itu, tubuh Asih juga seperti akan meledak. Alasan yang juga membuatnya berteriak.
Seperti yang Asih rasa, Ratu ikan itu memang meledak. Ledakan yang menyemburkan api. Bukan hanya Rajaraksa yang merasakan dampaknya, tapi Aqwa sekeluarga.
Rajaraksa berteriak kesakitan karena terbakar. Tubuh pria itu terlahap api dari ledakan Asih.
Asih yang masih berteriak di tengah kenyataan kedua matanya yang terpejam, teringat anugerah yang kakek buyut berikan. Mengenai orang tuanya yang menitipkannya kepada opa Helios, kemudian adegan dilanjutkan dengan kedua orang tuanya yang bertemu dengan Lumut dan Rajaraksa. Namun karena pertemuan tersebut pula, orang tuanya berakhir merega*ng nyawa. Terakhir, bersama Aqwa yang akhirnya terjatuh pingsan dan nyaris lolos dari kedua tangan opa Helios, tubuh Asih yang kembali ke ukuran normal juga jatuh ke sungai.
Asih masih menjelma menjadi ratu ikan yang sangat cantik, dengan mahkota emas khas ratu pantai yang sangat menawan. Namun, tak beda dengan Aqwa, kedua matanya juga terpejam.