
Demi menemukan sisa tulang pak Sanusi, pencarian sampai dilakukan ke sungai. Pak Kim, opa Helios, dan seorang santri yang mereka bawa, sampai turun ke pinggir sungai.
Waktu sudah makin malam, sementara opa Helios merasa tidak baik-baik saja. “Mas, firasat Papah enggak enak, Mas!” sergahnya sembari menepi dari sungai yang sudah membuat sebagian pakaian bahkan tubuhnya basah.
Pak Kim yang sudah turun ke sungai lebih dalam, kedua lututnya sudah terendam, berangsur menerima uluran tangan kanan seorang santri dan kiranya sebaya Aqwa.
“Hati-hati, Pak!” ucap santri yang sampai menyampirkan sarungnya ke bahu.
“Iya, Mas! Terima kasih banyak!” balas pak Kim tak kalah santun.
“Kita sudah mencari selama ini. Namun tampaknya memang sudah ada yang membersihkan meski masyarakat sekitar mengaku tidak tahu-menahu. Bisa jadi,” ucap opa Helios.
“Memang sudah direncanakan, sudah diatur sedemikian rupa oleh bangsa ikan,” sergah pak Kim makin dongkol saja lantaran upaya mengakhiri teror benar-benar dipersulit.
“Dia bukan bangsa ikan, Mas. Dia hanya penj*ajah yang numpang hidup dari kaum ke kaum. Segala cara mereka lakukan karena mereka hidup dengan cara se*sat layaknya dukun. Jadi, alangkah cocoknya jika mereka bekerja sama dengan pria ses*at sekelas pak Sanusi yang sekarang jadi hantu kepala di sini!” jelas opa Helios sengaja mengoreksi anggapan putranya.
Santri yang ikut dan bernama Mas Tri, terbengong-bengong menyimak. Meski sekelebat lari, sudah langsung mengusiknya. Bukan penampakan, tapi justru an*jing berwarna hitam dan satunya lagi berwarna agak oren.
“Astagfirullah ... Mbah, Pak, punten. Itu anj*ing yang kita cari-cari bukan?” ucap mas Tri.
Lebih mengejutkan lagi, jumlah anj*ing yang datang tak hanya dua. Bina*tang berkaki empat itu terus berdatangan, padahal awalnya, dua di antaranya yang berlari cepat dan langsung mengusik mas Tri, sempat pergi.
Kenyataan tersebut sudah langsung membuat pak Kim maupun opa Helios bertatapan. Keduanya menyikapi dengan serius. Bedanya, ketika pak Kim bertanya-tanya alasan tersebut ada. Opa Helios yang memang memiliki indra ke enam, sudah langsung melongok ke arah jembatan sungai Merah.
Walau jaraknya sekitar dua puluh lima meter dari keberadaannya, opa Helios sudah langsung melihat rombongan keluarganya. Asih yang memimpin langkah ia lihat dikendalikan oleh kakek buyutnya.
“Innalilahi ... itu mereka mau ngapain?” refleks opa Helios.
Akan tetapi, kedua orang di sana malah kebingungan. Baik pak Kim maupun maa Tri, berusaha melihat apa yang pak Helios lihat. Namun, mereka tak melihat apa pun. Walau di mata para anj*ing, mereka melihat semuanya. Alasan yang membuat mereka menggonggong, berlarian mengejar rombongan yang Asih ketuai.
“Mas ... Mas! Ayo cepat kita ke sana, Mas!” sergah opa Helios.
Berbekal kayu untuk membantunya jalan di pinggir sungai serta tanggul sana yang agak licin, opa Helios melangkah. Pak Kim dan mas Tri juga buru-buru menyusul. Malahan pak Kim sengaja menugasi mas Tri secara khusus untuk membantu opa Helios. Meski yang opa Helios mau justru sang putra.
“Sini, Mas, sini!” sergah pak Helios benar-benar tak sabar.
“Maksud Papah, sebenarnya di depan ada apa, Pah?” sergah pak Kim makin bertanya-tanya. Namun, kesalnya sang papah juga sudah membuatnya tak kalah kesal sekaligus gelisah.
“Pasti sudah ada sera*ngan dari pihak hantu kepala. Korban-korban yang mereka peralat menye*rang ke rumah. Kalau kamu bisa lihat, itu Asih dirasuk*i kakek buyut, mas Aqwa dan istrimu menyusul di belakang, sementara di belakang mereka, leluhur kita menya*ndera puluhan korban hantu kepala!” jelas opa Helios dan sudah langsung membuat pak Kim panik sepanik-paniknya.
“Aduh, kepala Papah sudah langsung pusing kalau gini caranya!” keluh pak Helios lagi.
Sepanjang jalan menuju jembatan sungai merah yang sepi, rombongan Aqwa dikejutkan oleh para anj*ing yang sudah langsung mengiringi langkah Asih. Mereka yang jumlahnya belasan dan awalnya lari, benar-benar mengawal langkah Asih. Asih yang masih dikuasai kakek buyut, tak mempermasalahkan kenyataan tersebut.
Perang akbar seolah benar-benar akan berlangsung. Sebentar lagi, dipimpin langsung oleh kakek buyut dalam wujud Asih. Namun tiba-tiba saja, Aqwa yang telanjur takut sengaja mempercepat langkah tanpa melepaskan gandengannya terhadap sang mamah. Hingga yang ada, ibu Ryuna juga turut lari mengimbangi.
Tangan Aqwa yang tidak menggandeng tangan ibu Ryuna, berangsur meraih sebelah tangan Asih. Tangan yang sempat sering ia genggam erat itu, kini terasa sangat dingin sekaligus basah. Alasan yang juga membuat air mata Aqwa berjatuhan tanpa bisa dikendalikan. Sesak pun mendadak menguasai dada Aqwa yang juga menjadi terkungkung kesedihan.
“Yut, tolong jangan apa-apakan istriku!” mohon Aqwa ketika akhirnya tatapan mereka bertemu, setelah sang kakek menatapnya. “Aku marah, ... aku akan sangat marah, jika Buyut sampai mengorbankan istri dan anakku hanya untuk melindungi aku!” lanjutnya, tapi kali ini, suaranya tertahan di tenggorokan.
Detik itu juga, langkah Asih terhenti. Asih menatap Aqwa dengan tatapan berat, tapi terkadang juga akan menepis tatapan Aqwa. “Semuanya akan baik-baik saja, Mas. Biar teror ini berakhir. Biar tak ada lagi korban-korban yang berjatuhan,” yakinnya masih dengan suara kakek buyut.
“Bukan berarti istri dan calon anakku dikorbankan, Yut! Enggak! Aku enggak rela. Dan aku enggak akan ikhlas! Buat apa aku diberi keistimewaan yang bisa menyelamatkan nyawa orang lain, atau setidaknya meringankan beban orang-orang, sementara karena aku, aku justru harus mengorbankan istri dan anakku? Aku cinta banget ke Asih, Yut! Aku benan enggak bisa tanpa Asih!” tegas Aqwa lagi dan kali ini, ia sampai menatap tajam kedua mata Asih.
Selain air matanya yang sibuk berlinang, Aqwa juga sampai ingusan. Ibu Ryuna makin tidak tega menyaksikannya. Apalagi jika apa yang Aqwa khawatirkan justru terjadi.
“Papahnya Mas Aqwa dan opanya Mas Aqwa sedang mencari cara, Yut. Termasuk hadirnya anj*ing-anjing ini yang sepertinya sudah memakan tubuh dukun yang jadi hantu kepala!” tegas ibu Ryuna.
Di jalan yang benar-benar sepi sementara sekitar lima meter lagi merupakan jembatan sungai merah, perdebatan itu terjadi.
“Yut!” teriak opa Helios.
Dari tanggul sebelah sungai, opa Helios masih melangkah buru-buru dikawal oleh pak Kim maupun mas Tri.
Kali ini, rombongan Aqwa sudah langsung bisa mendengar teriakan opa Helios. Mereka bahkan sudah langsung bisa menemukan opa Helios yang tengah melangkah buru-buru menyusul mereka.
Lantas, apa yang akan terjadi? Benarkah mengo*rbankan Asih dan calon bayi yang sedang dikandung menjadi satu-satunya cara untuk mengakhiri teror tak kasatmata yang menimpa mereka dan telanjur menelan banyak korban?